102 Tahun Kekatolikan dan Pesta Emas Gereja St. Martinus Ruto di Ngada, Flores

0
926 views
Mgr Vincentius Sensi Potokota sedang menaiki tangga untuk masuk dalam gereja. (Afled Jogo Ena)

INI bak membidik sesuatu yang indah dari ketinggian Mahhilewa yang menancap kokoh di Pesisir Ruto.

“Manusia yang beradab adalah manusia yang menghargai sejarah. Karena dunia ini berjalan dalam rentang sejarah. Ketika kita belajar menghargai apa saja yang terjadi dalam rentang sejarah itu, kita belajar menjadi manusia yang beradab.”

Demikian kata Uskup Agung Keuskupan Ende Mgr. Vincentius Sensi Potokota dalam misa syukur 102 tahun sejarah kekatolikan dan pesta emas 50 tahun Gereja Santo Martinus Ruto, di Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, NTT,  pada tanggal 30 Agustus 2017.

Perayaan puncak kedua momen ini diawali dengan ibadat sore yang dipimpin oleh Mgr. Sensi pada tanggal 29 Agustus. Dalam homili singkatnya, Mgr menegaskan kembali apa yang pernah ditulisnya dalam sambutan untuk buku Ziarah Pastoral Paroki Santo Martinus Ruto dari Masa Ke Masa.

Bapak Uskup mengungkapkan kekagumannya ketika pada 26 Desember 2014 silam menjejakkan kakinya di Maghilewa.

Para penari berfoto bersama bapak Uskup sesaat sebelum upacara penyembelihan kerbau, 29 Agustus 2017. (Afred Jogo Ena)

Maghilewa merupakan sebuah kampung di bawah kaki Gunung Inerie. Inilah tempat para misionaris SVD dulu pertama kalinya  meletakkan dasar kekatolikan di pesisir selatan Ngada.

Perayaan syukur meriah ini yang ditandai dengan penyembelihan seekor kerbau sebagai lambang korban bakaran dan korban syukuran. Penyembelihan kerbau ini didahului dengan doa adat oleh sesepuh dan tarian jai  yang diiringi musik gong dan gendang oleh perwakilan umat dari setiap KUB yang hadir.

para penari yang bertugas menari selama perayaan liturgi berlangsung di dalam gereja. Mereka menari di depan altar. (Alfred Jogo Ena)

Syukur lahiriah yang sangat meriah ini sungguh diwujudkan dalam berbagai kegiatan rohaniah yang melibatkan seluruh umat di setiap lingkungan dan KUB (Komunitas Umat Basis).

  • Ada berbagai rangkai doa dan novena kepada Santo Martinus pelindung paroki.
  • Ada juga berbagai perlombaan: koor antar sekolah, antar KUB, sepakbola, bola volley, lomba menggambar, mewarnai dan lomba Kitab Suci.
Para romo menyanyi untuk menghibur umat yang sedang makan. (Alfred)

Atas berbagai kegiatan ini, termasuk penerbitan buku kenangan oleh Bajawa Press Yogyakarta, Ketua Panitia menegaskan demikian dalam sambutannya:

“Sebagai Ketua Umum Panitia Syukur 50 tahun ini, saya merasa bahagia karena mendapat kesempatan untuk menyampaikan bahwa pesta syukur ini adalah sebuah wahana untuk tidak saja melihat kembali kehadiran sebuah gedung gereja yang megah, melainkan dalam membangun Gereja Umat Allah (communio) dan mengembang­kan iman umat lewat karya-karya pastoral umat Paroki Santo Martinus Ruto.”

Kehadiran gedung gereja yang megah perlu selalu didukung oleh dan dengan kemantaban diri sebagai Gereja yang hidup, Gereja yang terus hidup dalam sanubari umat sebagai satu paguyuban.

Mengenang yang lampau

Puncak syukuran (untuk mengenang 50 tahun penahbisan gedung gereja pada 30 Agustus 1967 oleh Mgr. Gabriel Manek SVD) pada tanggal 30 Agustus 2017 lalu itu diawali dengan misa agung yang dipimpin oleh Mgr. Vincentius Sensi Potokota didampingi Romo Vikep Bajawa Dr Daslan Maong Kabu dan Pastor Paroki Ruto RD Albert Yunialdus Ninung bersama 25 imam konselebran. Para imam ini  sebagian besar merupakan para mantan pastor paroki dan putera-putera paroki.

Sebut saja misalnya  antara lain berikut ini:

  • RD Gabriel Idrus (kini Praeses Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhamans Mataloko, mantan pastor paroki Ruto 1998-2002);
  • RD Edwaldus Martinus Sedu Gapi (Putera Paroki, sekarang Vikjen Keuskupan Maumere);
  • RD Dominikus Dange (Putera Paroki, sekarang Ketua Yayasan Persekolahan Katolik Keuskupan Maumere);
  • RD Donatus Wea (Putera Paroki, sekarang Ketua STIPAS Santo Yakobus Merauke), dan masih banyak lainnya.

Seusai misa, umat yang hadir kurang lebih 2.000-an  orang duduk menurut lingkungan dan KUB untuk menikmati santap siang bersama. Setiap keluarga membawa nasi, sedangkan lauknya setiap lingkungan telah memotong seekor babi dan paroki menyediakan seekor kerbau dan dua ekor babi untuk tamu undangan.

Para tamu undangan dan romo membaur dalam makan bersama umat. (Alfred Jogo Ena)

 

Makan bersama ala menghe

Cara makan yang disebut menghe dalam bahasa Bajawa ini mengingatkan kita akan peristiwa lima roti dan dua ikan yang dilakukan Tuhan Yesus bersama para murid dan umat yang mengikuti-Nya.

Umat bersama seluruh imam dan undangan yang hadir juga larut dalam tarian jai. Jai menjadi tarian kegembiraan yang mempersatukan seluruh umat.

Setelah perjalanan iman yang panjang selama 102 tahun,  Paroki Santo Martinus (sebelumnya bernama Paroki Santa Familia Maghilewa) kini sudah mewujud dalam empat stasi (Maghilewa, Paupaga, Waebela dan Ruto), 12 Lingkungan, 64 Komunitas Umat Basis (KUB), 1354 Kepala Keluarga dan 6.010 umat.

Paroki ini  berada di sepanjang garis pantai Laut Sawu sepanjang kurang lebih 45 Km dan diapit dua paroki yakni Paroki Aimere di Barat dan Paroki Boba di Timur ini yang  100% Katolik.

Perjalanan misi di Paroki ini telah melahirkan 24 imam dan 25 suster yang tersebar dalam berbagai tarekat di dalam maupun di luar negeri, serta belasan siswa/frater di seminari menengah dan seminari tinggi dan belasan calon suster di berbagai tarekat.

Selamat bersyukur atas kenangan iman yang luar biasa ini.

Ruto 30 Agustus 2017 dan Yogyakarta 4 September 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here