100 Tahun Legio Mariae: Pesan Kardinal Ignatius Suharyo, Jadilah Legioner Peduli

2
305 views
Kanvas menandai perayaan 100 tahun keberadaan Legio Mariae. Kanvas ini ditandatangani para uskup se -Indonesia. (Dok. Senatus Bejani Rohani Jakarta)

LEGIO Mariae tahun 2021 ini merayakan genap 100 tahun keberadaannya.

Frank Duff, pendiri Legio Mariae

Legio Mariae adalah organisasi kerasulan awam Katolik. Gerakan ini berdiri tanggal 7 September 1921 dan berpusat di Dublin, Irlandia. Didirikan oleh seorang bernama Frank Duff.

Pria kelahiran Irlandia 7 Juni 1889 ini awalnya bergabung dengan Serikat Sosial Vinsensius yang telah lama aktif membinanya. Dampak baiknya, Frank lalu mempraktikkan penghayatan iman Katolik secara mendalam.

Proses pembinaan diri itu juga berhasil membentuk Frank Duff menjadi sosok pribadi yang punya kepedulian tinggi terhadap kebutuhan orang-orang miskin dan berkekurangan.

Bersama dengan sekelompok wanita Katolik dan Pater Mickhael Toher, Uskup Agung Dublin waktu itu, Frank Duff lalu membentuk presidium Legio Mariae yang pertama. Itu terjadi tanggal 7 September 1921. Sejak hari itu, ia membimbing perluasan Legio.

Ia adalah figur seorang awam yang setia dalam tugas kerasulan bagi Gereja. Teladan kebajikan dan semangat pelayanannya telah menginspirasi banyak umat untuk mengikuti jejaknya.

Tercatat sampai dengan sekarang, komunitas Legio Mariae telah tersebar di seluruh dunia.

Di Indonesia telah ada 3 senatus, terdiri dari Senatus Jakarta, Malang dan Kupang, 33 propinsi, 35 keuskupan dan 65.849 legioner.

Ekaristi syukur

Sebagai ungkapan syukur ulang tahun ke-100 atas kehadiran Legio Mariae, Senatus Bejana Rohani Jakarta menyelenggarakan perayaan ekaristi di Gereja Katedral. Lalu disiarkan melalui YouTube Komsos Katedral dan YouTube Senatus Bejana Rohani.

Acara diawali dengan doa harian legioner, yaitu Doa Tesera dipimpin oleh para perwira senatus dan dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi secara konselebran.

Dipimpin oleh Ignatius Kardinal Suharyo didampingi Romo Antonius Didit Soepartono selaku pemimpin rohani Senatus Jakarta dan Romo Aloysius Susilo Wijoyo, pemimpin rohani Paroki Pulo Gebang yang juga pencipta lagu mars Legio.

Perayaan Ekaristi konselebrasi memperingati keberadaan Legio Mariae yang genap berumur 100 tahun di tahun 2021. Misa konselebrasi ini berlangsung di Gereja Katedral Jakarta bersama (ki-ka) Romo Didit Soepartono Pr, Ignatius Kardinal Suharyo, dan Romo Susilo Wijoyo Pr. (Senatus Bejana Rohani Jakarta)

Wajah Gereja yang peduli

“Bersama para uskup yang tergabung dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), saya menyampaikan proficiat dan bersyukur atas ulang tahun yang ke-100 tahun Legio Mariae.

Terimakasih atas kehadiran dan pelayanan di berbagai keuskupan di Indonesia. Semoga kehadiran para legioner, khususnya di wilayah-wilayah Indonesia, semakin menampilkan wajah Gereja.

Wajah Bunda Maria yang berdoa, wajah Gereja yang setia dan wajah Gereja yang peduli,” ujar Bapak Kardinal menyampaikan kata pembuka.

Di awal homilinya, beliau mengulas bacaan Injil tentang pertanyaaan Yesus kepada para muridnya (Markus 8: 27): ‘Menurutmu, siapakah Aku ini?’

Kalau saja pertanyaan itu kiranya pernah sampai ditujukan kepada ibunya, Bunda Maria, demikian pengandaian Kardinal, kata Yesus begini: ”Ibu, menurutmu, siapakah saya ini?”.

Kira-kira dalam kontemplasinya, kiranya pertanyaan itu akan dijawab oleh Bunda Maria kurang lebih begini: ”Engkau adalah wajah Allah yang peduli.”

Bukan, “Oh kamu itu anakku…dst”

Jawaban Bunda Maria yang seperti itu –bahwa “Yesus adalah wajah Allah yang peduli” itu merupakan cerminan makna dari berbagai kisah perjalanan puteranya. Di mana Yesus selalu saja menampakkan kepedulian-Nya yang mendalam kepada sesama -siapa pun juga mereka- yang menderita sakit, lemah, dan berkekurangan.

