Traveling ke India Selatan, Sekali Lagi Cerita tentang Chennai alias Madras

0
289 views
Ilustrasi (Courtesy of Blessingthesonnet)

SETELAH selesai mengikuti acara The 11th World Congress on Adolescent Health,di Hotel Pullman Aerocity, New Delhi, pada Kamis, 2 November 2017 kami cukup senang saat bangun tidur pagi di kamar 502 Hotel ibis Chennai Sipcot, TN India. Sebuah email masuk yang berisi ‘Kami dapat info ada perubahan schedule dari Garuda yang operated by Jet Airways. Penerbangan dari Chenai-Singapore maju menjadi 02.35 a.m. Mohon info nomor HP penumpang agar dapat kami update ke Airlines’.

Syukurlah, Tuhan Maha Baik dan akhirnya kami memiliki kepastian terbang, meskipun tetap tertahan sekitar 10 jam untuk pulang ke Indonesia, maka segera kami putuskan untuk menimati apa yang ada di depan mata, Chennai yang tersisa.

Kami langsung bergegas untuk menyempatkan diri melakukan petualangan dalam kota Chennai yang sehari sebelumnya terlewat.

Kuil Kapaleeshwarar

Sebagai kota dengan mayoritas warganya beragama Hindu, kami ingin sekali menyaksikan keindahan Kuil Kapaleeshwarar, yang merupakan Candi Siwa yang terletak di Mylapore. Gerbang utama Kuil Kapaleeshwarar telah menjadi ikon Chennai di negara bagian India, Tamil Nadu.

Baca juga:  Chennai alias Madras di India Selatan: Kunjungi Makam St. Thomas Rasul

Candi ini dibangun sekitar abad ke 7 Masehi dalam arsitektur khas bangsa Dravida. Di situ kami ikut melepas sandal, menitipkannya pada petugas di sisi gerbang, dan masuk ke kuil bersama dengan para umat yang akan menyembah Dewa Siwa, dalam bentuk burung merak atau Mylai (Mayilāi) dalam bahasa Tamil.

Siwa dipuja sebagai Kapaleeswarar, yaitu dewa yang memimpin alam semesta dalam karya pujangga Tamil Saiva abad ke-7, Tevaram. Candi ini memiliki banyak tempat suci, dengan struktur Kapaleeswarar dan Karpagambal yang paling menonjol. Kompleks candi menampung banyak ruang, dengan enam kali ritual harian dan empat festival tahunan.

Festival Arubathimooval yang dirayakan selama bulan Tamil adalah festival paling menonjol di bait suci itu.

Struktur batu Kuil Kapaleeshwarar dibangun selama penguasa Vijayanagar dari Dinasti Tuluva (1491-1570 M). Nama Kuil Kapaleeshwarar ini berasal dari kata ‘kapalam’ (kepala) dan ‘eeshwarar’ alias Dewa Shiva, yang menggambarakan pertemuan Brahma dan Siwa di puncak Gunung Kailash. Oleh karena Brahma tidak menunjukkan rasa hormat kepada Siwa, maka Siwa memetik salah satu kepala Brahma (kapalam).

Dalam sebuah tindakan penebusan dosa, Brahma turun ke sebuah tempat di Mylapore dan memasang sebuah Lingam untuk menyenangkan Siwa. Tempat ini kemudian dikenaldengan nama Sukra Puri, Veda Puri, Kailaye Mayilai atau Mayilaye Kayilai, yang berarti tempat ini sama dengan ‘kailash’ atau yang suci. Dewi Karpagambal, seorang pengasuh Shiva Parvati, karena kutukan menjadi seekor burung merak dan melakukan penebusan dosa di kuil itu, untuk mengembalikan bentuk aslinya.

Selain itu, ada juga Putra Shiva Murugan yang menerima tombak Sakthi Vel, untuk menghancurkan iblis dari Parvati. Semua kisah tersebut tergambar dalam berbagai patung di candi tersebut. Kami sempat berfoto berulang kali dengan latar belakang Kuil Kapaleeshwarar, bersama beberapa turis Eropa berpasangan, di sela-sela umat Hindu Chennai yang melakukan berbagai ritual.

