Way Hui, Lampung: Ketika Lapas Menjadi Sekolah

0
147 views
Kelompok pemerhati anak-anak binaanlapas (Sr. M. Fransiska FSGM)

KUNJUNGAN ini sangat besar maknanya bagi kami. Kami banyak mendapat pengalaman baru.

Sebelumnya, kami sangat kesulitan untuk memimpin doa makan. Sekarang kami telah terbiasa memimpin doa makan dan doa malam.   

Tempat pembinaan

Perkembangan satu tapak itu sangat disyukuri oleh seorang anak binaan di Rutan Way Hui, Lampung, Senin, 13 Januari 2020.

Sebut saja namanya Hasan.  

Mata Hasan berkaca-kaca menahan tangis karena rasa syukur yang mendalam. Syering itu ia ungkapkan dari ketulusan hatinya dihadapan para pengunjung pemerhati lapas Keuskupan Tanjungkarang.

Hasan bercerita kalau di lapas itu ada satu sel yang disediakan khusus bagi anak binaan yang beragama Kristiani.

Mereka akan tinggal di sel itu dengan syarat setiap hari harus mengikuti Doa Ibadat atau siraman rohani di kamar Tuhan (ruang doa, red). Bila tidak mematuhi peraturan tersebut, terpaksa dipindah ke sel lain.

Romo Indro Pandego Pr dan Koordinator Pemerhati Lapas L. Wardoyo, dan Kasi Bimkemas Anwarda. (Sr. Fransiska FSGM)

Hasan mengakui bahwa lapas ini seperti sekolah, tempat pembelajaran, pembinaan, dan belajar merasakan kasih Allah. Pengalaman kasih Tuhan ia peroleh dari teman, para pembina dan pemerhati.

Itu yang membuat ia bersemangat menjalani hari-hari dengan setia sebagai anak Tuhan sampai selesai masa tahanannya.  

Hasan, anak binaan paruh baya yang berkaos biru itu mengaku merasa tidak sendiri karena dari hari Senin sampai Kamis, mereka dikunjungi oleh kelompok-kelompok kategorial yang ada di Gereja Katolik dan Kristen.

Ia menyebut ada romo, suster, bapak dan ibu, yang setia mengunjungi mereka.

Apa pun yang dibawa dari para pengunjung seperti kue atau sesekali nasi beserta sayur dan lauknya, mereka terima sebagai berkat Tuhan.

“Banyak orang di luar yang kelaparan, tidak dapat makan,” tuturnya dengan suara yang semakin serak. 

Hasan berharap, agar kunjungan yang sudah terjadwal itu terus dipertahankan. Selain itu, semoga di lapas-lapas lain juga disediakan kamar Tuhan untuk berdoa.

Pelangi setelah hujan

Perayaan Ekaristi yang berlangsung di Way Hui masih dalam suasana Natal. Karena para pemerhati lapas Keuskupan Tanjungkarang ingin berbagi berkat dan sukacita bersama anak-anak binaan.

Meski Natal sudah lewat satu bulan yang lalu, namun sukacita Natal tidak pernah lekang akan waktu. Sukacita itu harus dibagikan kepada setiap orang.  

Hal itu juga disampaikan oleh Romo Philipus Suroyo Pr dalam homilinya.

“Kami sudah mengalami kasih Allah maka kami ingin berbagi sukacita dan berkat-Nya,” ungkapnya.

“Kami ingin bersama Anda sekalian. Bisa jadi, setelah Anda keluar dari sini, diantara Anda ada yang menjadi motivator, katekis, dll karena berkat pengalaman yang Anda terima di sini yang sangat berharga. Suatu saat bila masa tahanan selesai dan Anda diizinkan keluar dari sini, orang lain boleh mengatakan Anda apa saja. Maka, kuatkan iman dan tetap berharap dan percaya akan kasih-Nya.“

“Jangan sedih, jangan menangis, dan jangan menghitung hari. Akan ada pelangi setelah hujan. Yesus lahir bagi kita semua. Dia mampu melepaskan belenggu-belenggu. Yang sedih bisa tersenyum. Yang lesu, bisa semangat dan cerah kembali,” tambahnya.

Usai Perayaan Ekaristi diadakan pentas seni. Dilanjutkan dengan pembagian kasih berupa bingkisan untuk anak-anak binaan, dan makan bersama.

Rangkaian Perayaan Ekaristi Natal bersama anak-anak binaan juga diadakan di Rutan Lapas, 15 Januari 2020 dan LP Narkoba laki-laki, 16 Januari 2020.

Pemerhati Lapas Keuskupan Tanjungkarang wilayah Bandarlampung setiap sebulan sekali mendapat kesempatan untuk berkunjung ke LP Way Hui dan Rajabasa yang dibagi dalam kelompok kategorial yakni: Biara FSGM, HK, CB, WKRI, Devosan, KTM, SSV, Karismatik, PDKI, dan Legio Mariae.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here