Traveling Dua Pekan ke Thailand: Pesona Chiang Mai (2)

0
140 views
Jalanan sedikit menanjak di Chiang Mai arah Doi Suthep. (Mathias Hariyadi)

SEBAGAI salah satu destinasi wisata andalan Thailand, Chiang Mai telah begitu memikat banyak orang. Ini bisa sangat dimengerti, karena di dalam ‘pusat kota’ terdalam kawasan kota lama yang biasa disebut Old City di mana puluhan objek wisata tersedia di situ.

Tiga hal peting yang menurut saya sudah selalu akan memicu ketertarikan wisatawan asing dan domestik terhadap “pesona” Chiang Mai adalah sebagai berikut: 

Tidak ada kemacetan lalu lintas

Bangkok itu “biangnya” lokasi kemacetan lalu lintas. Sementara, di semua akses jalan di Chiang Mai tidak pernah terjadi kemacetan lalu lintas.

Kalau pun itu sampai terjadi, seperti yang saya alami di Chiang Mai di petang hari tanggal 20 Desember 2018 lalu, kemacetan singkat terjadi di “mulut” bandara internasional Chiang Mai.

Itu pun hanya berlangsung tidak lebih dari tiga menit di perempatan jalan menuju dan dari akses utama keluar masuk bandara. Selebihnya, eng ing eng … laju motor dan mobil bisa bergerak leluasa di sepanjang jalan di Chiang Mai.

Siang hari sejuk, malam hari terasa dingin

Temperatur udara menjadi penting bagi saya yang suka berwisata mandiri alias mengatur suka-suka sendiri rencana perjalanannya. Karenanya, jalan kaki menyusuri gang-gang kecil dan syukur-syukur bisa menemukan destinasi wisata di situ menjadi hal penting untuk pertimbangan.

Jalanan di kota wisata Chiang Mai dengan suhu cenderung sejuk dan langit cerah bebas polusi. (Mega Sanjaya)

Jangan sampai kepanasan, meski topi dan kacamata hitam selalu tersedia di ransel. Dengan suhu udara berkisar 17-25 C di siang hari, maka jalan kaki tetap menjadi pilihan menarik guna menghemat biaya perjalanan.

Malam hari di bulan Desember, temperatur bisa anjlok sampai 10-15 C sehingga perlu kemul agar tidur tetap bisa pulas.

Traveling Dua Pekan ke Thailand: Mana Lebih Utama, Bangkok atau Chiang Mai? (1)

Spot wisata bertebaran di Old City

Mengapa banyak wisatawan menyukai Chiang Mai?

Itu pertanyaan yang selalu mengisi ruang hati saya. Banyak informasi sudah saya ‘lahap’ melalui berbagai literatur.  Begitu sampai menginjakkan kaki di Chiang Mai, menjadi nyata bahwa keterangan di banyak literatur itu memang benar adanya.

Berbagai tempat wisata itu bertebaran bak cendawan di musim hujan di kawasan Old City.

Banyak warung dan kafe berbagi menu dengan harga murah

Ini yang tidak lazim terjadi di kawasan wisata “kelas internasional”. Chiang Mai menyediakan aneka warung, resto, dan kafe lengkap dengan berbagai menu makan-minum dan kategori “kelas bawah” tapi tanpa mengurangi citarasa dan kwalitas sajian makan-minumnya. Semuanya tetap dikemas secara rapi dan apik.

Lokasi makan-minum sembari nongkrong itu nemplok di banyak tempat: di jalan-jalan utama dan bahkan juga di gang-gang sempit.

Resto bebek panggang dan ayam Hainan di pinggiran jalan. (Mathias Hariyadi)

Dari sekian pesona lokasi makan-minum dengan menu lokal dan asing ini, yang paling menarik wisatawan tentu saja harganya sangat-sangat terjangkau. Boleh dibilang murah-meriah. Bahkan, harga makan-minum di banyak lokasi ini terbilang lebih murah dibanding di Jabodetabek.

Tidak ada “pengganggu” jalanan

Sepanjang sepekan di Chiang Mai, baru dua hari terakhir saja kami “menemukan” pengemis ada di trotoar jalanan tidak jauh dari Chiang Mai’s Gate. Di jalanan lainnya tidak ada tuh yang namanya pengemis.

Angkutan umum jenis tuktuk banyak dijumpai di jalanan Chiang Mai. (Mega Sanjaya)

Lebih lanjut, juga tidak ada pengamen yang tiba-tiba suka mendatangi Anda yang tengah makan-minum di resto atau kafe. Tentang “penganggu” jalanan ini pun, saya hanya menemukan di lokasi gardu pandang di ketinggian Chiang Mai arah Doi Suthep.

Traveling Dua Pekan ke Thailand: Mana Lebih Utama, Bangkok atau Chiang Mai? (1)

Pengamen itu pun tidak datang “menjumpai” Anda sembari menengadahkan topi atau kontainer lain, melainkan hanya standing by di sebuah tempat. Kalau Anda ingin berderma atas sajian lagu-lagu, maka cukuplah Anda melemparkan sejumlah mata uang Thai Baht ke atas selendang yang tergelar di depannya.

Sikap pengamen ini pun sangat ‘santun’ untuk ukuran peradaban mana pun: ia hanya menyanyi dan memang hanya menyanyi, sambil sesekali melempar senyum kepada para wisatawan. Tidak terjadi sekalipun dia sampai “menodong” wisatawan agar “berderma” dengan paksaan.

Transportasi reguler banyak dengan harga pas

Chiang Mai amat “memanjakan” wisatawan akan kebutuhan mereka menjangkau tempat-tempat yang tidak mungkin “ditemukan” dengan jalan kaki.

Moda tranportasi kategori angkot tersedia di mana-mana dan melalui jalan-jalan protokol dan non utama. Harganya juga dipatok pas alias jauh-dekat sama saja yakni 30 Thai Baht.

Patokan harga ini menurut saya penting. Ini buat meyakinkan wisatawan asing bahwa mereka tidak akan pernah digetok harga oleh supir angkot. Pelayanan pengemudi angkot terhadap wisatawan asing juga prima. Mereka berlaku santun dan sangat sopan terhadap setiap “orang asing” yang datang ke Chiang Mai.

Angkot merah dengan harga pas untuk destinasi jauh-dekat senilai 30 Thai Baht di Chiang Mai. (Mega Sanjaya)

Moda transportasi lainnya adalah taksi argo meter dan tuktuk, semacam bajak namun dengan bodi lebih bongsor dan derungan mesin yang lebih “halus”.

Khusus untuk tuktuk, wisatawan lokal dan asing diimbau agar terlebih dahulu nego harga dengan pengemudi agar terjadi kesepakatan harga jasa guna menjangkau lokasi tujuan.

Meski di sini terjadi nego harga, namun begitu terjadi kesepakatan harga, maka yang saya lihat adalah satu hal ini: perilaku santun dan sopan tetap ditunjukkan oleh para sopir tuktuk ini  selama melayani tamunya pergi sana-sini.

Dengan ini, terjadilah apa yang ingin saya sebut “rasa aman” bisa tercipta di hati para wisatawan asing, meski yang hanya bisa mereka lakukan adalah “bahasa Tarzan” untuk berkomunikasi dengan mereka.

Maklumlah, banyak juga pengemudi angkot dan tuktuk tidak bisa bahasa asing, termasuk bahasa Inggris. (Berlanjut)

Traveling Dua Pekan ke Thailand: JJ Guest House, Penginapan Murah di Chiang Mai (3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here