40 Tahun Perkawinan: dr. Harris dan Diana Lawanto Peroleh Berkat Nuncio dan Bawa Pulang Champagne (1)

0
422 views
Desember 2021 lalu, pasutri Katolik dr. Harris dan Diana Lawanto bersyukur atas pesta perkawinan selama 40 tahun. Tanggal 6 Januari 2022, mereka berdua dolan ke Nunciatura dan peroleh berkat dari Nuncio Dubes Vatikan untuk RI Mgr. Piero Pioppo dan boleh membawa pulang champagne. (Dok. Diana Lawanto)

BULAN Desember 2021 lalu menjadi hari-hari penuh bahagia bagi pasutri dr. Harris Soesilo Lawanto dan isterinya Diana Suryani Lawanto.

Maklumlah, tanggal 20 Desember 1981 silam, kedua sejoli itu sepakat mengikat janji saling mencintai dan berkomitmen ingin membina mahligai hidup berumahtangga sebagai pasutri Katolik.

Mereka lalu saling menerimakan Sakramen Perkawinan di Gereja Maria Bunda Karmel (MBK) Paroki Tomang, Jakarta Barat.

Di hadapan Romo Kurtz O.Carm, kedua sejoli muda itu dengan mantap mengikat janji menikah dan saling menerimakan Sakramen Perkawinan.

Diana lahir di “Kota Batik” Pekalongan – kawasan jalur Pantura yang terletak di antara Tegal dan Semarang. Sementara, dr. Harris lahir dan besar di Surabaya, Jawa Timur.

Di Jakarta inilah, kedua sejoli itu dipertemukan, lalu saling kenal. Kemudian, gelombang asmara di antara keduanya membuat mereka ingin membina rumahtangga sebagai pasutri Katolik.

Dari perkawinan mereka, pasutri Harris-Diana mendapat tiga orang anak. Dua anak perempuan dan keduanya sudah menikah.

Satu anak lelaki yang paling bontot dan berprofesi sebagai dokter gigi hingga kini malah masih hidup lajang.

“Belum dapat jodoh,” kata Diana menjawab Sesawi.Net sekali waktu.

Kisah tentang “Anak Yang Hilang”

Satu menantu lelaki bernama Venantius Vladimir Ivan Pratama dikenal punya jiwa seni.

Sekali waktu, Sesawi.Net mencatat Ivan pernah menjadi sutradara untuk pementasan teater bertitel Anak Yang Hilang di sebuah balai budaya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, awal Januari 2018 silam.

Di pergelaran teater ini, Ivan Pratama menjadi “orang penting”. Juga karena bantuan banyak pihak, ia berhasil membawa puluhan remaja penghuni Panti Asuhan Santa Angela di Delitua, Medan, yang diampu Sr. Bernadet FSE bisa naik pentas di Jakarta.

Ivan, pemuda gondrong asal Paroki Bidaracina di Jakarta Timur, sukses mempertautkan relasi Medan-Jakarta yang jaraknya lumayan jauh menjadi dekat.

Hasilnya nyata, sehingga kerjasama seni dramaturgi antara Teater Katak, Teater Angela, dan EforD bisa mewujud menjadi kenyataan.

Isteri Ivan yang bernama Crescentia Edith Lawanto saat pergelaran memainkan alat musik gesek.

Di belakang layar pentas yang dibatasi semacam tirai dan sebagian lainnya di podium atas, Edith tampak piawai memainkan biola miliknya yang menjadi pengiring musik live pentas Anak Yang Hilang.

Pergelaran seni itu sendiri mendulang sambutan meriah. Sesawi.Net menyempatkan diri menonton pergelaran teater Anak Yang Hilang, lantaran sudah kenal baik dengan Sr. Bernadet FSE sejak tahun 2010.

Sementara, dengan keluarga Diana Lawanto dan menantunya Ivan, malah belum kenal sama sekali.

Aktif berkegiatan sosial di GOTAUS

Mungkin ini menjadi salah satu alasan mengapa pasutri dr. Harris dan Diana Lawanto ini selalu mengisi hari-harinya dengan banyak bersyukur.

