67 Th Meninggalnya Mgr. Heinrich Leven SVD: Vikaris Apostolik Kepulauan Sunda Kecil, Pendiri Kongregasi Suster CIJ (1)

1
328 views
Kedua orangtua Mgr. Heinrich Leven SVD.

INI latar belakang keluarganya. Heinrich Leven lahir di Lank, Jerman, 13 Juni 1883. Ia adalah putra sulung dari lima bersaudara.

Ayahnya Wilhelmus Leven bekerja sebagai guru di sekolah dasar; ibunya Katharina Classen adalah ibu rumah tangga. Keempat adiknya bernama Michael Leven, Hans Leven, Hubert Leven dan Christin Leven. (Komisi Spiritualitas CIJ, 2015: 9).

Heinrich memiliki kepribadian yang bijaksana, sederhana, semangat sosial yang tinggi dan kecerdasan yang cukup. Ia adalah pribadi yang bisa dipercaya, teliti dan tuntas dalam menjalankan setiap tugas yang dipercayakan kepadanya.

Heinrich kecil juga memiliki minat terhadap hidup religius. Orangtuanya berlangganan majalah Der Kleine Herz Jesu Bote (Bentara kecil Hati Yesus) yang disponsori oleh Arnold Janssen, Pendiri SVD, SSpS dan SSpS AP.

Dengan sering membaca majalah ini timbul keinginan dalam dirinya untuk menjadi misionaris, untuk mengabdikan hidupnya bagi orang yang menderita, orang miskin, orang yang berkekurangan dalam pelbagai aspek kehidupan.

Pendidikan dasar

Tahun 1889 Heinrich Leven memulai pendidikan dasar (Grundschule) di kampung halamannya di Lank. Pada umur ke-16 (1899), ia menyelesaikan pendidikan menengah (Gymnasium) di Uerdingen.

Keinginan untuk menjadi imam misionaris tetap terpatri di hatinya. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah beliau melanjutkan di seminari misi yang didirikan oleh Arnold Janssen di Steyl, Venlo, Belanda (3 Oktober 1899).

Prasasti yang disematkan di tembok rumah kelahiran Mgr. Heinrich Leven SVD.

Kepribadian Heinrich yang sederhana, taat, teliti, tuntas dan penuh semangat ini memampukan beliau untuk mengikuti kegiatan dan pendidikan yang dituntut oleh sekolah misi ini.

Kehilangan ibunda tercinta dalam usia yang begitu muda (37 tahun) sangat mempengaruhi kebugaran Heinrich. Sakit yang dideritanya memaksa dia dipulangkan ke rumah orangtuanya. Selama masa istirahat, Heinrich diajak ayahnya untuk membuat semacam praktik di sekolah tempat ayahnya mengajar.

Dari sang ayah, ia belajar bekerja dengan teliti, disiplin, tanggungjawab, cermat, rela berkorban dan setia mengabdi. Kecintaan sang ayah terhadap dunia pendidikan memotivasi Heinrich, ketika sudah menjadi misionaris, untuk mengabdi di dunia yang sama.


Makam pendiri Kongregasi Imam SVD Pater Arnold Janssen di Rumah Induk SVD Steyl di Negeri Belanda.

Steyl: Menjadi Anggota Serikat Sabda Allah (SVD)

Setelah kesehatannya pulih, ia diperkenankan untuk kembali ke Steyl dan menyelesaikan pendidikannya di sekolah misi Steyl.

11 September 1905, ia melamar menjadi novis SVD. Kerinduan yang ia pendam sejak pendidikan dasar kini mulai terwujud. Dalam tahun formasi ini ia belajar menghidupi spiritualitas SVD yang bercorak trinitaris.

Itu terejawantah dalam semangat misioner dan hidup komuniter yang selalu diinspirasi oleh kerelaan Maria menjadi Bunda Allah demi membawa Terang bagi kegelapan dosa manusia.

Sebagai tarekat religius, mereka juga dibekali dengan pendidikan hidup berkaul (keperawanan, kemiskinan dan ketaatan). Frater Heinrich Leven mengikuti kegiatan pendidikan dan pembinaan dengan penuh semangat, gembira, rajin, setia dan tekun. (Komisi Spiritualitas CIJ, 2015: 16).

Tanggal 1 November 1907 menjadi sangat istimewa bagi seorang anak muda yang bernama Heinrich Leven, karena ia boleh mengirarkan kaul pertamanya dalam Serikat Sabda Allah (SVD).                 


Makam Mgr. Heinrich Leven SVD di Rumah Induk SVD Steyl, Negeri Belanda.

St. Gabriel, Austria: Pendidikan filsafat, teologi dan imam SVD

Frater Heinrich Leven melanjutkan pendidikannya di Austria. Di St. Gabriel, yang adalah panti pendidikan para calon imam SVD saat itu, Frater Heinrich Leven disiapkan secara ilmiah dan spiritual bagi tugas dan pengutusannya sebagai seorang biarawan Misionaris.

Setelah menyelesaikan studi filsafat dan teologi, Frater Leven diperbolehkan menerima Sakramen Imamat untuk menjadi seorang imam SVD dan calon misionaris.

Pada tanggal 7 September 1910, bersama 56 temannya yang lain, ia  mengikrarkan kaul-kaul religius untuk hidup menghayati semangat Kemiskinan, Kemurnian dan Ketaatan untuk selama-lamanya.

14 atau 18 hari kemudian, ia menerima Tahbisan Subdiakonat dan Diakonat.  Dan tanggal 29 September 1910 Heinrich Leven ditahbiskan menjadi imam dalam Tarekat Serikat Sabda Allah (SVD). (Berlanjut)                   

PS: Artikel ini dikerjakan bersama Sr. Lenny CIJ.                                         

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here