10 Tahun Jadi Pastor: Kesepian dan Gosip Menerpa, Tetap Genggam Kesetiaan

0
52 views
Mengingat 10 tahun tahbisan imamat MSF. (Ist)

Tidak terasa langkah kami memasuki 10 tahun perjalanan imamat (19 September 2010–2020). Usia ini biasa disebut dengan istilah Lustrum II.

Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya 19 September 2010, saya Romo Yoseph Pati Mudaj MSF bersama tiga rekan yakni Romo Erdivide Naha Duhar MSF, Romo Gabriel Ama Maing MSF, dan Romo Hardianus Usat MSF menerima tahbisan imamat kami. Berlangsung di Paroki Santa Theresia Sangata, Keuskupan Agung Samarinda, Kalimantan Timur.

Lustrum II menjadi kesempatan bagi bagi kami untuk merenungkan makna imamat, tantangan dan harapan dalam perjalanan imamat selanjutnya. Kata lustrum sendiri merupakan istilah untuk menunjuk periode lima tahun di Roma Kuno.

Dalam kurun waktu 10 tahun imamat, banyak pergulatan, perjuangan dan tantangan yang kami hadapi sebagai imam. Banyak pula pengalaman indah, menarik dan mengagumkan yang kami alami.

Semua itu adalah bagian dari dinamika perjalanan imamat di tengah perkembangan zaman.

10 tahun perjalanan imamat bukanlah hal yang mudah. Kami berhadapan dengan banyak tantangan. Imamat kami juga berada di tengah-tengah pusaran zaman. Tetapi kami sadar bahwa imamat adalah rahmat dari Tuhan.

Imamat bukan tentang kemampuan kami, melainkan tentang kuasa Allah yang memampukan kami untuk teguh berdiri tegar dalam arus perkembangan zaman.

Kesepian adalah Tantangan Terbesar

Imamat bagi Pastor Gabriel Ama Maing, Pastor Paroki Tamiang Layang Keuskupan Palangka Raya, adalah rahmat Tuhan yang mendatanginya. Sesulit apa pun hidup, Tuhan datang menyapa.

“Saya pernah kalah dalam pertarungan melawan ketidakberartian diri. Saya kalah melawan rasa kecil sebagai orang yang tidak ada apa-apanya. Namun, Tuhan dengan cara-Nya menggerakkan hati nurani. Sekalipun saya lemah dan tidak sempurna, namun Tuhan telah memampukan saya,” ujarnya.

Bagi Pastor Gabriel, demikian biasa disapa, imamat di tengah zaman ini berhadapan dengan aneka tantangan.

“Kesepian adalah tantangan terbesar seorang imam. Zaman yang menawarkan aneka kemudahan, ternyata juga mudah menggiring seorang imam sampai pada keterasingan diri. Dari situ, kesepian dengan mudah merasuki dirinya,” jelasnya.

Karena itu, Pastor yang sudah menelurkan beberapa album lagu ini, imamat tidak bisa dilepaskan dari hidup doa dan mati raga. Ia berusaha agar tidak terlekat dan tergantung pada alat-alat teknologi dan komunikasi. Ia harus kembali kepada Tuhan.

“Tidak ada hal yang mudah dalam sebuah perjuangan. Jatuh-bangun dalam perjalanan imamat kerap terjadi. Terlepas dari Tuhan, saya pasti mengalami kesepian yang hebat. Karena itu, saya selalu berjuang sekuat tenaga untuk melibatkan dan menghadirkan Tuhan. Sehebat apa pun saya, Tuhan tetap menjadi sumber kekuatan,” katanya.

Imamat, baginya, adalah pembawa hidup Kristus (Christo foroi). Imamat bagaikan air yang mengalir di tanah berbatu karang dan kering kerontang, yang membuat hidup iman umat semakin subur karena menghadirkan Kristus yang hidup.

Saat tahbisan imamat 10 tahun silam.

Medan pelayanan yang sulit

Bagi Pastor Erdivide Naha Duhar MSF, Pastor Paroki St. Joan Don Bosco Sampit Keuskupan Palangka Raya, imamat adalah pengutusan. Pengutusan itu anugerah Allah dan bukan berdasarkan kekuatan sendiri. Namun Tuhan punya cara sendiri untuk menerima perutusan mulia ini.

“Saya pernah mengalami saat-saat sulit, baik sewaktu masih kuliah atau sebagai imam muda. Pusaran tantangan menghantam diri saya. Tetapi saya tetap komitmen pada tugas pengutusan. Saya memahami pengutusan ini sebagai rahmat. Tuhan selalu menolong saya,” ujarnya.