Antara lain karena Ivan -sang menantu- telah menunjukkan semangat berkorban bagi orang lain. Sepanjang tahun 2017-2018 itu, Ivan sering terbang bolak-balik dari Jakarta ke Medan hanya demi mau menyukseskan pergelaran Anak Yang Hilang.

Ivan sadar betul, program pentas teater ini aslinya tak mudah diproduksi. Karena sutradara dan penulis naskahnya “orang” Jakarta, sementara para pemainnya datang dari “Rumah Keberhasilan” di Delitua, Sumut. Lalu, para pemain pengiring musiknya campuran dari Jakarta dan kota lainnya.

Mungkin saja, darah seni yang mengalir pada diri Ivan dan Edith ini ikut mengisi ruang-ruang bahagia bagi keluarga Diana Lawanto. Lantaran ibu tiga orang anak itu sendiri juga seorang pencinta seni.

Selain aktif berkegiatan amal sosial di Komunitas GOTAUS (Gerakan Orangtua Asuh Seminari) sejak 10 Mei 2001 -awal berdirinya mitra kerja Komisi Seminari KWI- Diana juga suka mengisi hari-harinya dengan bermain piano.

Diana memang sungguh ciamik, setiap memainkan jari-jari lentiknya di atas piano apik di rumahnya yang masuk wilayah pastoral Gereja Santo Andreas Paroki Kedoya, Jakarta Barat.

Bahkan sekali waktu, berkat permainannya menjentikkan jemarinya ke tuts piano dengan partitur sebuah lagu klasik, sejumlah orang berduit lalu tergelitik rasa simpatinya. Mereka kemudian diam-diam dan atas ajakan Diana Lawanto bersedia berdonasi dalam jumlah besar untuk GOTAUS.

Rp 100 juta rupiah jreng akhirnya mengalir ke rekening GOTAUS di KWI dari seorang keluarga di Pakubuwono, Jakarta Selatan. Merekanberdonasi untuk misi kebaikan melalui program peningkatan asupan gizi untuk para seminaris di seluruh Indonesia.

Beberapa waktu kemudian, lagi-lagi jreng senilai Rp 100 juta dari seorang ibu di permukiman Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, luntuk misi kebaikan di “Gereja Ayam” di Napu, Keuskupan Banjarmasin, Kalsel. Masih ibu yang sama di PIK berkenan sumbang lagi jreng Rp 100 juta untuk proyek pembangunan gereja di kawasan pedalaman Paroki Sepotong, Keuskupan Ketapang di Kalbar. “Ditransfer secara bertahap sampai tiga kali,” kenang Diana Lawanto menjawab Sesawi.Net.

Masih donatur yang sama tetap “setiap” sumbang GOTAUS setiap bulannya jreng Rp 10 juta. Tentu masih banyak donatur lainnya juga juga tergerak untuk membantu wilayah gerejawi lainnya seperti Keuskupan Tanjung Selor di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara)

Bahkan sejumlah donasi lainnya masih tetap berlangsung sampai sekarang untuk misi kebaikan di Keuskupan Agats di Papua. Juga untuk sejumlah penerima manfaat lainnya.

Bisa terjadi demikian ini, lantaran seringnya Diana Lawanto suka sering “berceloteh” sebagai motivator gerakan kebajikan untuk sesama.

Tentang hal ini, Diana Lawanto selalu mengatakan dirinya tak lebih sebagai “tukang halo-halo” saja. “Saya ini hanya perpanjangan kebaikan orang saja,” katanya merendah.

Bersyukur: sikap beriman paling sederhana

Setelah bertahun-tahun mengabdi sebagai tenaga medis di RS Husada di Jakarta Barat, dr. Harris akhirnya pensiun kerja.

Kini, sebagai dokter, ia masih mengisi hari-harinya dengan membuka praktik dokter di sebuah klinik sederhana.

Sebagai dokter, dr. Harris tentu sangat paham betapa berharganya kesehatan bagi manusia dan keberlangsungan hidupnya.

Karena itu, meski sudah sering “dinasihati” isterinya agar sebaiknya berdiam saja di rumah, dr. Harris tetap saja bergeming. Ia masih ingin tetap mengabdikan ilmu dan pengalamannya sebagai dokter dengan buka praktik.

