Ulasan Kisah Sengsara Menurut Yohanes (Yoh 18:1-19:42)

0
4,421 views

Tiga pokok dalam Kisah Sengsara yang dibacakan Jumat Agung ini (Yoh 18:1-19:42) saya bicarakan dengan sang empunya tulisan itu.

  1. Korespondensi pertama berkisar pada hubungan antara kata-kata terakhir Yesus di salib, yakni “sudah selesai” (Yoh 19:30, Yunaninya “tetelestai”) dan catatan Yohanes mengenai mengasihi “sampai pada kesudahannya” (Yoh 13:1, “eis telos”).
  2. Kemudian saya mintakan penjelasan mengenai jubah Yesus yang diundi para serdadu (Yoh 19:23-24).
  3. Selanjutnya pembicaraan berpusat pada makna “darah dan air” yang keluar dari lambung Yesus (Yoh 19:34).

====================

 

 

Oom Hans yang baik!

Di sini saya sedang menyiapkan ulasan mengenai Kisah Sengsara yang dibacakan pada hari Jumat Agung. Salah satu yang sedang terpikir ialah kata-kata Yesus “Sudah selesai!” (Yoh 19:30). Seorang rekan memahaminya sebagai ungkapan rasa lega, penderitaan sudah lewat, rampung karya keselamatannya. Tapi saya kok malah tidak sreg dengan bahasa seperti itu. Kok seperti tonil, layar turun, tamat, selesai, kukut, bubar. Aslinya di situ kan tertulis “tetelestai”, dari kata “telos”, yakni akhir yang merangkum perjalanan dari awal, yang memberi arti pada semua yang telah dijalani. Rasa-rasanya Yesus hendak mengatakan kini sudah terlaksana sampai utuh. Kayak versi Latin yang cespleng “consummatum est” dua m itu. Kan consummatum itu dari consummare, con + summa, “merangkum semua jadi utuh”, dan bukan dari consumere satu m, “menghabiskan” (makanan, waktu, duit) yang ada hubungannya dengan konsumsi. Orang Jakarta bilang udah kecapai, kalau di Jawa ya wis klakon. Oom gimana?

Ada lagi soal lain. Kalau ndak salah, Oom seperti hendak menggarisbawahi gagasan bahwa Yesus itu kurban Paskah yang diterima Yang Di Atas sana sehingga benar-benar menjadi silih dosanya umat manusia. Karena itu Oom memberi kronologi lain, yaitu penyaliban terjadi sebelum Paskah, ndak seperti Mark dll. yang menaruh Paskah pada perjamuan malam terakhir. Iya kan? Saya sudah pernah katakan di sebuah milis bahwa perjamuan terakhir di mana Yesus membasuh kaki murid-murid itu bukan perjamuan Paskah, melainkan sebelumnya.

Pada awal perjamuan itu disebutkan bahwa Yesus mengasihi orang-orangnya yang di dunia ini dan betul mengasihi “eis telos”, sampai pada kesudahannya, sampai tuntas (Yoh 13:1). Apa ini semacam antisipasi atau padahan bagi kata-kata Yesus “tetelestai”, sudah terlaksana, yang diucapkannya pada saat terakhir di salib? Bila begitu kedua ayat itu memang saling menjelaskan. Yesus mengasihi orang-orangnya sampai terlaksana sesuatu yang mengubah arah hidup mereka, dan hidupnya sendiri, begitu kan?

Ada yang tanya blekberinya Oom, ingin kasih BBM buat Oma Miryam seperti ini 2UBOK4ever, 😉 + :-)). Kawan-kawan itu sekarang genggamannya BB sih, bukan lagi rosario.

Salam hangat,

Gus

====================
Dear Gus, Peace!

You are absolutely right. The truth is, when he uttered “tetelestai” (Yoh 19:30), Jesus was actually addressing his Heavenly Father, “Here I am, I’ve done everything to the end, now take it all!” The Indonesian version “Sudah selesai!” – “It’s over!” – doesn’t sound quite right, I agree. Why not try “Sudah terlaksana!” or something to that effect?

As I said, the word “tetelestai” was spoken by Jesus to his Father. But we overheard it. It teaches a lot about him, about God, about what love means, the thing he dwelt on during the last supper. At first I thought he was just being odd. But then this “consummatum est” is the key to all that.

Glad to hear you see the connection between “tetelestai” (your “sudah terlaksana”) here and “eis telos” (your “sampai tuntas”) said about his act during that supper (Yoh 13:1). Yes, on that background, his death on the cross gives a fuller sense to what “loving one’s own who are in the world (=still under the threat of darkness, evil power)” means. He accompanies them, and us, in our darkest paths. We can be sure now that we won’t be abandoned by the one sent by the Father to bring us back to Him, the Source of Light.

As for your second question, quite, Jesus is the true Paschal lamb. Not that the Almighty likes blood gushing out of this man, by no means! The point is, his blood acts like the lamb’s blood in Exodus 12:13 (to guarantee that the owner of the house will be spared from the plague – saved from death). Thus when Jesus died on the cross in that sense, the Almighty took him and cast out the power of darkness for good. That’s the Light of His Word. Did you get it? You’re the exegete.

By the way, don’t try to reconcile my chronology of the passion with Mark’s story. The washing of the feet, about which he and the other two young men know nothing, is the preface to the true Passover meal, the sacrifice of the Lamb of God on the cross, not to the last supper. I read your note on the washing of the feet. Yes, Jesus wants to share his origin and destiny so that all of us can become sons and daughters of the Almighty.

