Tiga Srikandi Pekalongan Masuk Pedalaman Menyumbung: Menikmati Ketapang dengan Open House dan Tempoyak (2)

0
232 views
Rombongan kami bersama Mgr. Pius Riana Prapdi melakukan turne masuk pedalaman hutan Menyumbung di Keuskupan Ketapang, Kalbar, 27 Desember 2018-3 Januari 2019. (Ist)

BANDARA Rahadi Oesman di Kota Ketapang di Kalbar bukanlah lapangan udara ukuran besar, tapi berimbanglah dengan jumlah penumpang yang dilayani. Maka begitu mendarat, kami sempat berfoto-foto sambil mengurus bagasi.

Perjalanan dari bandara ke Keuskupan Ketapang hanyamakan waktu lima belas menit. Kami dijemput oleh Frater Erfan dari Keuskupan Agung Semarang yang sedang bertugas  menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Seminari Menengah St. Laurentius Ketapang.

Tanggal 26 Desember 2018 lalu itu masih merupakan hari kedua acara open house yang tengah digelar Bapa Uskup Ketapang, Mgr Pius Riana Prapdi, guna menyambut para tetamu. Lengkaplah acara penyambutan kami bertiga karena di Wisma Keuskupa tersedia aneka jenis makanan plus atmosfir keramahtamahan keluarga besar anggota Wisma  Keuskupan Ketapang di Provinsi Kalbar.

Gapura di halaman Wisma Keuskupan Ketapang di samping bangunan Gereja St. Gemma Galgani Paroki Katedral Ketapang.

Augustinian Spirituality Center (ASC)

Sore itu juga, kami diantar menuju Susteran OSA, tempat kami menginap selama di Ketapang. Open house di susteran OSA juga sedang berlangsung.

Banyak tamu yang hadir antara lain dari kalangan perangkat pemerintahan desa, karyawan perusahaan swasta dan PNS, dan tamu-tamu dari luar yang asalnya penduduk setempat. Kebiasaan menggelar open house di Susteran OSA maupun di Wisma Keuskupan Ketapang itu selalu berlangsung setiap tahun; mulai di hari pertama Natal hingga hari ketiga.

Wajah bagian depan Gereja Katedral, Wisma Keuskupan Ketapang.

Makanan khas: tempoyak

Sejak pertama kali tiba di Ketapang, kami langsung dikenalkan dengan makanan khas bernama tempoyak. Ini merupakan hasil olahan dari buah durian.

Panen raya durian tahun 2018 menyebabkan buah durian tumpah ruah. Tidak ada durian hasil peraman. Semuanya durian itu jatuh dari pohon sudah masak  sehingga rasanya pasti enak.

Di Ketapang, harga satu durian rata-rata Rp 5.000 per buah, sedangkan di desa hanya senilai Rp 1.000/buah. Bandingkan dengan di Jawa yang harga per buahnya bisa mencapai puluhan ribu rupiah.

Tempoyak adalah daging buah durian yang difermentasi dengan garam sehingga bisa bertahan berbulan-bulan. Selain digoreng, masyarakat lokal lebih sering menggunakannya untuk campuran masakan. Hampir semua masakan bernuansa tempoyak. Boleh dikatakan belum sampai Ketapang, jika belum makan tempoyak.

Makan tempoyak di ruang makan di Biara Induk Kongregasi Suster St. Augustinus dari Kerahiman Ilahi (OSA) di Kota Ketapang.
Makan durian khas produk Ketapang di Kalbar.

Kaya sumber alam

Kekayaan bumi kalimantan Barat sungguh besar. Di bidang pertambangan dihasilkan boxit, emas, pasir besi. Di bidang perkebunan banyak dijumpai tanaman karet dan sawit.

Sementara itu, banyak penduduk bertani sarang burung walet. Rumah burung bertebaran dimana-mana. Tentu saja, kekayaan alam yang berlimpah ruah tersebut bisa berdampak positif maupun negatif bagi masyarakatnya.

Enam jam di alur sungai ke Menyumbung

Sungai dengan panjang kurang lebih 200 kilometer –tidak termasuk anak-anak sungainya- itu hadir membelah Kota Ketapang sebelum sampai muaranya di Laut China Selatan. Pada waktu air pasang kedalaman bisa mencapai 2,5 meter dan merupakan sarana utama transportasi air dari Ketapang ke permukiman-permukiman yang ada di sepanjang sungai sampai ke bagian hulu atau pedalaman.

Pada tanggal 28 desember 2018 lalu, rombongan turne Bapak uskup ke pedalaman Menyumbung  dimulai dengan menggunakan speed boat milik angkutan umum.

Kami berfoto sejenak di jalan di balik dermaga Sandai.

Rombongan mampir di Paroki Sandai untuk makan siang setelah empat jam perjalanan dengan speed boat. Dari Sandai, perjalananan dilanjutkan dengan speed boat milik Paroki Menyumbung dalam dua jam perjalanan menghulu.

Totalnya, Ketapang-Menyumbung yang berjarak kurang lebih 150 km perjalanan air ditempuh dalam waktu 6 jam.

Sore hari,  rombongan  kami berhasil tiba di Paroki Menyumbung dan kami disambut oleh Romo Widhi CP, Pastor Paroki Menyumbung. (Bersambung)

Anak-anak sudah terbiasa mandi di sungai.
Perjalanan panjang menyusuri sungai selama enam jam dari Kota Ketapang menuju Sandai dan kemudian lanjut ke pedalaman Menyumbung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here