17 Tahun Kongregasi Suster CIJ Gelar Misi Kemanusiaan di Giulianova, Italia

0
1,583 views
Karya suster Kongregasi CIJ di Giulianova, Italia. (Ist)

MENGAWALI tulisan ini, patutlah saya bersyukur kepada Allah Tritunggal Mahakudus. Utamanya, karena telah memperkenankan Congregatio Imitationis Jesu (CIJ) mengembangkan sayap misi-Nya dan meneruskan warta belaskasih-Nya kepada yang kecil dan terlantar.

Syukur berlimpah kami madahkan bersama Maria, Ibu dan Pelindung Utama Kongregasi.

Giulianova, karya sederhana untuk kemanusiaan

Sederhana itu bermakna. Barangkali ungkapan ini tepat untuk melukiskan tentang karya kami di sebuah kota kecil Giulianova, Italia.

Secara administratif pemerintahan, Giulianova termasuk dalam Regio Abruzzo, Propinsi Teramo. Kota dengan jumlah penduduk 23.728 (berdasarkan data 31 Desember 2018) ini, masuk dalam wilayah Keuskupan Teramo.

Karena letaknya yang persis berada di garis pantai, tempat ini, terkhusus di musim panas, ramai dikunjungi oleh para turis baik domestik maupun manca negara.

Dari kota ini, kita bisa mengunjungi kota Roma, yang berjarak kurang lebih 196 km dan bisa ditempuh dengan kendaraan umum (bus) selama kurang lebih 3,5 jam.

Sebagai sebuah kota kecil, Giulianova terbagi atas dua paroki yaitu Paroki San Pietro Lido (di daerah pantai) dan Paroki St. Flavianus Paese (di gunung).

Komunitas CIJ Giulianova termasuk dalam wilayah pelayanan Paroki St. Flavianus.

Wilayah Giulianova, Italia. (Ist)

Misi perdana di Eropa

Misi kemanusiaan di Giulianova merupakan misi perintis bagi pengembangan karya suster-suster CIJ di Eropa. Misi ini bermula dari Kapitel Umum Biasa CIJ ke VI tahun 2001. Hasilnya antara lain merekomendasikan perluasan misi CIJ di luar negeri, terkhusus ke Eropa.

Sr. Ivonny Kebingin CIJ, yang saat itu sedang studi misiologi di Roma, diminta oleh Kongregasi untuk membangun korespondensi dan mencari peluang yang memungkinkan terlaksananya rekomendasi kapitel itu.

Melalui ibu asramanya di Foyer (asrama milik Propaganda Fide), Sr. Ivonny dibantu untuk menemukan tempat karya yang sesuai dengan misi Kongregasi.

Pada bulan Februari 2003, persis 17 tahun lalu, CIJ memulai karyanya di Giulianova, Italia. Misi ini sekaligus sebagai penegasan terlibatnya CIJ dalam misi universal Gereja, terkhusus seperti yang disampaikan dalam injil Matius: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat. 25:40)

Institut “Castorani-De Amicis”

“Biarkan anak-anak itu datang kepada-KU,” seruan Yesus ini menjadi inspirasi bagi terlibatnya CIJ dalam karya misi di Giulianova. Tugas kami serasa sangat kecil dan sederhana, tapi sangat berpengaruh pada perjuangan eksistensi dan pembentukan diri seorang anak manusia.

Kami berkerja di bawah naungan sebuah lembaga bernama “Castorani-De Amicis.”

Tujuan utama institut ini adalah memberi perlindungan terhadap setiap keluarga, terkhusus anak-anak minori usia dini (dan juga kaum muda) yang terpinggirkan, yang orangtuanya kedapatan ketagihan mengkonsumsi obat-obat terlarang atau yang berasal dari keluarga broken home.

Institut yang didirikan 1930 ini  juga memberi pendidikan psikososial bagi anak-anak di bawah umur yang ditolak atau dibuang dari keluarganya.

Melalui komunitas Ibu–Anak, institut ini juga menjadi pusat penitipan anak yang berusia antara 3 bulan dan 6 tahun. Layanan ini bertujuan untuk mendampingi pertumbuhan anak di bawah umur dan mendukung keluarga dalam tugas mereka.

Berada di Giulianova, pada sebuah Institut yang dikelola oleh para awam dan kami menjadi mitra kerjanya ini bak menjadi semacam “bunga mawar” di altar Tuhan.

Ini juga mendorong kami untuk terus menyiraminya, merawatnya dan mencintainya. Karena manusia-manusia kecil yang kami layani adalah mereka yang pantas untuk diperhatikan, dibantu, dilatih dan dicintai. 

Menjadi teman mereka.

Ada-bersama dengan yang kecil dan bermasalah

Mungkin ada baiknya bertanya, mengapa kami berkarya di Giulianova, bukankah problem yang sama ada di Tanahair Indonesia? Apa yang membuat kami berani meninggalkan Tanahair dan terlibat dalam karya ini?

Sejalan dengan Panduan Dasar dan Spiritualitas Kongregasi, kami melihat misi di Giulianova sebagai keterlibatan Kongregasi dalam misi universal Gereja dan sebagai “Misi Kehadiran” CIJ di tengah kompleksitas penyakit sosial masyarakat.

