Yesus Menyediakan Tempat

1
566 views

PARA murid Yesus merasa gelisah ketika mereka tahu akan ditinggalkan. Menanggapi hal itu Yesus bersabda bahwa Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi mereka. Memang, sabda ini dalam konteks kematian Yesus. Tetapi, kita percaya bahwa  bagi Yesus kematian tak pernah berarti musnah atau lenyapnya kehidupan.

Mati, buat Yesus hanya berarti jalan untuk kehidupan baru. Kita yakin bahwa dalam kematian hidup ini hanya diubah, bukan berakhir. Maka, kalo kita bicara tentang ‘menyediakan tempat’, sebetulnya kita bicara tentang kehidupan dan perubahan.

Andai kita jujur, di zaman ini “menyediakan tempat” bagi orang lain sudah tak biasa lagi. Yang lebih biasa adalah mengambil tempat orang lain. Segala ilmu dan teknologi bercita-cita untuk semakin banyak menyediakan tempat bagi kehidupan manusia. Tetapi rupanya itu hanya teori belaka. Nyatanya, ketika ilmu dan teknologi makin maju tempat yang tersedia untuk hidup orang lain justru makin sempit.

Pembangunan di negara-negara ketiga justru mengambil banyak tempat hidup orang miskin. Teknologi dan komputer yang super canggih juga mengambil banyak tempat para buruh biasa mengais kehidupan. Zaman makin maju, tetapi mutu kehidupan manusia kadang justru makin mundur. Bahkan dalam lingkup keluarga pun, perkembangan zaman telah mengambil tempat keluarga dari  hati setiap pekerja. Perputaran roda ekonomi moderen telah mengambil tempat kasih dan kemanusiaan dari  singgasana hati manusia.

 

Dimana tempat kita sekarang?

  • Di keluarga, apalagi di kota besar, tempat anak-anak di hati, bahkan kadang di otak para orangtua sudah tidak ada lagi. Orangtua pergi pagi-pagi, ketika anak-anak belum bangun. Mereka pulang petang/malam ketika anak-anak sudah tidur nyenyak. Bahkan di banyak keluarga, karena kepadatan penduduk, sering tempat, -dalam arti fisik pun-, sungguh sulit ditemukan. Tak ada lahan untuk bermain. Siapa yang harus menyediakan tempat untuk anak-anak kita?
  • Di sekolah: padatnya kurikulum telah mengambil tempat untuk bermain bagi anak-anak kita. Bahkan di banyak sekolah, dalam arti fisik pun, sering sudah tak tempat. Apalagi kalo orangtua masih menambah sempitnya tempat bermain, tempat untuk mengendapkan segala yang diserap si anak, dengan mengharus anak mengambil kursus/les tambahan di luar jam sekolah.
  • Di kantor: tempat untuk rasa perasa kemanusiaan juga telah  direnggut oleh persaingan ganas antar pengusaha, atau anta pribadi. Demikian sehingga kadang kita menerima putusan, perlakuan, kebijakan, apa pun namanya, tapi akibatnya sama- yang amat tidak manusiawi. Masih ditambah ambisi teman kadang juga menambah sempit tempat untuk percaya pada orang lain, kepada rekan sejawat di kantor yang sama, juga percaya pada Tuhan. Tempat untuk kasih dan kita pun terancam hilang oleh persaingan usaha.
  • Dalam lingkup agama: dunia sering tanpa sadar juga ikut-ikut mengambil tempat para aktivis dari di tengah keluarga mereka. Ketika mereka harus pertemuan-pertemuan di malam hari –sesuci apa pun alasannya- beberapa kali sepekan; atau ketika di hari Minggu dan hari libur masih ada banyak acara agama, itu juga mengambil tempat anggota keluarga dalam hidup para aktivis itu. Demikian sehingga tak jarang kita temui, para aktivis yang tak punya tempat lagi di keluarganya. Sebab setiap kali ada acara keluarga, selalu batal, atau tak dapat ikut serta, justru karena kesibukan di urusan agamanya. Jangan lupa, hidup dan mati kita ada di tengah keluarga. Maka kita tak punya tempat lagi di tengah keluarga, itu bisa berarti separo kehidupan  kita terancam lumpuh.

Merana di lubuk jiwa

Jadi, jangankan kita berpikir untuk menyediakan tempat bagi orang lain, tempat yang sudah jelas dan ada pun sering diambil oleh orang lain, oleh pekerjaan dan oleh kesibukan agamis. Hal ini sungguh dapat mengancam kehidupan. Mungkin saja kita  sukses secara materi, atau terpandang di lingkungan agama,  tetapi gersang dan merana dalam “lubuk hati“ di dalam sana, karena tak tersedia tempat untuk diri dan hidup kita.

Dalam arti ini, sabda Yesus untuk selalu ‘menyediakan tempat’, amat relevan. Justru di tengah kehidupan dunia yang semakin ganas ini, kita harus makin keras berusaha. Kita harus tegas dan berusaha keras untuk selalu menyediakan tempat bagi anak-anak, bagi keluarga, bagi hati dan kemanusiaan kita, bahkan bagi diri kita sendiri untuk sekedar istirahat atau refleksi atas hidup kita.

Kalau tidak, kita akan kehabisan tempat untuk jiwa dan hati kita, dan kita akan mati merana. Mungkin kita perlu meniru gaya hidup di negara maju: selalu punya tempat dan saat untuk hidupnya. Liburan bersama keluarga, bersama rekan, seminggu sekali, atau sebulan sekali, bahkan setiap dua tahun sekali selalu punya liburan besar, supaya bisa gantian. Bagaimana dengan hari Sabtu dan Minggu?

Photo credit: Royani Lim (tidur kecapaian di Botanical Garden, Sidney)

1 COMMENT

  1. Ketika kita yang hidup di kota besar ini selalu dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit, apalagi saat lingkaran kapitalis telah menjerat segala lini kehidupan, menjadikan manusia dan kemanusiaan terasa dikhianati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here