Tuhanku yang Serba Tak Terduga

4
2,390 views
leondevero.homestead.com

TINGGAL dua minggu lagi masa percobaanku akan berakhir. Tepatnya tanggal 25 Juli 2011 yang akan datang.

Kepastian yang akan aku peroleh apakah aku dapat melanjutkan bekerja di kantorku sekarang ini atau tamat riwayat karirku sampai dengan tanggal 25 Juli tersebut.

Aku adalah seorang karyawan sebuah bank asing, dimana pekerjaanku sebagai marketing mengharuskan aku bekerja dengan target, baik target mendapatkan nasabah baru perusahaan maupun target dalam volume deposito yang harus diperoleh dalam setahun. Nasabah yang harus kuperoleh adalah nasabah perusahaan, bukan perorangan.

Sebetulnya dalam hal jumlah nasabah, aku sudah melampaui target. Targetku adalah minimal dua nasabah perusahaan baru per bulan, dan aku sudah membuka enam nasabah baru. Sialnya dari sisi volume, aku ‘hanya’ berhasil mengumpulkan 5,4 milyar dari target 25 milyar sebulan yang harus kuperoleh.

Doa dalam kegalauan
Pagi hari kemarin, aku sungguh resah dan gundah mengingat pencapaianku. Aku tidak  tahu darimana sejak kapan aku mulai menyempatkan berdoa secara khusuk di kapel sekolah anakku sepulang aku mengantar anakku berangkat sekolah. Pagi itu didalam doaku, aku sungguh-sungguh meminta agar Kehendak Tuhan saja yang terjadi pada karirku. Aku sudah tidak tahu lagi harus menghubungi nasabah mana lagi. “Biarlah rahmat Tuhan saja yang mengalir buatku dan keluargaku,” bisikku dalam doaku.

Sore harinya, mendadak aku tergugah untuk membuka database yang sudah lama tidak kusentuh semenjak aku bekerja disini selama sebulan ini. Entah mungkin inspirasi menelponku itu timbul sehabis aku menemanin partner aku berkunjung ke nasabahnya dan melihat betapa dengan mudahnya temanku memperoleh volume deposito dalam jumlah yang tidak kecil. Aku sungguh tersentak saat itu. Dalam hati aku berkata “masa aku tidak bisa memperoleh jumlah deposito yang sama besarnya atau bahkan lebih besar lagi.”  Mulailah aku menelpon nasabah-nasabah itu , dan ada satu  perusahaan yang saat itu sedikit memberi angin segar kepadaku, karena memperboleh aku mengirimkan email kepada mereka. “Terima kasih Tuhan untuk hari ini.”

Kepasrahan, harapan dan ujian
Pada hari berikutnya, seperti biasa aku berdoa di kapel seusai mengantar anakku berangkat sekolah. Dalam doaku, kupasrahkan seluruh kecemasan dan kegalauanku padaNya. Aku sedikit berharap karena hari ini aku tahu ada deposito nasabahku yang akan cair di tempat lain dan dijanjikan akan ditaruh di tempatku.

Tapi tak dinyana, hari itu sungguh menjadi hari yang kelabu. Harapanku yang melambung tinggi akan memperoleh nasabah baru meski dengan jumlah deposito yang tidak besar, buyar sudah. Ibu Rita sang pengurus mengatakan bahwa depositonya terlanjur diperpanjang kembali di tempat yang lama. Terdiam lama aku , sungguh aku merasa terpukul. Aku merasa sepertinya kok susah banget meperoleh nasabah , ibarat nya untuk memperoleh ikan..jangankan ikan besar, ikan kecil saja terlepas dari kailku.

Saking mendungnya mukaku,  sampai-sampai  tim leaderku berusaha menghiburku dengan mentraktir makan siang. Untung saja, siang hari itu aku merasa ada sedikit pelipur lara manakala nasabah yang aku kunjungi terlihat tertarik dengan jualanku. Dia menyuruh aku menelpon kembali pada hari berikutnya.

Bertahan dalam doa dan permohonan
Kamis pagi, aku berdoa di kapel kembali dengan segenggam permohonan. Aku sungguh memohon dan meminta agar Tuhan sendiri yang berkarya atas seluruh usahaku. Tanpa bantuanNya , apalah artinya diriku.

Aku menepati janjiku untuk menelpon nasabahku yang minta aku menelponnya pagi ini. Sesudah kekecewaan yang kualami kemarin, aku sebenarnya tidak berani berharap bahwa nasabah ini mau menempatkan depositonya di tempatku. Aku takut terjatuh dalam kekecewaan yang mendalam, walaupun dalam hati kecil yang terdalam, aku sungguh berharap!

Tak dinyana, nasabah itu mau menempatkan depositonya bahkan dalam jumlah nominal yang tidak kecil, dari nominal USD 300.000 yang gagal kuperoleh kemarin. Malahan Tuhan memberi aku nasabah yang mau menempatkan deposito USD 5.000.000!  Aku terkesima, tak bisa menggambarkan suasana hatiku saat itu, antara percaya dan tidak , antara gembira dan bingung, antara yakin dan tidak. Aku merasa Tuhan sungguh luar biasa bekerja dalam hidupku, seandainya Tuhan itu nyata, ingin saat itu juga ketikan nasabahku mengatakan ya , aku ingin mencium pipi Tuhanku, aku ingin memeluk Tuhanku dan berbisik di telinga Nya “ Thanks ya, Tuhan”

Satu pelajaran kudapat dari kejadian ini, jangan pernah mencoba memikul beban sendirian. Berbagilah dengan Tuhan. Serahkan dan pasrahkanlah pada Tuhan; Dia pasti akan datang menolong , entah bagaimana bentuk pertolonganNya, tapi Ia pasti selalu ada bagi umat kesayangannya.

Terima kasih Tuhan… Engkau sungguh maha tak terduga!

4 COMMENTS

  1. Dear para Pembaca,

    Saya kenal Lisa sudah 1 tahun. Dulu kami bekerja di salah satu bank asing terkemuka di Jakarta. Lisa yang telah saya anggap kakak saya sendiri memang sesosok manusia yang baik, fun, dan easy going. Untuk urusan pekerjaan sebagai seorang Marketer, saya mengacungkan 2 jempol buat Lisa. Jadi, saya percaya kalo Lisa memang sudah akan berhasil dalam bidangnya, tentunya dibantu dengan iman dan doa ia sebagai umat katolik.

  2. Lis, Allah selalu mempunyai rencana yg terbaik utk umatnya & Allah tdk pernah tidur jd selalu mendengar doa umatnya. So, terus berjuang & selalu berdoa sahabatku…… 🙂

  3. Bertahan dalam doa adalah bukti nyata iman yang kokoh. Selamat ya Lis. Jadikan pengalaman ini yang terindah dalam hidup. Bersyukur dan besyukur atas semua yang didapat dari Tuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here