25 Tahun Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi (SFS) Provinsi Indonesia Telah Mandiri

1
257 views
Perayaan syukur atas 25 tahun kemandirian Kongregasi SFS di Biara Pusat SFS di Sukabumi, Jabar, April 2021. (Dok. Kongregasi SFS)

KONGREGASI Suster Fransiskan Sukabumi (SFS) yang berpusat di Sukabumi, Jabar, tahun 2021 ini merayakan genap 25 tahun kemandiriannya di Indonesia.

Hari penting “pesta perak” kemandirian Kongregasi SFS Provinsi Indonesia ini terjadi tepatnya pada tanggal 14 April 2021.

BOZ

25 tahun lalu, tanggal 14 April 1996, Regio Peniten Rekolektin Bergen Op Zom (BOZ) di Indonesia dinyatakan layak berdiri secara mandiri.

Keputusan ini tertuang berdasarkan dekrit Konggregasi Suci untuk Lembaga Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan bernomor DD/2369-1/1995. Juga atas dasar dekrit Keuskupan Bogor nomor 33/Dekrit/SKB/96.

Lalu secara resmi pula dinyatakan sebagai tarekat religius mandiri pada tanggal 14 April 1996 oleh Bapak Uskup Keuskpan Bogor waktu itu: Mgr. Michael Cosmas Angkur OFM.

Konggregasi dinyatakan layak berdiri mandiri ini terjadi di masa kepemimpinan Sr. M. Theresia SFS, yang terpilih sebagai Pelayan Umum Persaudaraan dari satu Kapitel ke Kapitel lainnya.

Merayakan pesta kenangan akan sejarah 25 tahun kemandirian Kongregasi SFS di Indonesia di bulan April 2021. Brosur promosi panggilan menjadi Suster SFS. (Dok. Kongregasi SFS)

Peringatan syukur

Memaknai dan mensyukuri 25 tahun kemandirian Konggregasi, maka para suster SFS lalu mempersembahkannya dalam Perayaan Ekaristi dan pembaruan kaul Fransiskan di komunitasnya masing-masing.

Komunitas Pusat merayakannya bersama Komunitas St. Fransiskus Assisi, Komunitas Postulat Rosa de Bie, dan Komunitas Novisiat St. Bonaventura.

Rasa syukur diungkapkan lewat perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Tarcisius Puryatno Pr dan Romo Martin Harun OFM.

Dalam perjalanan menuju kemandiriannya, para suster SFS itu berasal dari berbagai etnis. Mereka bergabung dalam Kongregasi SFS dan saat ini masih dalam tahap pembinaan di Postulat Rosa de Bie dan Novisat St. Bonaventura.

Para calon Suster SFS itu pada umumnya kaum perempuan muda berasal dari Jawa, Tionghoa, Sunda, NTT, Batak, Kepulauan Mentawai (Provinsi Sumbar) dan Nias di wilayah pastoral Keuskupan Sibolga di Sumut.

Promosi panggilan

Komisi promosi panggilan dengan program-program animasi -baik via daring maupun live in– terus dilakukan para anggota. Guna mengenalkan Kongregasi dan demi masa depan serta keberlanjutan Kongregasi.

Bagaimana pun, hal itu harus terjadi lewat kehadiran tunas-tunas muda Kongregasi SFS.

Promosi panggilan dilakukan baik di paroki-paroki, sekolah-sekolah swasta maupun negeri di beberapa wilayah di Indonesia.

Brosur promosi panggilan menjadi Suster SFS. (Dok. Kongregasi SFS)

11 Komunitas

Jumlah kaum perempuan muda sepanjang tahun 2020-2021 yang berhasil masuk bergabung Kogregasi SFS dalam masa Postulat saat ini berjumlah 14 orang.

Jumlah komunitas di seluruh Indonesia saat ini ada 11. Mengampu karya kerasulan kesehatan, pendidikan, pastoral dalam kerjasama dengan Keuskupan Padang dan Keuskupan Bogor.

Mengingat sejarah

Dalam sambutannya, Pelayan Umum Persaudaraan SFS, Sr. M. Vincentia SFS, mengatakan demikian.

Usia 25 tahun adalah umur manusia yang matang untuk menjadi dewasa, lebih mandiri dalam menyikapi  suka dan duka dalam pengalaman hidup sebagai religius.

“Saat ini, kita bersyukur kepada Tuhan atas rahmat dan kasih-Nya serta perlindungan-Nya sehingga perjalanan Kongregasi SFS sungguh diberkati,” ungkapnya.

