Untuk Para Sahabat Yang Telah Lewat

0
762 views

KITA mungkin punya sahabat atau sebutlah orang terdekat, pernah begitu dekat. Mereka kita taruh di tempat terhormat dekat dengan hati kita.

 

[media-credit name=”123rf.com” align=”alignleft” width=”400″][/media-credit]Pribadi pribadi itulah yang mengisi memori hidup dengan keindahan, kegembiraan dan makna.

Mereka hadir dalam sebagai teman, orang tua, guru dan saudara. Singkatnya, bagi kita, mereka adalah individu istimewa yang pernah
singgah dalam hidup kita.

Pernah singgah, karena saya memaksudkan untuk mereka yang telah meninggalkan kita dalam peziarahan dunia ini. Mereka yang telah berpulang pada yang empunya kehidupan.

Tiba tiba saja pagi ini ketika tengah menyetir, saya mengingat mereka dan menyadari sering kali dan hampir selalu saya lupa atau terlambat mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan peran mereka.

Mereka yang singgah

Ada seorang teman, PNS di bagian riset di sebuah pemda provinsi yang tidak kemaruk harta dan selalu rela dan gembira membantu mencari data untuk kepentingan pekerjaan saya. Dia suka lagu-lagu Josh Groban, bermimpi punya Nissan Terrano dan selalu meminta kalender dari tempat saya bekerja.

Kanker merenggut  hidupnya begitu cepat. Ia tak sempat mengucap
salam perpisahan. Hanya namanya masih tercatat dalam daftar kontak
email saya.

Seorang pembimbing studi pada saat mahasiswa juga belum lama ini
berpulang. Juga karena sakit yang melumpuhkan semangat hidupnya. Ia
seorang ilmuwan sejati hingga ke tulang sumsumnya.

Yang masih saya ingat hanyalah saya selalu merasa bersemangat dan berkobar-kobar jika berada di sekitarnya. Ia selalu menantang saya untuk menjadi pribadi yang selalu tak puas dengan hanya ‘sekadar
baik.’ Semangat belajarnya tersimpan seperti nyala api di sebuah ruang
di hati saya hingga kini.

Saya juga mengingat pembimbing rohani saya yang baik hati dan selalu berkata, “You must fight for your life” dan menyambangi saya di kamar, hanya untuk menanyakan kabar.

Atau,  mengingat ibu mertua saya yang rajin mendengarkan cerita-cerita saya sepulang kerja. Atau juga kakak sulung yang suka mendengarkan bualan saya, puluhan tahun silam yang bagi saya masih terasa bagai kemarin.

Semangat belajarnya tersimpan seperti nyala api di sebuah ruang di hati saya hingga kini.”

Pribadi-pribadi istimewa

Ternyata, dari begitu banyak pribadi yang saya temui, tak banyak yang sungguh dalam memasuki dan mengisi relung-relung kehidupan saya.
Kepada mereka yang telah singgah dan memaknai hidup saya,  ingin kuucap: Terima kasih, wahai engkau pribadi istimewa. Untuk mereka yang sudah berpulang, beristirahatlah dalam damai.

Ada pribadi yang singgah sebentar ada yang cukup lama menemani dalam hidup saya. Mereka, dengan cara dan kehadirannya masing-masing berperan membentuk pribadi, sikap hidup dan cara saya bertindak.
Bagaimana dengan Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here