Selanjutnya kami berjalan keliling, untuk mengagumi arsitektur dan warna-warni patung di candi tersebut, yang dibangun pada abad ke-7 Masehi oleh Raja Pallavas. Prasasti Thirugnanasambandar, Poompavaipathikam dan Arunagirinathar yang diperkirakan dibuat tahun 697 di Thirumylai Thirupugazh, menjelaskan tentang candi Kapaleeswarar tersebut.

Candi asli diduga dibangun di pinggir pantai, namun dihancurkan oleh bangsa Portugis* untuk didirikan tempat ibadah yang sekarang disebut Gereja St. Thomas, dan candi yang ada saat ini, yang berjarak 1,5 km dari pantai, *dibangun oleh raja-raja Vijayanagar pada abad ke-16, dengan menggunakan beberapa sisa-sisa batu dari kuil tua. Terdapat prasasti yang berasal dari abad ke 12 di dalam kuil dan 120 buah ‘gopuram’ atau bentuk atap gapura. ‘Gopuram’ Kapaleeswarar ini merupakan menara gerbang yang ikonik, gaya arsitektur khas Dravida, tinggi sekitar 40 m, dan dibangun pada tahun 1906.

Rumah sakit top

Keinginan selanjutnya adalah berpetualang melihat sistem layanan kesehatan yang ada. Ternyata Chennai memiliki fasilitas layanan medis kelas dunia, yang dilakukan di rumah sakit pemerintah dan swasta.

Rumah sakit utama di Chennai adalah RS. Apollo, RSK. Bedah Apollo, SRM Medical College, RS. Chettinad, RS. MIOT, RS. Sri Ramachandra, RS. Fortis Malar, RS. Lifeline, RS. Vasan, RS. Dr Mehta, RS. Global, RS. Sankara Nethralaya, Vijaya Medical & Educational Trust, Rumah Sakit Umum Rajiv Gandhi, RSUP. Kanker Adyar, Sanatorium TB, dan Institut Nasional Siddha.

Institut Nasional Siddha adalah satu dari tujuh institusi pendidikan tingkat nasional India, yang mempromosikan keunggulan sistem pengobatan India, yaitu Ayurveda. Chennai menarik sekitar 45 persen turis kesehatan (health tourists) dari luar negeri dan 40 persen dalam negeri, sehingga menempatkan Chennai sebagai ibukota layanan kesehatan di India.

Kota ini memiliki lebih dari 12.500 tempat tidur di RS, sehingga memiliki rasio 2,1 tempat tidur per 1.000 penduduk, sudah lebih baik dibandingkan norma Organisasi Kesehatan Dunia, yaitu 3 tempat tidur per 1.000 orang, dan jauh lebih tinggi dari kota lain di India.

Kami sempat hadir di Rajiv Gandhi Hospital, yang berdiri megah di depan stasiun kerata api pusat, dengan banyak sekali pasien hilir mudik di selasar dan ruang tunggu RS.* Layanan kesehatan di RS pemerintah adalah gratis untuk semua warga Chennai dengan obat  yang tidak kalah berkualitas, tetapi sebenarnya berharga lebih murah dibandingkan di berbagai negara berkembang lainnya.

Selanjutnya kami menyeberang jalan yang padat lalu lintas, untuk menyaksikan keindahan arsitektur Stasiun Chennai Central, yang berwarna merah bata, bermenara lancip dan menjulang tinggi.

Chennai menjadi markas besar perusahaan kereta api ‘Southern Indian Railway.’ Kota ini memiliki empat stasiun kereta api utama, yaitu Chennai Central, Chennai Egmore, ChennaiBeach, dan Tambaram.

Stasiun Chennai Central yang terbesar menghubungkan Chennai ke kota-kota besar di India serta banyak kota kecil lainnya di India. Jaringan kereta api pinggiran kota Chennai, merupakan salah satu yang tertua di India, yang masih berfungsi sampai sekarang  dengan melewati stasiun Chennai Central dan Chennai Beach.

Tidak hanya itu, pembangunan angkutan berbasis rel juga digenjot, untuk memecahkan masalah kemacitan lalu lintas.

