40 Tahun Hidup Membiara Sr. Maria Etha SND: Ku di Tangan-Nya

0
288 views
40 Tahun Hidup Membiara Sr. Maria Etha SND. (Sr. Fransiska Agustine FSGM)

INI pas bertepatan Pesta Bunda Maria Tak Bernoda, 8 Desember 2021, di Biara Kongregasi Suster Soeurs de Notre Dame (SND) Maria Asumpta, Bandarjaya, Lampung Tengah.

Maka, Sr. Maria Etha SND bersyukur atas kesetiaan Tuhan selama kurun waktu 40 tahun dalam hidup membiaranya.

Tentu semua tidak terasa manis. Sepahit apa pun, Sr. Etha SND telah berani melewati tapak-tapak itu. Berjalan di padang gurun.

Sepi. Sendiri. Tetapi ia selalu berjalan bersama Tuhannya.

Bernafas lumpur

Sr. Etha lahir di Tulungagung, Jatim, 13 Oktober 1956. Dari pasangan keluarga R. Riyanto Siswosuprapto.

Terlahir dari keluarga ekonomi yang ‘pas-pasan.’ Anak keempat dari sebelas saudara.

Etha kecil menderita penyakit asma. Sampai-sampai ia dijuluki ‘anak dokter.’ Saking seringnya  berobat ke dokter.

Hingga kini, penyakit asmanya belum juga mau pergi. Betah sekali berdiam di dalam diri Sr. Etha SND yang berperawakan kecil ini.

Bisa dibayangkan, kalau asmanya kambuh. Sr. Etha merasa hidupnya seperti bernafas di dalam kubangan lumpur. Susah. Sesak.

Sampai capai, rasanya. Tetapi toh, ia harus menerima keadaan dirinya itu.

Ini yang menjadi tantangan terbesar dalam meniti panggilannya. Kesehatan yang kurang mendukung. Padahal, oleh Kongregasi SND, ia semakin dituntut mengerjakan banyak hal.  

Adiknya bernama:Sr. Irene SND mengikuti jejak kakaknya. Menjadi suster biarawati. Ia memilih Kongregasi Puteri Kasih (PK). Bertugas di Sintang, Kalimantan Barat.

Sederhana  

Etha kecil selalu tampil sederhana. Apa adanya. Hingga menjadi suster biarawati, penampilannya pun tetap sama.

Tak berubah. Tetap sederhana.

Cita-citanya waktu kecil ingin menjadi guru Taman Kanak-kanak. Oleh Tuhan, keinginan itu diperkuat.

Sr. Etha melalang buana berkarya di dunia pendidikan. Baik ketika tinggal di biara SND Pekalongan, Purbalingga, Jakarta, maupun kini di Bandarjaya, Lampung-Tengah.

Kini, ia mendapat tugas sebagai Ketua Pengurus Harian Yos Sudarso, Bandarjaya, Lampung Tengah.

Tak ubahnya, Sr. Etha SND bagaikan menjaga api pelita agar terus menyala, yang tadinya sudah berkedip-kedip. Hampir mati.

Bersama tim dan para guru, ia banyak membuat pembaruan agar sekolah Yos Sudarso Bandarjaya ini bangun dari tidurnya.

Suster yubilaris Sr. Etha SND bersama kakaknya dan adiknya, seorang suster biarawati Puteri Kasih.

Melayani

Melayani adalah kebahagiaan bagi Sr. Etha SND. Rasa bahagia itu akan terasa lebih dalam lagi, bila ia melayani siapa saja.

Tanpa memandang ras. Usia. Golongan, Agama. Ada rasa sukacita yang ia rasakan. Karena, Sr. Etha yakin, Tuhan selalu berjalan bersamanya.

Motto hidup panggilannya: “Berbahagialah yang tidak kecewa menolak Aku.” (Matius 11:6).

Mottonya itu dihayati dalam hidup kesehariannya. Baginya, melewati sukaduka itu harus tetap tabah. Tekun. Kuat.

Karena di balik semuanya itu, sesungguhnya Tuhanlah yang memulai. Dia pula yang menyelesaikannya.

Ungkapan hati Sr. Maria Etha SND:

Empat puluh tahun serah setia dalam hidup membiara.

Derita jiwa dan tangis, luka hati, mengisi deru perjuangan sukma.

Tangan kasih setia Allah lewat dukungan keluarga, sahabat, dan teman, terulur untuk menyembuhkan dan menguatkan diri.

Empat puluh tahun serah setia membiara adalah wujud persembahan hidup.

Membara rasa syukur dan sukacita tak terhingga. Tetap tekun berdaya memilih jalan yang bermakna menuju hidup sejati. Bahagia kekal abadi.

Syukur. Sukacita.

Bahagia menuju rumah Bapa.

Itu kerinduan jiwa. Persembahan sukma kepada Sang Ilahi, kekasih hamba.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here