Ma Miryam is okay. She was amused by the message. A young seraph taught her to read the emoticons. She dictated her response: Thanx >:), ;-*. But let’s not talk gibberish.

As ever,
Hans

======================
Oom Hans!
Terima kasih buat penjelasan dalam surat barusan. Ada soal lain. Mark, Matt, Luc cerita bahwa serdadu yang berjaga di tempat penyaliban mengundi pakaian Yesus di antara mereka. Oom juga ke arah itu, tapi lebih mendetail. Ada catatan bahwa selain membagi-bagi pakaian, empat serdadu di situ mengundi jubah Yesus yang terbuat dari satu tenunan kain utuh tanpa jahitan sehingga tetap utuh. Dan dalam Yoh 19:24 bahkan ada kutipan dari Mazmur 22:19 “mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka dan membuang undi atas jubahku.”

Apa ada penjelasannya? Mohon pencerahan. Apa dengar semua ini dari Oma Mir, Bu Mary Kleopas dan Tante Lena yang katanya ada di kaki salib waktu itu?

Sampai lain kali,
Gus

====================
Dear Gus,

You need not be that inquisitive! Of course I’ve seen everything myself, I’ve heard everything and I am gonna tell you in your language. Semuanya kulihat dan kudengar sendiri. Kalau mau, tanyakan kepada ibu-ibu yang juga ada di situ. Semua ini kuceritakan pada kalian supaya kalian bisa ikut serta dalam peristiwa itu. Kami ini mata dan telinga kalian bagi peristiwa itu.

Mengapa memakai Mazmur 22:19? Ah, kami waktu itu baru sadar bahwa yang terjadi pada Yesus sesungguhnya sudah sejak lama diketahui orang bijak dari zaman dulu. Yesus memang sedang dikepung lawan-lawannya. Ia tidak dianggap bermartabat manusia lagi, kecuali oleh kami yang mengikutinya. Bahkan pakaiannya pun dijarah. Kalian kan tahu, bagi kami orang Semit zaman dulu, pakaian itu membuat orang yang memakainya kelihatan, membuat kentara siapa orangnya. Pakaian itu seperti badan, apalagi jubah yang utuh dari atas ke bawah itu. Semuanya ditanggalkan dari diri Yesus sehingga sulit kelihatan lagi bahwa ia juga ada harganya sebagai manusia. Tak perlu kalian cari-cari tafsiran apa ini jubah imam menurut praktek liturgi Yahudi juga terbuat dari tenunan utuh. Memang ada kemiripannya, tapi bukan ke arah itulah pembicaraan itu waktu. Hanya mau kutegaskan bahwa kini kemungkinannya untuk masih sedikit tampak sebagai manusia sudah dijarah habis-habisan sampai tak bersisa. Yang tinggal hanya penderitaan yang sulit diterima akal. Bahkan juga oleh kami yang dekat dengannya.

Ingat kan, Pilatus sendiri mencoba menunjukkan dalam 19:5 “Lihatlah orang itu!”, tapi orang banyak di alun-alun itu sudah jadi lupa daratan dan tak mampu lagi berpikir jernih untuk mengenalinya. Apalagi ketika ia ada di salib. Pakaian yang bakal menunjukkan ia masih bisa dianggap orang juga sudah dibagi-bagikan. Habis. Ini kami saksikan sendiri. Dan Mazmur keramat tadi membantu. Seperti pengarang Mazmur itu, kami juga percaya akan datang pertolongan dari atas. Yang Maha Kuasa sendiri nanti akan memberinya “pakaian” yang tak bisa ditanggalkan orang lagi. Malah nanti Dia akan menjadi pakaiannya. Yesus akan semakin dikenal sebagai yang sedemikian dekat dengan Yang Ilahi sendiri.

Jangan berhenti menemukan hal-hal baru dalam peristiwa yang dikisahkan mengenai Yesus itu. Penulis Injil hanya memberi kesaksian. Kalau kauterima kesaksian itu maka kalian sendiri akan ikut memasuki peristiwa itu dan menemukan makna-makna baru. Bukankah demikian kehidupan yang lahir kembali dari atas, seperti yang pernah dikatakan kepada Nikodemus dulu (Yoh 3:3 dan 7)? Dan dalam peristiwa kali ini ia juga datang – tengok Yoh 19:39 – ia membawa minyak mur dan minyak gaharu, dan tidak sedikit, sekitar 50 kati. Ini penghargaan bagi seorang Raja yang berangkat ke perjalanan jauh – ke atas sana!

Salam teguh,
Hans

====================

Dear Uncle Hans!
Never heard about the connection with Nicodemus!

I have one more question, if you don’t mind. When one of the soldiers pierced Jesus’ side with a spear, immediately blood and water came out (John 19:34). What does all this mean? Mark and Matt do not  have the slightest idea of what was going on. Yesterday I skyped Luc and asked him about that blood and water. His comment was dismissive: “Uncle Hans is at it again!” and he signed off without warning.

Please send my best to Oma Miryam :-* 4U.

Gus

====================

Dear Gus,

Here is how I explain the blood and water that came out of Jesus’ side. Like our ancestors, we imagine blood as the seat of life and water as the life-sustaining force. So when Jesus died on the cross, what comes from his body is not death, but life and what sustains it. That’s the understanding I wanted to share with you.

I have never studied human anatomy like that young man Luc. But I see more. Haven’t I confessed in Chapter 19 that I had seen all that? I still want to share that experience and understanding with you.

Ah, it’s already past midnight, I’ve to go and hit the sack!

😮 B4N!
Hans

====================

Salam,

 

A. Gianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here