Chennai Metro adalah sistem transportasi cepat yang akan melayani kota ini, yang pembangunannya telah dimulai pada 29 Juni 2015 lalu. Fase I jaringan Metro Chennai terdiri dari 2 jalur (Jalur Biru dan Hijau) yang mencakup panjang 45,1 km, yang terdiri dari 40 stasiun dengan Alandur dan Chennai Central berfungsi sebagai simpang susun, untuk menghindari perlintasan sebidang.

Sekitar 55% koridor di Fase-I berada di bawah tanah dan sisanya melayang di atas tanah. Seluruh fase-I dijadwalkan akan beroperasi pada akhir tahun 2018 yang akan datang.  Belum selesai tahap I, pada bulan Desember 2016 lalu, telah diumumkan oleh Chennai Metro Rail Limited (CMRL) bahwa Tahap-2 dari Chennai Metro ditetapkan untuk sepanjang 104 km, yang terdiri dari 104 stasiun. Tidak lupa kami berfoto di depan Stasiun Chennai Central yang artistik, legendaris dan sangat ramai penumpang, yang dilayani melalui 11 buah platform.

Kemudian kami terkagum saat mengamati para penumpang yang berdoa terlebih dahulu di sebuah kuil Hindu di depan stasiun, untuk memohonkan keselamatan perjalanan.

Annai Vailankanni Shrine

Terinspirasi oleh rasa syukur dan permohonan yang khusuk tersebut, segera kami menuju Annai Vailankanni Shrine,  yaitu sebuah gereja tempat ibadah, ziarah, evangelisasi dan rekonsiliasi. Gereja tersebut merupakan rumah spiritual utama bagi hampir 1.600 keluarga Katolik, menampung hampir satu juta pengunjung setiap tahunnya, menarik banyak peziarah dan turis dari seluruh penjuru negeri India, bahkan juga dari seluruh dunia.

Terdapat tiga kali misa kudus setiap hari, lebih dari lima jam devosi mandiri setiap hari, serta terdapat Toko Buku Katolik. Dengan slogan ‘Nikmati kunjungan Anda dan dengan semangat Bunda Kesehatan yang Baik, semoga Anda Damai dan Baik’, gereja tersebut dipimpin oleh Fr. B.K. Francis Xavier, imam rektor dan kepala paroki.

Setiap jam alunan lagu ‘Ave Maria’ di gereja Vailankanni mengingatkan kita pada kehadiran dan bimbingan penuh kasih Bunda Maria. Terletak di pantai Elliot, di pantai berpasir coklat lembut di Teluk Benggala, Gereja Vailankanni ini telah menjadi surga bagi banyak peziarah, seperti yang kami rasakan dan saksikan.

Selama bertahun-tahun gereja tersebut telah diyakini berasal dari Ilahi dan merupakan bukti nyata harmoni internasional, multikultural, dan religius. Ribuan peziarah Katolik dan non-Kristen, telah mengunjungi gereja tersebut, sebagai bukti penghormatan, cinta dan harapan dalam Annai (‘Ibu’ dalam bahasa Tamil) yang penuh kasih, karena Ibu dari Kristus adalah Ibu kami juga.

Kejadian ini adalah tanda bahwa Gereja Annai Vailankanni tersedia untuk satu dan semua orang, terlepas dari kasta, suku ataupun aliran kepercayaannya. Dengan didukung oleh arsitek JPD. Souza, akhirnya gereja berhasil dibangun pada tahun 1971. Pembangunanya menggunakan model Basilika ‘Our Lady of Good Health’ di Nagapattinam, yang juga berada di tepi Teluk Benggala. Gereja ini diberkati pada tanggal 24 Juni 1972 oleh Uskup Agung Madras-Mylapore, Mgr. R. Arulappa di antara dua puluh lima ribu umat yang hadir. Peresmian dilakukan oleh Kepala Menteri saat itu Dr. M. Karunanidhi pada tanggal 27 Agustus 1972.

Setelah berdoa Salam Maria berulang kali, juga menirukan umat setempat saat menunduk hormat dan memegang beberapa benda rohani di atas panti imam, kami segera berpindah berdoa syukur di ruang adorasi pribadi.

Di sebelah Gereja Annai Vailankanni, terdapat harmoni dan inkulturasi lokal, dengan berdirinya Kuil Ashtalakshmi. Candi Hindu yang berusia sekitar 20 tahun ini memiliki arsitektur bergaya modern, artistik, penuh warna, dan nampak banyak berbeda dari sebagian besar Kuil Hindu di India Selatan.

