Ziarah ke Tanah Suci: Tiga Titik Lokasi Penting di Jalur Cairo-Sinai (5)

0
1,071 views
Sumur Musa di Mara, Mesir. (Mathias Hariyadi)

MARI sedikit kita menoleh ke belakang, melihat kembali Sejarah Penyelamatan Bangsa Israel sebagaimana ditulis dalam Kitab Keluaran. Dalam kisah perjalanan iman Bangsa Israel selama hamper 40 tahun menyusuri padang gurun bersama Musa dan Harun inilah, ada beberapa peristiwa penting yang layak kita ingat manakala kita menyusuri jalur darat rute perjalanan dari Cairo menuju Sinai.

Baca juga:  Prinsip Lima ‘S’ dalam Ziarah Rohani (4)

Pertama-tama tentu saja ‘Sumur Musa’ di Mara

Di sebuah lokasi di tepian jalan di tengah padang Gurun Syur –tepatnya di Desa Mara—ini kita melihat salah satu episod penting dalam sejarah Nabi Musa. Di sebuah sumur yang hingga kini masih mengalirkan sumber air dari tanah inilah konon Musa mengubah air sumur yang mulanya berasa pahit menjadi manis. Peristiwa ini terjadi ketika bangsa Yahudi mulai bersungut-sungut komplen kepada Tuhan mengapa di padang gurun tidak bisa mendapatkan air layak minum.

Setelah doa umat Israel didengar Tuhan dan melalui Musa Tuhan melakukan mukjizat, maka dengan ‘kayu saktinya’ Musa berhasil mengubah sumber air rasa pahit itu menjadi manis dan layak minum. Karena rasa pahit itulah, dusun di tepian Laut Merah atau Laut Teberau ini dari dulu hingga sekarang bernama Mara.

Sekarang di dusun Mara itu nyaris tidak ada siapa-siapa, kecuali beberapa orang Bedouin yang membuka tenda-tenda asongan berjualan suvenir di sekitar Sumur Musa di Mara.

Tidak jauh dari lokasi dimana Sumur Mara itu berada, maka di suatu titik lokasi berdirilah ribuan  umat Israel yang tengah menunggu datangnya mukjizat selanjutnya: Musa membentangkan tangannya dan kemudian terbelahlah Laut Merah itu menjadi seakan-akan terbendung sehingga muncullah dasar lautan yang bisa dilalui manusia.

Yang kedua adalah Elim

Jejak historis penting di Elim kini nyaris sudah tidak ada lagi, selain tumbuhnya pepohonan semak-semak dan perdu khas padang gurun. Di dusun Elim inilah umat Yahudi mendirikan kemahnya untuk beristirahat setelah Tuhan menunjukkan kepada mereka  keberadaan 12  sumber air dan 70 pohon kurma darimana mereka bisa mendapatkan makanan.

Selepas meninggalkan dusun Elim, umat Israel berangkat lagi menuju Gurun Sin yang berlokasi di sebuah titik di jalur antara Sinai dan Elim. Pada hari ke-12 di bulan ke-2 usai meninggalkan Cairo untuk berjalan di padang gurun, maka lagi-lagi mereka bersungut-sungut kepada Tuhan melalui Musa dan Harun mengapa tidak ada makanan di padang gurun. Menurut mereka, jauh lebih enak hidup sebagai budak di Ibukota Mesir daripada harus mati kelaparan di Elim dan padang Gurun Sin.

Semak belukar perdu khas gurun menjadi pemandangan utama di Elim. (Mathias Hariyadi)

Di situlah akhirnya Tuhan melakukan mukjizat dengan memberi roti putih tak beragi yang bernama ‘Mana’. Roti putih seperti warna kapas itu ‘dihujankan’ dari langit di pagi hari sehingga mereka bisa makan kenyang. Di sore hari, Tuhan ‘menjatuhkan’ ribuan burung puyuh sehingga mereka bisa makan daging.

Yang ketiga adalah Rafidim

Beruntunglah rombongan kami bisa melewati jalur rute darat melalui Rafidim ini. Aturannya jelas, rombongan mobil mana pun sudah harus sampai di Rafidim sebelum pukul 14.00 waktu setempat. Selepas jam itu, akses menuju Rafidim akan ditutup dan semua kendaraan tidak boleh melewati jalur ini karena alasan keamanan.

Kami tiba di Rafidim sebelum tenggat waktu tersebut. Bila kami melewati batas tenggat waktu tersebut, maka rute perjalanan menuju Sinai akan menjadi lebih panjang lagi; harus melewati jalur lain dan waktu tempuh bisa bertambah menjadi lima jam lagi untuk bisa sampai ke Sinai.