Dalam Injil Markus dikisahkan peristiwa Yesus menyembuhkan orang kusta di mana ada teks berbunyi: “Hatinya tergerak oleh belas kasihan”.

Itu jelas merupakan tanda Yesus peduli. Juga ketika, Ia melihat orang banyak kelelahan dan tidak punya makanan, Yesus lalu mengatakan: “Hatiku tergerak oleh belas kasihan”.

Lalu di dalam kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian tertulis kisah ketakutan Kain setelah membunuh adiknya Habil. Ia bersimpuh di hadapan Tuhan. Dengan kasih kepeduliannya, Allah menjawab: “sekali-kali tidak”. Ini untuk meredam ketakutan Kain yang dalam hatinya selalu dicemaskan oleh kekhawatiran jangan-jangan Allah nanti akan menuntut balas dendam atas kematian adiknya.

Itulah bukti kasih Allah yang mau peduli terhadap manusia yang tidak peduli. Kepedulian Allah itu dinyatakan pada saat menciptakan alam semesta. Di dalam Kitab Kejadian itu dikatakan, Allah akan mengusahakan dan merawat alam semesta.

Ini bukti bahwa Allah itu memang sedari awal sudah sangat peduli dengan ciptaan-Nya.

Yesus, wajah Allah yang peduli

Yesus adalah wajah Allah yang peduli, maka kita juga dapat melihat wajah Bunda Maria yang peduli.

Hal ini dapat kita ingat dalam sejarah Gereja. Saat Yesus wafat, para murid-Nya menjadi kecil hati, cemas. Di dalam hati mereka masing-masing lalu muncul keraguan: jangan-jangan Yesus ini bukan Tuhan yang selama itu sudah mereka kenal dan akui.

Namun Bunda Maria selalu berada bersama mereka. Ia menjadi sangat peduli dan memahami kecemasan dan situasi batin para murid Yesus.

Bunda Maria hadir dengan kasih keibuan dan kepeduliaanya. Ia berhasil menenteramkan kegalauan hati murid-murid Yesus.

Akibatnya, mereka kembali bersemangat mewartakan Injil tanpa takut. Bahkan saat mereka ditangkap dan dipenjara, mereka berani mengatakan secara publik: “Bergembira, karena boleh menderita dalam nama Yesus” .

“Kepeduliaan yang membangkitkan semangat. Kepeduliaan yang membangkitkan harapan. Kepeduliaan yang membangkitkan para rasul sehingga akhirnya mereka masing-masing lalu berani mewartakan sabda-Nya. Tanpa takut,” ungkap Kardinal.

Peran penting legioner

Menutup homilinya beliau berpesan berikut ini.

“Dalam rangka ulang tahun ke-100 ini, saya kira sangat bagus, jika legioner menjadikan pribadi-pribadi anggotanya dan seluruh Gereja menjadi pribadi-pribadi dan Gereja-gereja yang peduli.

Saya yakin tugas-tugas sederhana yang dilakukan para legioner seperti kunjungan orang sakit dan hal-hal kecil dapat dilakukan dengan cinta yang besar.

Ini seperti semangat hidup Santa Teresa dari Kalkuta: “Melakukan hal-hal yang sederhana dengan cinta yang besar.

Semoga berkat kehadiran para legioner, maka semakin tampaklah wajah Allah, wajah Kristus, wajah Bunda Maria, dan wajah Gereja yang peduli.

Mari kita saling mendoakan agar karya-karya itu menjadi nyata dalam sejarah Gereja di Indonesia yang kita cintai ini,” begitu Kardinal Suharyo mengatakan pesan pentingnya kepada seluruh legioner di Indonesia.

Sejak 1951

Romo Antonius Didit Soepartono selaku Pemimpin Rohani Senatus Jakarta menghaturkan terimakasih kepada Bapak Kardinal beserta seluruh pemimpin Gereja Katolik Indonesia sehingga kerasulan Legio Mariae ini bisa terus bertumbuh dan berbuah sejak tahun 1951.

Bersyukur pula atas pendiri Legio Mariae: Frank Duff. Berkat dan karya kerasulannya sebagai legioner perintis awal, ia telah melahirkan legioner-legioner sejati di seluruh belahan dunia yang peduli dan terus berusaha berkarya dalam doa dan tugas perutusannya.

Jelang wafatnya, Frank Duff berpesan: ”Sejak saat pertama, Legio Mariae ada di tangan Bunda Maria. Kematianku tidak akan menghilangkannya.”

Kardinal memberi berkat berupa percikan air suci pada kanvas yang berisi tandatangan dari perwakilan para uskup di seluruh Indonesia, sebagai pertanda seluruh legioner bersedia diutus menjadi hambaNya lewat doa dan karya dan bersedia berbela rasa bagi sesama.

Dirgahayu Legio Mariae ke-100 tahun.

Semoga semakin menjadi berkat. Kita siap diutus.

2 COMMENTS

Leave a Reply to Anastasia Dona Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here