Tapi, malang sungguh tak dapat ditolak.

Sekali waktu, dr. Harris sampai terpapar Covid-19. Terjadi di masa-masa “sulit”,  saat Indonesia mengalami pandemi gelombang kedua sepanjang bulan Juli-Oktober 2021.

Maka paniklah keluarga ini. Dan tentu saja rasa kalut sempat “menyandera” jiwa dan perasaan Dianna Lawanto. Lantaran dia sendiri juga tak luput bisa terpapar Covid-19, meski kondisinya mild.

Selamat dari Covid-19 semakin membuat pasutri Katolik ini menguatkan sikap berimannya untuk senatiasa bersyukur kepada Tuhan.

“Bersyukur adalah sikap beriman paling sederhana yang bisa kami lakukan setiap hari,” kata Diana Lawanto menjawab Sesawi.Net.

Tukang halo-halo kebaikan

Justru karena ingin selalu memaknai langgengnya perkawinan mereka hingga berumur 40 tahun inilah, bersama sang suami dr. Harris, Diana Lawanto lalu mengisi hari-harinya yang penuh syukur itu dengan misi kebaikan bagi sesama.

Salah satu outlet misi kebaikan itu adalah GOTAUS di mana Diana sendiri sudah mengukir keterlibatan sosialnya sebagai “tukang halo-halo” kebaikan itu sejak Komunitas Pemerhati Seminari ini berdiri tahun 2001.

Memiliki kondisi kesehatan yang prima tentu juga menjadi alasan mengapa senantiasa bersyukur itu perlu dilakukan.

Sedianya ingin menemui kenalan suster yang berkarya di Nunciatura, malah bertemu dengan Nuncio Dubes Vatikan untuk RI Mgr. Piero Pioppo dan malah kemudian diajak berdoa “Bapa Kami” dan diberi sangu oleh-oleh berupa champagne sebagai bentuk sukacita merayakan pesta perkawinan 40 tahun bulan Desember 2021. (Dok. Diana Lawanto)

Bertandang ke Nunciatura

Hari Kamis tanggal 6 Januari 2021 ini, pasutri dr. Harris dan Diana Lawanto menyempatkan diri datang menyambangi Nunciatura – Kedubes Vatikan di wilayah Gambir, Jakarta Pusat. Intensinya sederhana saja, karena mereka berdua ingin menemui seorang suster yang berkarya di Nunciatura.

Nunciatura sebenarnya bukan wilayah asing bagi Diana Lawanto. Ia sering “main” ke situ, ikut perayaan ekaristi di Nunciatura pada hari-hari besar perayaan dan pesta Gereja.

Kali ini, tanpa sengaja, mereka bertemu Nuncio Mgr. Pierro Pioppo. Setelah ngobrol sana-sini sekitar 15 menit, Nuncio mengajak mereka berdua melantunkan Doa Bapa Kami.

“Kami berdua merasa bahagia sekali disapa dengan sangat ramah oleh Nuncio dan malah kemudian diajak berdoa bersama Bapa Kami dalam bahasa Indonesia yang sangat lancar,” papar Diana.

Menerima berkat dari Nuncio Dubes Vatikan untuk RI Mgr. Piero Pioppo saat bertandang main ke Nunciatura di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, hari Kamis siang tanggal 6 Januari 2021. (Dok. Diana Lawanto)

Barulah kemudian, tuturnya lagi, “Beliau berkenan memberkati kami berdua sembari mengucapkan tuturan berkatnya dalam bahasa Inggris.”

Kebahagiaan pasutri Katolik hari ini semakin bertambah lengkap.

Lantaran sewaktu mau pulang meninggalkan areal Nunciatura, Dubes Vatikan untuk RI Mgr. Piero Pioppo berkenan memberinya sebotol champagne.

“Sampanye ini sekadar untuk oleh-oleh sukacita bagi pasutri Katolik yang baru saja merayakan pesta Hari Ulang Perkawinan ke-40 tahun,” tutur Mgr. Pioppo sebagaimana ditirukan oleh Diana Lawanto hari Kamis malam tanggal 6 Januari 2022. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here