40 Tahun Vakum, Umat Katolik Taom Siem Reap di Kamboja Hanya 29 Jiwa (2)

0
3,324 views

TAOM, sebuah stasi teramat udik di Paroki Santo Yohanes Siem Reap di Kamboja, adalah cerita panjang tentang umat katolik yang tumbuh kembali dari reruntuhan sisa perang. Dalam kurun waktu selama 40 tahun, Taom yang awalnya boleh dibilang merupakan sebuah paroki megah di Keuskupan Battambang dalam perkembangan waktu akhirnya kembali ke titik nol. Tidak ada sisa satu pun orang katolik di paroki yang terletak tak kurang 60 km dari pusat kota Siem Reap ini.

 

 

 

 

 

 

Umat katolik di Taom ini benar-benar “hilang” ditelan ganasnya perang di Kamboja. Yang tersisa hanyalah sebuah gedung bangunan gereja. Selama 40 tahun masa vakum itulah –demikian keterangan Romo Panus SJ kepada Sesawi.Net  di Taom— gedung gereja yang dibangun menurut arsitektur gotik ini akhirnya hanya terbengkalai.  Bangunan seluas kurang lebih 6×20 meter dengan corak lengkung-lengkung di bagian depan ini akhirnya teronggok sepi. Bahkan menurut penuturan Romo Mardi Widayat SJ yang kini tinggal di Ibukota Phnom Penh, bangunan gereja itu akhirnya dipakai sebagai kandang sapi oleh penduduk setempat.

Kebangkitan gereja

Setelah rezim komunis Pol Pot jatuh dan kemudian bersemi lagi pemerintahan baru di bawah pimpinan Perdana Menteri Hun Sen, Gereja Taom mulai “ditemukan kembali”. Peristiwa “tahun rahmat” ini terjadi tahun 2004 silam, ketika penduduk setempat akhirnya menghubungi Keuskupan Battambang dan mengatakan ada “harta” gerejani terbengkalai di Taom.

Mendengar berita tentang “gembala hilang” inilah, Romo Heribertus Bratasudarma SJ yang kala itu menjadi pastor Paroki Santo Yohanes Siem Reap langsung bergerak cepat. Setelah berbagai urusan administrasi dengan pemerintah setempat diselesaikan, maka dimulailah kegiatan katekumen. Tercatat ada 30 warga setempat yang menyatakan ingin menjadi umat Tuhan.

“Perlu tiga tahun lamanya Romo Heri –sapaan akrab Romo Bratasudarma SJ yang asli Turi, Pakem, Yogyakarta—menyiapkan segala sesuatu di Taom,” ungkap Romo Panus kepada Sesawi.Net.

Akhirnya, datanglah hari bahagia itu. Tahun 2010 lalu terjadilah peristiwa “tahun rahmat Tuhan” dimana 30 orang dibabtis di Taom. Nuncio Vatikan yang berkedudukan di Bangkok  (Thailand) sendiri berkenan hadir ikut “melantik” para katekumen itu menjadi katolik.

Kedubes Vatikan berkedudukan di Bangkok juga membawahi wilayah Kamboja dan Laos.  “Pembabtisan tahun lalu itulah merupakan awal kebangkitan Gereja Katolik di Taom,” ungkap Romo Mardi Widayat SJ kepada Sesawi.Net. “Dari jumlah semula sebanyak 30 orang, kini tinggal 29 orang saja karena baru saja satu warga kami meninggal dunia,” sambung Romo Panus SJ.

Udik dan miskin

Gereja di Stasi Taom dari dulu hingga sekarang tetaplah sama: didera kemiskinan. Yang mencolok berbeda hanyalah jumlah umat. Dulu mayoritas orang-orang katolik keturunan Viet Nam, kini semuanya warga penduduk lokal asli Kamboja.

Kemiskinan menjadi pemandangan sehari-hari di kanan-kiri Stasi Taom ini. Meski mayoritas penduduk setempat bekerja sebagai petani, namun kesan kemiskinan masih menggurat tajam di wajah anak-anak: kurus, berambut gimbal dengan warna kekuningan, dan terkesan kumal.

