25 Tahun Imamat Romo Simon Margono Pr, Tak Pernah Sesal Diri Jadi Imam

0
521 views
Uskup Keuskupan Agung Palembang Mgr. Yohanes Harun Yuwono menyalami sang yubilaris Romo Simon Margono Pr yang merayakan pesta perak imamatnya. (Romo Titus Jatra Kelana Pr)

JALANAN Lintas Timur Sumatera yang menghubungkan Kota Palembang dan Lampung tampak lengang. Tak banyak kendaraan  melintas di jalanan aspal yang beroperasi sejak awal tahun 1990-an ini.

Sejak Tol Trans Sumatera dibuka praktis kendaraan yang melintas jumlahnya menurun, jika dibanding tahun-tahun sebelumnya. Itulah suasana yang tampak di Desa Muara Burnai I, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Kamis (22/7) yang lalu.

Di tengah jalan beberapa orang tampak berjaga, berbekal peluit dan bendera putih dengan sigap mereka mengatur lalu litas di jalanan Lintas Timur yang lengang itu.

Mereka mengarahkan dan memandu umat yang tampak datang berbondong-bondong menuju tenda yang sudah berdiri kokoh dengan kursi-kursi yang tertata rapi di pelataran rumah Bapak Kornelius Miswanto, orangtua Romo Simon Margono Pr.

Rumah ini berada tak jauh dari tepian jalan Lintas Timur di Desa Muara Burnai I, daerah itu sebelumnya dikenal dengan sebutan Jamantras.

Uskup Mgr. Harun Yuwono dan Romo Simon Margono Pr menerima persembahan kapur dan sirih dalam acara penyambutan tetamu. Romo Simon dan kedua saudarinya serta uskup salami sang yubilaris yang merayakan 25 tahun imamatnya. (Romo Titus Jatra Kelana Pr)

Nasihat Mgr. Soudant SCJ

“Saya bersyukur bahwa saya bisa menghayati panggilan imamat saya sampai 25 tahun. Dan saya juga semakin meyakini bahwa imamat menjadi panggilan saya, menjadi imam adalah panggilan saya.

Saya merasa bahagia, saya bersukacita menjadi imam,” demikian Romo Simon Margono Pr.

Ia menuturkan pengalamannya saat mengawali permenungannya di Perayaan Ekaristi syukur atas 25 tahun imamatnya sebagai imam diosesan Keuskupan Agung Palembang.

“Menjalani imamat selama 25 tahun tentu tidak selalu berjalan dengan mulus, terkadang berhadapan pergumulan, pergulatan, godaan, kesulitan, dan beragam tantangan yang ada.

Selain karena komitmen pada imamat, saya juga selalu mengingat pesan dalam kotbah almarhum Mgr. Soudant SCJ yang menahbiskan saya: ’Kamu jangan pernah menyesal telah memilih menjadi imam.’

Hingga saat ini saya sungguh bahagia dan tidak pernah menyesal memilih panggilan menjadi imam,” tegas Romo Simon Pr yang saat ini berkarya sebagai Pastor Kepala Paroki St. Paulus Plaju Palembang ini.

Romo Simon Margono Pr yang berbahagia menjadi imam selama 25 tahun. (Romo Titus Jatra Kelana Pr)

Lebih lanjut imam yang ditahbiskan pada 2 Juli 1997 dan pernah berkarya sebagai pendamping para frater calon imam diosesan Regio Sumatera di Tahun Orientasi Rohani St. Markus Pematangsiantar ini dalam sharingnya menyampaikan sebagai berikut:

“Saya sungguh merasakan rahmat panggilan rahmat imamat begitu kuat bekerja dalam hidup saya dan itulah juga yang memampukan saya untuk melalui aneka pergumulan dan tantangan dalam hidup saya sebagai imam.

Saya sungguh menyadari bahwa Tuhan sangat mencintai dan mengasihi saya. Saya berusaha untuk juga mewujudkan motto tahbisan saya sebagai imam: Tuhan Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau”.