The Ashtalakshmi Kovil adalah sebuah candi Hindu yang didedikasikan untuk Dewi Lakshmi, dan delapan bentuk utamanya yaitu, keturunan, kesuksesan, kemakmuran, kekayaan, keberanian, kesehatan, makanan, dan pengetahuan. Para patung pada kompleks berundak itu dibangun sedemikian rupa, sehingga peziarah dapat mengunjungi semuanya, tanpa harus menginjak salah satu tempat suci.

Candi ini dibangun atas permintaan Sri Chandrashekarendra Saraswati. Pengudusan candi berlangsung pada tanggal 5 April 1976 di hadapan guru ke-44 pendeta Ahobila Mutt Vedhantha Dhesika Yatheendhra Mahadhesikan Swami.

Candi ini berukuran panjang 65 kaki dan tingginya 45 kaki, yang merupakan struktur serupa dengan Candi Sundhararaja di Uthiramerur. Di Candi Ashtalakshmis, delapan bentukdewi Lakshmi, dipasang dalam empat tingkat di sembilan tempat suci yang terpisah. Tempat suci Lakshmi dan Wisnu berada di tingkat dua,  agar orang mulai beribadah dari situ.

Kami mengikuti para peziarah lokal dalam menaiki tangga, jalan pelan menuju ke lantai tiga, yang memiliki tempat suci Santhanalakshmi, Vijayalakshmi, Vidyalakshmi dan

Gajalakshmi. Beberapa langkah selanjutnya akan mengarah ke kuil Dhanalakshmi, yang merupakan satu-satunya tempat suci di lantai empat.

Keluar dari kuil utama di tingkat pertama, ada tempat suci untuk Aadilakshmi, Dhaanya lakshmi dan Dharyalakshmi. Candi ini juga memiliki Dashavatara (titisan Wisnu), Guruvayoorappan, Ganesha, Dhanwanthari dan dewa Anjaneyar. Sangat fantastis, menggetarkan jiwa dan menumbuhkan harmoni religi yang sepadan.

Setelah itu, kami berjalan kaki cepat menyusuri garis pantai Teluk Benggala, untuk menuju pantai Elliot yang terletak di Besant Nagar, Chennai, India. Ini merupakan titik akhir pantai Marina dan dinamai menurut Edward Elliot, mantan hakim kepala dan inspektur polisi Madras. Pada era kolonial Inggris, tempat ini cukup eksklusif untuk orang kulit putih.

Sebuah landmark yang tersusun dari batu putih, tegak di tengah karier coklat lembut, dan sangat terkenal di pantai Elliot ini adalah Karl Schmidt Memorial. Peringatan tersebut dinamai menurut nama seorang pelaut Belanda yang kehilangan nyawanya, dalam proses menyelamatkan orang lain dari tenggelam.

Pantai Elliot

Pantai Elliot adalah salah satu pantai terbersih di kota Chennai, terletak di sebelah selatan Pantai Marina, dan merupakan tempat yang sangat tenang sangat ideal untuk para pejalan kaki, juga pengunjung yang ingin merendam kaki di air laut.

Sayang sekali, hujan deras dan hembusan angin kencang segera menyergap kami, yang hampir saja mencapai lantai putih Karl Schmidt Memorial. Dalam lindungan payung kecil yang dipakai berdua, berulang terguncang karena arus angin dan guyuran hujan yang sering berubah arah, *kami memaksakan mengambil gambar kenangan di situ.

Setelah punggung terasa dingin oleh kuyub air, lembab kain, dan hembus angin di awal musim hujan, kami memutuskan kembali memasuki kota Chennai. Kota ini dilayani oleh dua pelabuhan utama, Chennai Port, salah satu pelabuhan buatan manusia yang terbesar di India, dan Ennore Port. Pelabuhan Chennai adalah yang terbesar di Teluk Benggala, dengan tonase kargo tahunan 6.146 crore, dan pusat penampung kontainer terbesar kedua di India, dengan volume tahunan sebesar 15,23 lakh TEUs. Pelabuhan ini menangani pengiriman ekspor mobil, sepeda motor dan kargo industri umum.

