40 Tahun Perkawinan Pasutri dr. Harris-Diana Lawanto: drg. Hadrianus Tenggono, Kenangan Sedih akan Figur Ayah (2)

0
316 views
Kenangan sedih akan figur ayah dan ibu kandung: drg. Hadrianus Trenggono dan isterinya Ny. Irene Trenggono. (Dok. Diana Lawanto)

SEKALI waktu, Diana yang masih sangat muda beliau sempat dilanda perasaan sangat gelisah.

Karena tiba-tiba dia dipanggil agar segera pulang ke Pekalongan. Lantaran berita sedih telah terjadi menimpah ayahnya.

“Ayahku meninggal dengan tragis, saat bapak tengah berlibur ke Magelang – kota kelahiran bapak. Kata orang saat itu, teman sejawat yang diduga merawat bapak telah melakukan malpraktik: salah suntik beri obat,” kenang Diana sedikit terbata-bata.

Ayah kandungnya bernama drg. Hadrianus Tenggono. Ia meninggal dunia tanggal 5 April 1975 dalam usia relatif sangat muda.

Baru berumur 54 tahun, ketika ajal menjemput drg. Hadrianus Tenggono – pria tampan kelahiran Blabag, Kabupaten Magelang, Jateng tanggal 1 Januari 1921.

“Bapak meninggal di Bayeman, kawasan permukiman di wilayah Kota Magelang,” kenang sedih Diana tentang kisah ayahnya yang meninggal saat masih berusia sangat muda.

Bapak luar biasa

Meski umurnya boleh dibilang sangat pendek, Diana selalu mengenang sosok ayahnya sebagai pribadi yang luar biasa baik.

Sebagai seorang dokter gigi, kata Diana, ayahnya selalu berbelarasa dengan pasien yang mengaku tidak punya biaya untuk membayar jasa medik.

“Kalau sudah begitu,” kata Diana mengenang omongan ayahnya saat itu, “ya pasien ndak usah bayar.”

Lalu jasa medik itu diganti oleh pasien dengan kiriman buah-buahan.

“Paling sering keluarga kami di Pekalongan mendapat kiriman pisang. Saat Lebaran, paket kiriman ketupat plus opor ayam sering datang ke rumah kami. Sementara saat Natal, kiriman paket lainya juga menyambangi rumah kami,” kenang Diana akan sosok pribadi ayahnya.

drg. Hadrianus Tenggono (kanan) bersama isteri dan empat orang anaknya. Nomor satu Diana (berdiri kiri); nomor dua lelaki (kiri jongkok), nomor tiga dan empat – keduanya perempuan. Foto dibuat saat perayaan Tahun Baru tanggal 1 Januari 1975 di Pekalongan, Jateng. Empat bulan lima hari setelah foto ini dibuat, drg. Hadrianus Tenggono meninggal dunia di Bayeman, Magelang, Jateng. Diana Lawanto di posisi kiri dan berdiri. (Dok. Diana Lawanto)

Karena ayahnya yang berjiwa sosial dan sosok dr. Harris yang murah hati itulah, hidup Diana sebagai isteri dan penggiat sosial di Komunitas GOTAUS (Gerakan Orangtua Asuh Seminari) nyaris tidak pernah diintervensi oleh suaminya dan anak-anaknya.

Jiwa sosial demi kegiatan amal kasih mengalir dari sosok ayahnya. Sedangkan, semangat murah hati juga dimotivasi oleh sosok suami yang telah mendampingi dia dan ketiga anaknya selama 40 tahun terakhir ini.

Kesan amat baik terhadap para pastor

Diana dan semua ketiga adiknya sudah sejak kecil telah dipermandikan. Sementara, calon suaminya, dr. Harris Soesilo Lawanto, lahir di dalam keluarga bukan Katolik.

Namun, seiring dalam perjalanan waktu saat-saat masih berpacaran, dr. Harris Soesilo menunjukkan minatnya untuk ikut bergabung dalam Gereja Katolik.

“Saya dan anggota keluarga sudah babtis sejak kecil. Saat mulai merantau ke Jakarta untuk kuliah, saya juga mulai ikut aktif di kegiatan Gereja.

Ketika bertemu calon suami, dr. Harris, saat itu dia belum Katolik. Namun, berkat kebaikan para pastor di Jakarta, calon suami saya langsung terkesan dengan Gereja Katolik dan kemudian menyediakan diri dibaptis,” ungkap Diana Lawanto.

Setelah menerima Sakramen Baptis di Gereja Maria Bunda Karmel Paroki Tomang di Jakarta Barat, dr. Harris malah merestui isterinya, Diana, untuk mulai aktif bergiat dalam aktivitas sosial amal kasih.

Di kemudian hari, pasutri Katolik ini juga mulai sangat aktif berkegiatan di komunitas-komunitas Katolik. Dan GOTAUS adalah salah satu medan kegiatan sosial di mana Diana Lawanto menceburkan dirinya sejak kelompok pemerhati asupan gizi untuk seminari-seminari ini berdiri sampai sekarang.

Romo Henricus “Henk” van Opzeeland SJ (1929-2019) by Prompang SJ.
Pembaptisan dr. Harris Soesilo Lawanto di Gereja Maria Bunda Karmel Paroki Tomang, beberapa waktu sebelum berlangsung ikatan perkawinannya dengan Diana Lawanto tanggal 20 Desember 1981. Sebelah kanan adalah Pastor Loogman MSC yang bertindak sebagai “Emban Baptis”. (Dok. Diana Lawanto)

Salah satunya adalah almarhum Romo Henricus “Henk” van Opzeeland SJ yang waktu itu membantu saya mencarikan pondokan di Internat Santa Ursula,” kenang Diana.

Berkat jasa Romo Henk van Opzeeland SJ, masa tinggal Diana di “Asrama” Santa Ursula Jakarta bisa dibayar dengan cara nyicil.

“Kisah kecil yang mengesankan ini terjadi saat saya mau naik kelas tiga SMA,” kenang Diana akan sosok imam Jesuit yang pernah lama mengemban karya sebagai Ekonom Keuskupan Agung Jakarta ini.

“Calon suami saya mulai belajar agama Katolik di Gereja Maria Bunda Karmel Paroki Tomang di wilayah Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Itu terjadi sebelum kami berdua menikah di Gereja MBK Paroki Tomang. Almarhum Romo Loogman MSC berkenan menjadi saksi sekaligus sebagai Emban Baptis, saat dr. Harris dipermandikan,” paparnya lancar. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here