Perayaan syukur 25 tahun imamat Romo Simon Margono ini dipimpin oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Agung Palembang. Didampingi oleh Romo Eduardus Ngutra MSC (Pastor Paroki Kristus Raja Tugumulyo), Romo Simon Petrus Kaize MSC, Romo Kristiadji Raharjo MSC dan Romo Felix Astana Atmaja SCJ (Vikjen KAPal) dan belasan imam konselebran lainnya.

Perayaan Ekaristi Syukur atas perjalanan imamat selama 25 tahun Romo Margono Pr, imam diosesan Keuskupan Agung Palembang. (Romo Titus Jatra Kelana Pr)

Tampak pula para biarawan dan biarawati dari beberapa kongregasi yang turut hadir bersama ratusan umat yang dengan khidmat mengikuti perayaan ini.

Romo Simon Margono merupakan imam pertama yang berasal dari Paroki Kristus Raja Tugumulyo.

Selain Romo Simon sekarang telah ada beberapa imam, biarawan-biarawati dan calon imam yang berasal Paroki Tugumulyo yang saat ini dilayani oleh para imam tarekat MSC ini.

Romo MSC baru

Perayaan syukur imamat Romo Simon ini juga sekaligus menjadi perayaan bersama seluruh umat menyambut kedatangan Romo Kristiadji Raharjo MSC.

Ia akan menjadi Pastor Rekan menemani Romo Eduardus MSC dan juga perayaan syukur imamat Romo Simon Petrus Kaize MSC yang dulu menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral di Tugumulyo dan kini sebagai imam menjalani tugas pastoral di Manado.

Beragam tarian hiburan dan sambutan dari pastor paroki Romo Ngutra MSC. (Romo Titus Jatra Kelana Pr)
Para imam dan para suster dari berbagai Kongregasi ikut menghadiri perayaan syukur 25 tahun imamat Romo Simon Margono Pr, imam diosesan Keuskupan Agung Palembang. (Romo Titus Jatra Kelana Pr)

Usai perayaan Ekaristi kegiatan dilanjutkan dengan acara ramah tamah dengan suasana penuh keakraban dan persaudaraan.

Ramah-tamah ini diisi dengan sejumlah sambutan dan penampilan kesenian tradisional seperti Tari Tanggai Sumatera Selatan dan Tari Panyembrana dari Bali persembahan pelajar SMA Negeri I Lempuing Jaya, OKI.

“Tidak ada hal yang lebih baik, tidak ada hal yang lebih hebat di antara kita semua. Yang paling hebat dan yang paling baik di antara kita semua adalah jika kita bisa bekerja sama dan menjaga kebersamaan serta menjaga kerukunan antar umat beragama.

Kalau kita semua bisa mengembangkan semangat ini, maka di negara kita akan terwujud suasana yang damai, hidup rukun berdampingan,” tegas Karni, tokoh agama dalam sambutannya mewakili masyarakat muslim Desa Muara Burnai I.

Sambutan hangat dari masyarakat setempat, romo paroki, dan sang yubilaris Romo Simon Margono Pr. (Romo Titus Jatra Kelana Pr)
Sambutan hangat dari semua elemen masyarakat lokal dan umat paroki, saat berlangsung Perayaan Ekaristi Syukur atas perjalanan imamat selama 25 tahun Romo Simon Margono Pr. (Romo Titus Jatra Kelana Pr)

Hal senada juga disampaikan oleh Firdaus, Kepala Desa Muara Burnai I yang dalam sambutannya juga menyampaikan apresiasi atas kerukunan dan kebersamaan masyarakat yang telah terjalin dengan baik.

“Kami mengambil tema bahwa perbedaan itu indah, maka di sini berjalan lancar tidak ada satupun halangan karena perbedaan itu.

Kami berharap dan berdoa Romo Simon Margono tetap setia dalam tugasnya sampai akhir dan mengharumkan desa ini,” tuturnya.

Kebersamaan dan kerukunan itu nyata, masyarakat dengan antusias dan penuh persaudaraan bergotong royong dalam persiapan hingga pelaksanaan perayaan syukur ini.

“Buka lapak jual kelapa di Mojosongo, tak lupa juga ketupat dan rempah-rempah, selamat pesta perak pada Romo Simon Margono, semoga bahagia, sehat dan berkat melimpah,” ucap Mgr. Yohanes dalam sambutannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here