Berada bersama anak-anak yang “dipaksa” meninggalkan rumah dan “wajib” dipisahkan dari orangtua serta keluarga tidaklah mudah.

Di balik kepolosan dan keluguannya, anak-anak ini menyimpan duka dan luka yang tak mudah diobati. Psike mereka terguncang, karena tidak bertanggungjawabnya orangtua yang seharusnya menjadi tumpuan dan panutan hidup.

Konsekuensinya, anak-anak ini menjadi sangat temperamental.

Sulit diatur, tidak respek terhadap orang lain, kasar, sikap acuh tak acuh menjadi pengalaman harian kami bersama mereka. Terkadang kami merasa harga diri kami diabaikan, jubah kebiaraan kami tidak dihargai.

Perbedaan kultur juga menjadi tantangan yang tak mudah untuk dijalani.

Senyum bahagia.

Bahagia melihat mereka tersenyum

Kecintaan para suster terhadap misi kemanusiaan ini yang tentu karena rahmat Tuhan yang mahakasih dan berangkat dari naluri “keibuan” kami, telah memampukan kami menerima anak-anak ini apa adanya.

Kami dimotivasi untuk mengasihi dan mencintai mereka dengan tulus dan ikhlas.

Dengan terciptanya komunikasi yang mengalir dari hati ke hati, duka mereka menjadi duka kami bersama dan kehadiran kami menjadi seperti tetesan air di padang gurun kehidupan mereka.

Sebagai biarawati CIJ, kami mewujudnyatakan kaul-kaul kebiaraan dengan ada bersama anak-anak (0-3 tahun) ini.

Kami mau melayani mereka dengan segenap hati. Seperti hati seorang ibu yang mengasihi tanpa pamrih dan tanpa menuntut balas jasa.

Di sini, sebagai perempuan religius yang berkaul, kami menemukan kepenuhan hidup. Kaul-kaul kebiaraan memotivasi kami untuk rela berkorban, untuk meninggalkan segalanya, untuk mencintai tanpa syarat, agar sebisa mungkin melodi cinta Ilahi tetap berkumandang di hati banyak manusia.

Inilah misi para Suster CIJ, di salah satu negara maju Eropa, yang tak luput dari problem sosialnya.

Berbekalkan sebuah “hati yang tulus” kami siap mengabdi, memberi hidup kami bagi sesama, untuk melayani mereka dengan sejuta pelukan kasih.

Adalah sebuah kebahagian terbesar, bila kami melihat mereka tersenyum.

Memaknai misi kemanusiaan

Ketika saya merenung pengalaman misi ini dengan tantangan yang dihadapi, saya dikuatkan oleh berjuta pengalaman para misionaris Eropa di Flores. Terkhusus kecintaan Bapa Pendiri Kongregasi CIJ, Mgr. Heinrich Leven SVD, yang memutuskan mau bermisi di Kepulauan Sunda Kecil.

Beliau dan juga banyak misionaris lainnya begitu mencintai tugas misinya, bahkan mempertaruhkan nyawa demi orang-orang yang mereka layani.

Hal ini mendorong saya, sebagai misionaris CIJ yang datang dari Lembata di Flores, lalu bersemangat juga berkarya di wilayah Italia untuk mencintai misi ini.

Saya tak punya apa-apa, tapi saya punya sebuah “hati“ yang siap menerima mereka apa adanya.

Saya punya “telinga” yang siap mendengarkan teriakan minta tolong mereka setiap waktu.

Dan semoga melalui sentuhan tanganku, anak-anak ini bisa mengalami kehangatan kasih Ilahi, Tuhan yang menerima mereka apa adanya dan selalu berkata: “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku.”

Kehadiran 24 jam untuk anak-anak di Giulianova –yakni misi kehadiran ini– walau terlihat kecil dan sederhana, walau tak mudah dan penuh tantangan, tapi kami yakini hal ini. Yakni, bahwa Tuhan selalu berjalan bersama kami. 

Dia pun tersenyum bahagia melihat anak-anak di Giulianova mengukir senyum di bibir mereka.

Terima kasih kepada saudari-saudariku para CIJ yang sudah pernah dan kini masih setia berkarya di Giulianova:

  • Sr. Wigberta Kedang CIJ.
  • Sr. Mathilda CIJ (alm).
  • Sr. Monique CIJ.
  • Sr. Norbertin CIJ.
  • Sr. Auxilia CIJ.
  • Sr. Maria Virgien CIJ.
  • Sr. Dolorosa CIJ.
  • Sr. Paula Pute CIJ.
  • Sr. Gerardiana CIJ.
  • Sr. Editha CIJ.
  • Sr. Imelda CIJ.
  • Sr. Ansita CIJ.
  • Sr. Maria Kristina Mite CIJ.
  • Sr. Irene Wukak CIJ.
  • Sr. Maria Yakoba Wonga CIJ.
  • Sr. Paula Pute CIJ.
  • Sr. Maria Avilla Barek Aran CIJ.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here