Pastor Erdi, sapaannya, pernah bertugas sebagai formator untuk mendampingi para Seminaris Postulan MSF di Banjarbaru dan Frater-frater Skolastikat di Malang. Pengutusan itu juga menjadi kesempatan bagi dia untuk semakin mematangkan imamatnya.

“Tidak hanya mendampingi dan membentuk para formandi. Inilah kesempatan bagi saya untuk menginternaliasi atau membatinkan nilai-nilai dalam kehidupan imamat saya,” tandasnya.

Tantangan imamat yang ia hadapi adalah bagaimana mengalahkan diri dan rasa lelah. Pastor Erdi sekarang berkarya di Paroki Sampit, Keuskupan Palangka Raya, yang memiliki lebih dari 30 stasi pelayanan.

Sarana transportasi yang digunakan adalah lewat darat. Namun tidak semua stasi ini dapat dijangkau dengan mudah.

“Kadang kita harus menyediakan tenaga ekstra berhadapan dengan kondisi jalan di perkebunan kelapa sawit. Banyak stasi berada di lokasi ini. Kita harus melewati jalan yang acap kali tidak bersahabat. Pernah saya harus bermalam di tengah hutan,” kisahnya.

Saat ditahbiskan imam 10 tahun silam.

Sulitnya medan karya, di satu sisi menjadi tantangan, tetapi di sisi lain memberikan keindahan tersendiri. Alangkah bahagia dan menyenangkan hati, setelah menempuh jalan yang becek (musim hujan) atau berdebu di musim kemarau), ia merasa sukacita karena bertemu dengan umat yang sungguh merindukan kehadirannya.

“Rasa lelah saya terobati, ketika sudah bertemu dengan umat di stasi,” tandasnya.

Berhadapan dengan kondisi medan pelayanan tersebut, Pastor Erdi mempunyai kebiasaan untuk mengadakan meditasi sebelum turne (pelayanan ke Stasi). Ia berusaha untuk menimba kekuatan dari Tuhan. Ia yakin, kekuatan Tuhan akan mengatasi segala rintangan yang dihadapi.

Dengan pertambahan usia imamat, ia berharap dan berusaha agar hidupnya semakin membawa kehidupan Kristus dalam pelayanan sebagai imam agar Kristus menjadi semakin menyatu dalam hidupnya dan dirasakan oleh umat yang dilayani.

Bukan miliknya sendiri

Bagi sebagian umat, hidup seorang imam terlihat enak; tidak perlu memikirkan soal makan-minum, pakaian, rumah, biaya ini-itu, atau mencemaskan masa depan. Sepertinya tak punya beban hidup. Pokoknya hidup Imam itu enak.

Benarkah Demikian?

Bagi Pastor Hardianus Usat MSF, Pastor Paroki St. Mikael Tamiang Layang, Keuskupan Palangka Raya, salah satu pengorbanan seorang pastor adalah waktu. Waktu pastor bukanlah miliknya sendiri. Sebagian besar waktunya didedikasikan untuk banyak orang.

“Saya harus siap dipanggil siang atau malam untuk memimpin misa atau memberikan Sakramen Perminyakan. Saat sedang mengerjakan sesuatu, berolahraga atau bahkan tidur, ketika ada umat yang meminta, saya harus berangkat,” ujarnya.

Belum lagi ikatan emosional dengan keluarga dan teman-teman yang kadang melintas dan tak terbendung. Ditambah lagi beredar gosip dan tuduhan-tuduhan miring yang kadang membuatnya tidur tidak tenang, makan tidak enak atau berdiri tidak kuat.

Dalam karya pelayanan, jelas Pastor Usat, “Saya tidak bisa memilih tempat yang kami sukai. Sebagai imam religius yang mengikrarkan Kaul Ketaatan, saya taat diutus ke mana pun oleh pimpinan.”

“Kalau sudah nyaman di suatu tempat, kami bisa saja dipindahkan ke tempat lain. Kadang ditempatkan di daerah terpencil dengan medan pelayanan yang berat atau kehidupan yang keras dan sulit,” ujarnya.

“Dalam hidup komunitas, kami tidak memilih siapa rekan kami; beda dengan suami-istri yang bebas memilih. Kami harus menerima siapa pun. Kadang kami berhadapan dengan rekan yang karakter, hobi atau minatnya bertolak belakang yang bisa memincu adanya konflik.”  

“Jadi, ada juga hal yang ‘tidak enak’ menjadi pastor menurut standar manusia. Tapi bagi kami, panggilan hidup imamat bukan soal ‘enak atau tidak’ melainkan bahagia atau tidak.”