Allah sungguh baik dan mencintai kita. Kita telah mengisi hari demi hari bersama-Nya. Ada keberhasilan dan kegagalan, suka dan duka.

“Semua itu menjadi suatu pengalaman peziarahan sangat berharga bagi kita. Juga  sebagai tanda penyerahan dan persembahan kita kepada Tuhan,” sambung Sr. M. Vincentia SFS.

Ibu Pendiri Rosa de Bie

Perjalanan hidup Kongregasi SFS sampai saat ini tidak terlepas dari peran serta Ibu Rosa de Bie.

Ia telah mewarisi nilai-nilai rohani untuk kita kembangkan dan diwujudkan dalam hidup sehari-hari. Perjuangan Ibu Rosa de Bie saat mengawali karyanya banyak mengalami berbagai tantangan dan kesulitan.

Namun ia tetap gigih, mau bekerja keras, dan berjuang dalam melaksanakan tugas pengutusan.

Visualisasi drama kisah sejarah misi Kongregasi SFS di Indonesia. (Dok. Kongregasi SFS)

“Ketekunan dan kedisiplinan dalam berelasi dengan Tuhan serta percaya pada Penyelenggaraan Ilahi menjadi sumber kekuatannya. Nilai yang diwariskan antara lain  semangat melayani, mengampuni dan menyelamatkan,” tandas Sr. M. Vincentia SFS.

Meski kita sudah mendiri dari BOZ, namun kita tetap bersyukur kepada para suster pendahulu; terutama para suster di BOZ.

Mereka telah merintis dan memulai karyanya dan melanjutkan misi ke Indonesia.

“Kini, kita sebagai penerusnya, melanjutkan karya-karya di bidang kesehatan, pendidikan, pastoral dan sosial. Sampai saat ini, kita bersyukur karena karya kita mengalami perkembangan baik kuantitas maupun kualitas,” paparnya kemudian.

Tantangan masa depan

Menjadi tantangan pula untuk kita saat ini,  demikian Sr. M. Vincentia SFS, meniti hari-hari selanjutnya dalam masa pandemi Covid-19. Sebuah kurun waktu yang sangat sulit, memprihatinkan, dan kita belum tahu kapan semua tantangan riil ini akan berakhir.

Pelayanan karya sudah barang tentu menjadi menurun intensitasnya atau semakin sedikit. 

Namun, sebagai pengikut Tuhan, kita tidak perlu patah semangat atau putus asa. Kita tetap menjalani dengan kesungguhan hati dan percaya bahwa semua ini ada maknanya untuk kita.

“Itulah realitas yang kita alami saat ini. Yang jelas, kita sudah dikuatkan dengan visi Kongregasi SFS: Menjadi SFS yang berkomiten tinggi dalam hidup doa, persaudaraan, dan karya kerasulan untuk mencapai kekudusan dan keselamatan jiwa-jiwa.

Juga dikuatkan dengan visi Kongregasi. Hendaknya kita wujudkan dalam hidup sehari-hari agar semakin bermakna untuk Tuhan dan untuk sesama di sekitar kita,” demikian penegasan Sr. M. Vincentia SFS.

Merayakan pesta 25 tahun kemandirian Kongregasi SFS di Biara Pusat Sukabumi bersama para suster senior, purna karya, dan yunior, serta Postulan-Novis. (Kongregasi SFS)

Butir-butir refleksi dan pemikiran

Menandai pesta HUT kemandirian yang ke–25 tahun 2021 ini ada beberapa pesan untuk layak direnungkan.

  • Sebagai religius SFS, tetaplah tekun dan disiplin dalam menghayati hidup rohani, hidup doa. Doa yang kita laksanakan hendaknya berbuah dan berdampak bagi sesama yang ada disekitar kita.
  • Dalam persaudaraan, hendaknya kita tetap membina kehidupan bersama dengan saling menghargai, menerima keunikan sesama, membantu dan mendukung. Kita hindari hal-hal yang tidak mendukung dalam persaudaraan.
  • Dalam menjalankan tugas perutusan di mana pun ditugaskan, tetap semangat, setia,  tekun, siap sedia dan rela  melayani dengan hati.

Apa yang menjadi harapan Pelayan Umum juga menjadi harapan seluruh anggota Konggreasi SFS. Untuk memaknai 25 tahun kemandirian Kongregasi.

Dengan terus percaya kepada Penyelenggaraan Ilahi bahwa Konggregasi ini akan terus ada dan eksis dalam pelayanan untuk menjadi pengungsian bagi yang menderita.

PS: Artikel ini digarap bersama oleh Sr. Michaella SFS dan Sr. Maximiliana SFS.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here