70 Hari di Rumah Khalwat Roncalli: Melihat Dunia Dalam dan Luar (16)

0
513 views
Ilustrasi

Kamis, 3 – 4 November 2016

SELAMA dua hari dan dimulai hari ini, akan dibahas tentang mimpi yang diberikan oleh Br. Anton Sumardi, FIC.  Mimpi adalah salah satu sarana untuk melihat dinamika kehidupan bawah sadar.

Memahami mimpi dapat membantu kita mengenal diri sendiri maupun orang lain.  Ada pandangan bahwa dunia sadar sama riilnya  seperti dunia luar yang disadarinya.

Meskipun sulit dipahami seutuhnya, seluruh mimpi dapat menjadi sumber energi dan pengenalan diri, asalkan diberi perhatian.

Baca juga:  70 Hari di Rumah Khalwat Roncalli: Healing untuk Penyembuhan Semua ‘Rasa Sakit’ (15)

Menurut Johari Window dalam diri seseorang ada beberapa hal menarik yang sebaiknya kita kenal sebagai berikut:

  • Bidang Terbuka atau ruang terbuka, yakni segala apa saja dari diri kita yang mudah atau mau kita komunikasikan kepada orang lain, dan yang boleh diketahui orang lain. Makin dekat orangnya, mungkin makin rela kita membuka ruang ini.
  • Bidang Tersembunyi atau ruang tertutup, atau rahasia, yaitu segala apa saja dari diri kita yang karena salah satu alasan, kita cenderung rahasiakan atau sembunyikan saja. Segala hal dalam diri kita yang tak layak atau yang sulit dan enggan kita katakan atau yang sebaiknya jangan diketahui orang lain.
  • Ruang Buta yaitu segala hal dari diri kita yang kita sendiri tidak ketahui, tidak lihat atau sadari. Namun dengan jelas dilihat atau diketahui orang lain, karena biasanya cukup mencolok, mengganggu atau menggelikan. Semua melihat atau mengetahuinya, khususnya bagi mereka yang biasa bergaul dengan kita, tetapi kita sendiri tidak menyadarinya.
  • Bidang Gelap yaitu segala sesuatu pada diri kita yang berada di dalam “kegelapan”, di alam bawah sadar atau kita tak menyadarinya. Segala sesuatu yang tidak kita sadari atau ketahui karena telah terpendam di bawah sadar, entah disengaja atau tidak disengaja atau karena memang termasuk “dunia tak sadar” itu. Hal ini tidak jelas bagi orang lain maupun diri sendiri.

Melihat dunia luar

Sabtu, 5 November 2016

Hari ini menjadi hari piknik bersama. Kelompok saya mendapat tugas di dapaur pagi hari pkl. 04.00. Secara gotong royong, kami menyiapkan nasi kotak untuk bekal makan siang dan kue-kue di perjalanan. Semuanya dimasak sendiri oleh karyawan dan Sr. Lucia Sihdiyanti SRM yang bagian konsumsi. Karena ada banyak yang membantu, sebelum pkl 05.00 sudah selesai semuanya. Apa saja yang akan kami bawa sudah disiapkan di kamar tamu, dekat pintu luar.  Kami misa pkl 05.45 lalu makan pagi.

Pada pkl 07.00 kami diharap sudah siap. Kami boleh langsung masuk ke bis besar yang sudah datang sejak pkl. 06.00 tadi. Peserta kursus sejumlah 47 ikut semua disertai dengan 7 staf. Salah seorang staf, Ibu Lanny Hariyani, mengajak cucunya. Kami awali perjalanan ini dengan doa dan berkat dari Romo, mohon perlindungan Tuhan selama dalam perjalanan ini.

Tujuan pertama adalah Candi Borobudur. Saya pribadi sudah beberapa kali ke tempat ini, tetapi sebagian besar peserta yang berasal dari luar Jawa, belum pernah ke sini. Kami hanya diberi waktu 1 jam di sini. Meskipun bukan hari libur,  begitu banyaknya pengunjung yang datang.

Setelah itu kami menuju ke pusat perbelanjaan di Malioboro. Di tempat ini kami diberi waktu 1,5 jam. Saya mengantar seorang suster untuk mencari keperluan pribadi dan akhirnya dia mendapatkan yang dicarinya. Karena sudah waktunya makan siang, maka dibagikan bekal makan siang. Piknik terakhir menuju ke pantai Parang Tritis. Bersama dengan Sr. Susana SPM, saya naik dokar menuju ke pantai karang, di mana banyak karang dengan bentuknya yang unik-unik dan banyak teman yang berpose di sini.

Ada Romo dan Bruder yang naik kuda. Selain itu mereka juga naik ‘moge’, sepeda motor besar yang rendah dengan empat roda kecil yang gemuk. Mengesankan sekali ketika ada seorang suster dengan percaya dirinya ikut mengendarai ‘moge’ ini, karena keinginannya untuk naik kuda tidak terwujud. Ia pun menyadari kalau dirinya memang ‘tomboi’. Tentu saja kami banyak berfoto ria di banyak tempat.

Menjelang sore hari kami meninggalkan pantai ini. Sebelumya kami menikmati dulu es kelapa muda yang isinya langsung dituangkan di plastik dan diberi sedotan, sehingga dapat kami bawa untuk dinikmati di bis. Menjelang pkl 21.00 kami sampai di Roncalli dan langsung disambut oleh bakso panas di ruang makan. Kami makan bersama sebelum kembali ke kamar kami masing-masing. Perjalanan yang melelahkan, namun sangat menggembirakan. Terima kasih Tuhan atas hari indah yang boleh kami nikmati bersama hari ini.

Minggu, 6 November 2016

Sebagai gantinya hari tenang kemarin, maka hari ini menjadi hari tenang setengah hari. Pagi ini misa pkl. 06.00. Hari ini saya bimbingan untuk kedua kalinya dengan Sr. Yovani PI pada pkl. 08.00. saya mendapat tugas untuk menulis ‘inner child’ dengan tangan kiri.

Sore hari, pkl. 16.00 bersama beberapa teman saya ikut ke kolam renang Muncul, diantar oleh Br. Anton Karyadi FIC yang juga ikut renang. Di kolam renang ini pengunjung bebas berenang dengan pakaian apa pun, bahkan ada yang tetap memakai jilbabnya. Ada begitu banyak orang yang berenang.

Para suster sudah melepas kerudungnya sejak dari Roncalli, mereka memakai pakaian bebas. Ada  Romo dan Bruder yang juga ikut bersama kami. Saya dan satu suster yang hanya menonton mereka berenang. Airnya sangat dingin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here