Rahmat tahbisan mampukan diri

Rahmat tahbisan memampukan kami untuk melihat segala sesuatu tidak hanya dari kaca mata manusiawi, tetapi hal terpenting adalah kaca mata ilahi, bahwa Allah yang telah memulai karya baik dalam diri imam-Nya, Ia pulalah yang akan menyelesaikannya.

Selama imamat membuat kami bahagia, maka hal yang ‘enak atau tidak’ menurut standar manusiawi tetaplah menjadi sarana bukan tujuan.

Tujuan imamat bukan soal seberapa banyak sarana yang dimiliki, tetapi seberapa jauh dan dalam kebahagiaan dan sukacita Tuhan menjangkau orang lain.

Selama imamat membuat kami bahagia, maka tantangan sebesar apa pun akan kami lewati. Kami yakin, Tuhan tidak menjanjikan kemudahan dalam imamat. Tuhan berjanji akan menyertai perjalanan imamat kami. Sebab, jalan yang kami pilih ini menyerupai jalan Yesus Kristus sendiri, jalan salib.

Apa kekuatannya?

Hidup kami melulu karena rahmat dan kasih Tuhan. Tuhan selalu punya cara untuk menuntun kami sebagai pelayan-Nya.

Untuk itulah, seorang pastor harus memiliki relasi khusus dengan Tuhan. Pastor harus menjadi manusia pendoa, man of prayer.

Ketika hidup imamat dan pelayanan seorang imam dilaksanakan dalam semangat doa, maka akan menghasilkan buah bagi umat. Tetapi pelayanan tanpa didasari doa tidak ada bedanya dengan pekerja sosial semata.

Seorang imam bukan seorang pekerja sosial. Ia adalah man of God yang hidup dan berkarya dalam napas injil. Artinya Roh kuduslah yang memberi kekuatan. Dalam doa, ia membuka diri terhadap kekuatan Roh Kudus.

Bagaimana pun juga kami adalah manusia yang punya kelemahan. Kehadiran kami bisa saja menjengkelkan karena kami bisa egois, otoriter dan merasa paling berkuasa.

Apapun kelemahan kami, kami hadir untuk membawa berkat Tuhan. Kami adalah orang biasa yang dipanggil Tuhan untuk melaksanakan hal-hal yang luar biasa. 

Melalui diri kami yang hina dina ini, Tuhan bisa saja membuat orang yang kehilangan harapan mendapatkan harapan, orang yang kering hidupnya mengalami kesegaran, orang yang lemah mendapatkan kekuatan, orang yang sedih mendapatkan kegembiraan.

Caritas Christi urget nos

Pengalaman-pengalaman yang kami alami; susah-senang, tawa-tangis, jatuh-bangun selama 10 tahun imamat telah memberi warna dalam hidup kami sebagai imam. Di atas segalanya, kami bersyukur atas penyertaan dan penyelenggaraan Tuhan atas perjalanan imamat kami.

10 tahun bukan waktu yang lama jika dibandingkan dengan satu abad. Tapi 10 tahun adalah waktu yang lumayan lama, kalau dihitung dengan hari, apalagi jam.

Jika setahun terdapat 365 hari, maka usia tahbisan kami mencapai 3.650 hari. Jika sehari-semalam ada 24 jam, maka usia tahbisan kami sudah 87.600 jam.

Tapi hitungan tahun, hari atau pun jam tiadalah artinya jika masa-masa yang telah kami lalui tanpa makna.

Sepuluh tahun imamat membentangkan banyak kisah dan mengukir sejuta makna. Setidaknya dengan segala kekurangan dan kelebihan manusiawi yang ada pada diri, kami berusaha agar kehadiran kami bermanfaat. Hidup menjadi berkat. Imamat menjadi saluran rahmat.

Kami telah berusaha. Tetapi kami juga manusia biasa. Jalan hidup tidak selamanya lurus dan mulus. Selalu ada tikungan, tanjakan dan kelokan. Diri kami ini tidak sempurna.

Perjalanan semakin jauh. Tantangan pun takkan pernah berhenti. Tetapi ada keyakinan bahwa “Kasih Kristus menguasai kami (Caritas Christi urget nos).”

Keyakinan ini kami jadikan sebagai motto tahbisan bersama yang melukiskan kuasa kasih Kristus menopang langkah kami. Kasih Kristus mewarnai perjalanan kami. Kami tidak sendirian.

Memang, jalan masih panjang. Lika-liku kehidupan masih membentang di depan sana. Kami harus terus dan perlu belajar untuk menggenggam kesetiaan imamat.

Doakan dan dukunglah kami imam-imam yang sedang berjuang untuk menggenggam kesetiaan imamat yang sudah kami terima dari Tuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here