Traveling Dua Pekan ke Thailand: Taxi Meter dengan Harga Pas ke Old City of Chiang Mai (5)

0
119 views
Lokasi ngetem taxi meter alias taksi argo di areal parkiran Bandara Udara Internasional Chiang Mai, Thailand. (Mega Sanjaya)

MENCARI moda transportasi murah meriah, cepat, aman, dan lancar dalam perjalanan di luar negeri segera setelah keluar dari exit gate bandara menjadi kebutuhan mendesak. Itu pula yang segera saya lakukan setelah rombongan berhasil “menemukan kembali” bagasi mereka yang sempat “hilang” karena diturunkan di jalur conveyor belt yang lain.

Di Bandara Internasional Chiang Mai, di sejumlah sudut exit gate –baik terminal kedatangan domestik dan apalagi kedatangan internasional—sejumlah desk penyedia jasa layanan transportasi ke kawasan down town tersedia di sana.

Yang menarik bagi saya, bukan soal jumlahnya yang beragam, melainkan bagaimana operator desk layanan tersebut memperlakukan para wisatawan dengan “ramah”.

Mereka merasa tidak perlu “berteriak-teriak” layaknya menjajakan barang dagangannya kepada para penumpang yang baru saja mengambil bagasi. Yang mereka lakukan cukup dengan menyungging senyum manis, memasang plakat mencolok dengan “konten” informasi yang paling vital ingin diketahui para wisatawan. Dan itu tidak lain adalah harga jasa layanan transportasi membawa penumpang keluar dari bandara menuju pusat kota.

Taxi meter di Chiang Mai, Thailand. (Mega Sanjaya)

Taxi meter

Ada banyak jenis layanan transportasi dari Bandara Internasional Chiang Mai menuju “pusat kota”. Sengaja saya kasih tanda petik di sini, karena “pusat kota” Chiang Mai mengacu pada dua lokasi yang berbeda.

Satu lokasi mengarah pada Old City –kawasan wisata sejarah, kuliner, dan lainnya yang beradi di kawasan kota lama.

Traveling Dua Pekan ke Thailand: WA dan Telepon, Pakailah Kartu Lokal Tourist SIM Card (4)

Lainnya adalah New City, bagian Kota Chiang Mai yang sudah berkembang menjadi lebih modern dengan gedung-gedung menjulang tinggi dan badan jalan yang super lebar.

Destinasi wisata rombongan saya mengarah pada kawasan Old City of Chiang Mai.

Untuk menuju ke sana, mata saya tertuju pada jasa layanan bertitel “Taxi Meter” di beberapa sudut ruangan sebelum exit gate. Saya tanya kepada mereka berapa ongkos jasa layanan transportasi ke Old City.

Hanya dengan sedikit senyuman, dua gadis muda Thai yang manis menyodorkan plakat sebesar kertas HVS bertuliskan “150 Baht”.

Sengaja saya tanya demikian, agar persepsi di kedua belah pihak jelas. Apakah harga senilai 150 Thai Baht itu sudah mencangkup “semuanya” atau masih ada plus-plus-nya alias tambahan biaya sana-sini.

“Tidak,” begitu jawab mereka.

Layanan prima Taxi Meter di Bandara Internasional Chiang Mai, Thailand. (Mathias Hariyadi)

Lalu saya memberi informasi lanjutan kepada mereka: rombongan saya berjumlah lima orang dengan barang bawaan terdiri dari dua koper besar, tiga koper sedang, tiga ransel, dan dua tas jinjing.

Berarti, kata gadis Thai di balik desk itu, “Bapak membutuhkan taxi meter spek minivan dengan harga sejumlah 250 Baht.”

Jawaban itulah yang saya harapkan. Sedan berpenumpang empat orang jelas tidak memadai untuk rombongan kami. Karena itu, mereka tawarkan minivan dengan kabin lebih lebar dan luas yang memadai sesuai kebutuhan rombongan berjumlah lima orang plus seubreg bagasi.

Harga pas

Meski memakai label “taxi meter” alias taksi argometer, namun tarif yang mereka tetapkan sifatnya fixed alias pas.

Dengan demikian, jauh-dekat jaraknya tetap seharga 150 Thai Bath untuk taksi jenis sedan berkapasitas 3-4 penumpang. Sedangkan, untuk taksi jenis minivan, harga dipathok 250 Baht.

Kami diarahkan menuju Exit Gate 1 dan di sana sudah banyak terpakir aneka jenis mobil “Taxi Meter” baik spek sedan dan minivan.

Kami menyerahkan semacam kwitansi senilai 250 Baht kepada gadis petugas jaga di areal parkir tersebut. Tidak ada kesan “rebutan” penumpang dan “aksi saling mendahului” sesama pelancong untuk bisa mendapatkan nomor antrian “terdepan”.

Bukti pembayaran jasa layanan taxi meter senilai 250 Thai Bath untuk taksi jenis minivan. (Mathias Hariyadi)

Semua diatur sesuai urutan. Dan yang terjadi memang demikian: baik calon penumpang maupun petugasnya patuh pada sistem dan aturan.

Tidak sampai tiga menit, minivan jenis Izuzu besar datang menghampiri kami. Sopirnya turun menyapa kami dan bertanya kemana tempat penginapan mana dia harus membawa pergi rombongan kami di kawasan Old City.

Kami sodorkan kertas berisi informasi dan konfirmasi pemesanan penginapan kepada sopir dan sejenak dia tampak “bingung” karena JJ Guest House mungkin kurang dia akrabi.

Lalu sekilas kemudian, dia nyalakan HP Android-nya dan memberi perintah suara untuk bisa “menemukan” lokasi tempat inap kami. Tidak sampai semenit, ia sudah mendapatkan akses kemana harus melaju menuju Old City.

Sopir yang ramah itu mengaku sedikit bisa berbahasa Inggris. Ia juga menawari kami jasa tur mandiri keliling kota atau bahkan keluar kota.

Karena kami belum kenal A-to-Z nya Chiang Mai, maka tawaran baik itu untuk sementara kami “abaikan”.

Benar bahwa kemacetan di Chiang Mai itu hanya terjadi di “mulut” jalan keluar-masuk bandara. Setelah melewati perempatan, perjalanan kami dengan Taxi Meter itu pun lancar jaya.

Menjelang datangnya malam, kami tiba dengan sukses di tempat penginapan JJ Guest House yang berlokasi di 17 Soi 5, Phrappokklao Road, Muang, Chiang Mai. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here