Namun, entah mengapa rombongan kami distop oleh aparat keamanan polisi dan tentara lengkap bersenjata di sebuah titik check point di Rafidim ini. Bus kami dan juga rombongan lain sempat  tertahan di titik strategis ini selama hampir satu jam. Ini merupakan akses utama menuju Biara St. Catharina di lereng Gunung Sinai (atau sering juga disebut Gunung Horeb) yang fenomenal ini.

Tidak ada lagi sisa-sisa kejadian historis di Rafidim ini, kecuali kisah menakjubkan bangsa Israel ketika berhasil memenangkan peperangan melawan Bangsa Amalek. Konon, dikisahkan postur bangsa Amalek ini luar biasa besar, tinggi, dan kuat dibandingkan rata-rata umat Israel pada waktu itu.

Anehnya lagi, ketika tangan Musa melakukan gerakan ‘ndaplang’ dengan mengepakkan kedua tangannya layaknya sayap burung mengepak, maka perang itu bisa dimenangkan umat Israel. Manakala ‘kepakan sayap’ tangan Musa itu mulai rebah lantaran Musa tak sanggup lagi melakukannya karena ‘kecapaian’, maka bangsa Amalek berhasil memukul mundur dan mengalahkan musuhnya: umat Israel yang tengah mengembara di padang gurun menuju Tanah Perjanjian.

Lalu apa yang dilakukan Musa agar peperangan itu dimenangkan oleh umat israel? Melalui Yoshua, Musa menyuruh beberapa orang perkasa Israel untuk maju bertempur melawan suku Amalek yang besar-tinggi posturnya, sementara di puncak bukit tangan Musa kemudian ditopang oleh  Harun dan Hur seharian dari pagi hingga menjelang malam sehingga akhirnya perang itu bisa dimenangkan oleh pihak umat Israel.

Konon, pada masa kini apa yang dulu disebut suku Amalek itu sudah tidak ada lagi. Lenyap dan hilang tak berbekas. Di Rafadim itulah, Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya “Tuhanlah panji-panjiku.”

Perjalanan grup ziarah rohani ke Tanah Suci bersama tour leader Franciscus Asmi Arijanto dari Stella Kwarta Jakarta dan Pastor Justinus Danang Sigit Koesworo dari Keuskupan Banjarmasin ini menjadi menarik karena uraian kisah biblis tersebut.

Kacamata iman

Sebenarnya ketiga lokasi itu sama sekali tidak menarik untuk dilihat  secara kasat mata, karena yang ada hanyalah sumur tua di tengah padang gurun, semak-semak perdu dan pohon kurma di tepian jalan, dan bukit-bukit cadas. Namun, kalau ketiga titik lokasi itu dipandang dengan ‘kacamata’ iman, maka Rafadim, Elim, dan Mara akan ‘banyak bicara’.

Persis di titik singgung ‘banyak bicara’ itulah, tujuan kami mendatangi ketiga lokasi historis-biblis itu menemukan legitimasinya. Di Mara, Elim, dan Rafadim itulah umat Israel disadarkan bahwa Tuhan itu memang ada dan Dia punya kuasa untuk melakukan banyak mukjizat yang menggoncangkan kesadaran religius manusia bahwa Allah itu memang eksis dan mahakuasa.

Rombongan pezairah gabungan dari Banjarmasin, Malang, Surabaya, Bandung, dan Tangerang dalam program Ziarah Mengenang Kisah Exodus di depan Sumur Musa di Mara, Mesir. (Asmi Arijanto)

Di Mara, Elim, dan Rafidim itulah Tuhan menampakkan jatidirinya kepada umat Israel ketika mereka melakukan exodus keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian. Kepada manusia zaman sekarang (baca: para peziarah rohani ke Tanah Suci), Tuhan juga hendak mengatakan hal ini: Allah adalah Sang Pencipta alam semesta dan berkuasa penuh atas semuanya itu sekaligus menciptakan kehidupan bagi manusia yang percaya kepada-Nya.

‘Buah rohani’ usai mengunjungi ketiga lokasi penting dalam sejarah historis-biblis di jalur Cairo menuju Sinai itu pada dasanya adalah pengalaman iman. Kalau tujuannya hanya berwisata, maka wajah akan menjadi gosong penuh debu pasir halus dan rasa bosan karena dalam perjalanan panjang ini yang ada hanya pasir, batu cadas, bukit gersang, dan pepohonan perdu khas gurun pasir.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here