Port Ennore dengan tonase kargo tahunan sebesar 1,101 crore menangani kargo seperti batubara, bijih atau produk mineral curah, dan berbagai batu lainnya. Pelabuhan Royapuram digunakan untuk kapal penumpang dan Kattupalli Shipyard di dekat Ennore Port yang diresmikan pada bulan Januari 2013.

Kami sempat mengagumi kebesaran Chennai Port, melihat begitu banyak crane yang tinggi menjulang dan peti kemas yang berpindah, dari gerbong kereta atau truk ke gudang atau pun kapal kontainer. Di seberang Chennai Port masih tegak menjulang, tertata rapi, dan berdiri berjajar berbagai bangunan peninggalan kolonial Inggris, yaitu bekas kantor dan gudang maskapai perdagangan ‘The British East Company’.

Salah satu yang masih ramai dikunjungi adalah Kantor Pos Pusat Chennai, persis di depan pintu keluar Chennai Port. Tidak ada kesempatan bagi kami untuk berfoto dengan latar belakang semua bangunan bersejarah tersebut, karena ramainya lalu lintas di areal awal berdirinya kota Chennai tersebut. Oleh sebab itu, segera kami memutuskan kembali ke hotel untuk bersiap pulang ke Indonesia, daripada terkena denda ‘extra cost’ karena terlambat ‘checking out’.

Dalam perjalanan pulang ke hotel, kami masih tetap terkagum akan kekuatan ekonomi Chennai, yang berdasarkan Produk Domistik Brutto (PDB) berkisar antara $ 58,6 sampai $ 66 miliar, sehingga menduduki peringkat keempat paling produktif di India.

Chennai memiliki basis industri yang luas di bidang manufaktur, komputer, teknologi, perangkat keras, dan sektor kesehatan. Pada 2012, kota ini merupakan eksportir teknologi informasi terbesar kedua di India. Selain itu, sebagian besar industri otomotif India berada di dalam dan di sekitar kota sehingga menghasilkan julukan “Detroit of India”.

Kota ini juga merupakan kantor Madras Stock Exchange, bursa saham keempat India, dan terbesar ketiga di India berdasarkan volume perdagangan, berada di belakang Bombay Stock Exchange dan National Stock Exchange of India.

TCS

Atas rasa kekaguman tersebut, kami segera meminta berbelok arah jalan untuk menuju ke sebuah bangunan futuristik, tinggi menjulang dan mengkilap keperakan. Ternyata itu adalah kantor Tata Consultancy Services Limited (TCS) di Chinnae.

TCS adalah perusahaan jasa tekonologi informasi, konsultasi dan bisnis multinasional India yang berkantor pusat di Mumbai, Maharashtra. Ini adalah anak perusahaan Tata Group dan beroperasi di 46 negara. TCS adalah salah satu perusahaan India terbesar dengan kapitalisasi pasar ($ 80 miliar).

TCS sekarang termasuk dalam perusahaan layanan IT bermerek yang paling berharga di seluruh dunia. TCS sendiri menghasilkan dividen 70% untuk perusahaan induknya, Tata Sons di bawah komandan N. Chandrashekaran.

Pada tahun 2015, TCS berada di peringkat 64 Forbes World Most Innovative Companies, menjadikannya sebagai perusahaan jasa IT berperingkat tertinggi di India. Ini adalah penyedia layanan IT terbesar ke-9 di dunia dari segi pendapatan dan pada Desember 2015 menduduki peringkat 10 di daftar Fortune India 500. Setelah mengambil gambar dengan latar belakang bangunan markas TCS di Chennai yang futuristik tersebut, kami segera berniat pulang.

Kami segera bergegas kembali ke hotel untuk bersiap pulang ke Indonesia. Malam itu kami merasakan kepuasan dan kepasrahan kepada Tuhan secara lebih mendalam, dengan berbagai pengalaman iman yang inspiratif, tentunya tidak hanya dari the 11th World Congress on Adolescent Health di New Delhi, India, tetapi juga kebesaran sejarah Chennai dan kesempatan untuk bertualang dalam sisa waktu penundaan penerbangan.

Sekian dan terimakasih. (Selesai)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here