Namun jangan tanya tentang cara mereka menghayati iman kekatolikannya seperti yang Sesawi.Net rasakan pada saat misa mingguan pada hari Selasa (30/8) lalu. Serempak dan sangat kitmad. Anak-anak duduk rapih di tikar sederhana bersanding dengan para orangtua mereka. Sebagian umat lain memilih duduk di kursi plastik, termasuk Ishida “Kiko” Sakiko dan Aiko “Saki” Hayashi—dua warga negara Jepang utusan kelompok Japan Lay Missionary Movement yang kini menjadi volunteer di Jesuit Service di Kamboja.

Selain suasana kitmad selama mengikuti ekaristi bersama Romo Stephanus “Panus” Winarta SJ, suasana misa dalam suasana serba sederhana itu makin kitmad dengan ragam doa yang dibawakan dalam nyanyian. “Itu semacam doa gaya mocopatan di Jawa Tengah,” tutur Romo Panus usai misa yang biasa dilakukan pukul 14.00 waktu setempat.

Bahkan, anjing-anjing pun “mengikuti” misa mingguan dengan duduk tenang dan tidur di bawah bangku umat.

Mengunjungi Stasi Taom yang udik memiliki ragam ceritanya sendiri. Karena baru musim hujan dan di sana-sini banyak terjadi kobangan lumpur dan air menggenang, rombongan Romo Panus bersama Sesawi.Net dan sejumlah mudika paroki dan Aiko “Saki” Hayashi memilih jalan alternatif. Kalau biasanya melintasi jalan di sayap kiri sungai, kali ini rombongan kami memilih jalan di sayap kanan seberang sungai. “Hanya saja, ada risiko kami harus rela naik sampan menyeberang sungai,” kata Romo Panus.

Benar saja. Setelah merayap menyisir jalanan di sayap kanan sungai ini, akhirnya rombongan kami sampai di sebuah tempat, persis di sisi seberang sungai yang tengah banjir karena curah hujan yang lagi tinggi di kawasan Siem Reap. “Tunggu sebentar, nanti ada sampan merapat menjemput kita,” tutur Romo Panus.

Akhirnya 20 menit kemudian, perahu sampan itu datang merapat ke “dermaga” alam berupa daratan yang sedikit menjorok ke bibir sungai. Sampan mungil yang dikemudikan “nahkoda” cilik itu menjadi “jembatan” kami menuju seberang sungai dimana Gereja Santa Maria Stasi Taom berada.

Sedikit kecut hati, Sesawi.Net rasakan ketika harus menyeberangi sungai dengan arus sangat deras dengan sebuah sampan kecil dan apalagi nahkodanya seorang anak sangat muda: mungkin tak lebih berumur 16 tahun. Tak mengapa, kalau Tuhan datang membimbing, maka fiat voluntas tua sampai pula kami di seberang sungai setelah “mengarungi” derasnya sungai dengan cara melawan arus.


Sedikit ketegangan merayapi para penumpang yang berjumlah tak kurang 10 orang di atas sampan kecil ini. Posisi penumpang tak bisa duduk, karena sempitnya geladak. Yang bisa berdiri, silakan berdiri; yang bisa duduk, itu namanya lagi beruntung. Ketegangan sangat terasakan, ketika tiba-tiba motor sampan itu terhenti di tengah arus sungai dengan kedalaman tak kurang 4 meter.

Berbekal kayuh sampan, akhirnya sampan motor itu berhasil menepi ke seberang sungai. Dan dua jam kemudian, rombongan kami akhirnya duduk kitmad mengikuti misa di gedung gereja bekas kandang sapi ini. (Bersambung)

Mathias Hariyadi, penulis dan anggota Redaksi Sesawi.Net.

Photo credit: Mathias Hariyadi, Royani Lim

Artikel terkait:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here