80 Tahun Michael Utama Purnama, Malang Melintang dan Berkiprah di Mana-mana

0
41 views
Michael Utama Purnama, seorang mantan imam CM, bertemu dengan Paus Fransiskus. (Dok. Michael Utama Purnama)

SAYA lalu ‘dibuang’ ke Pacitan dan kemudian tidak diberi referensi ke mana-mana. Jadi saya harus apa? Saya putuskan untuk keluar,” bebernya.

“Saya katakan kepada imam tersebut: sebenarnya kamu yang harus keluar,” ungkap Pastor Utama CM kepada imam senior yang pernah ditegurnya.

Michael Utama Purnama CM saat itu telah tiba di sebuah tempat. Tepat pada pukul 13.00; sesuai kesepakatan. Lalu di sebuah kedai kopi, di mana lokasi pertemuan berada, maka ia lalu memesan segelas teh.

“Kamu pesan minuman dulu ya, baru kemudian kita bisa ngobrol. Kalau mau makan, silakan,” ungkap Michael dengan logat Jawa Timur nan kental saat ditemui di Pondok Indah Mall 2, Jakarta Selatan beberapa waktu silam.

Celebret, semacam “surat izin praktik” memimpin ekaristi

Selang beberapa menit, pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, itu mengambil dan membuka tas di sisi kanannya. Dari dalam kemasan berkelir hitam itu, dia mengeluarkan tiga lembar kertas:

  • Surat Tahbisan Imamat.
  • Surat Uskup Keuskupan Surabaya waktu itu: Mgr Jan Antonius Klooster CM. Surat ini menerangkan bahwa Michael Utama Purnama adalah seorang imam Kongregasi Misi (Congregatio Missionis atau CM) dari Keuskupan Surabaya. Surat ini sering disebut celebret.
  • Surat dispensasi atas pelepasan hidup selibat dari Bapa Suci Paus Johanes Paulus II yang dirilis kepada Michael Utama melalui Kongregasi Ajaran Iman (Propaganda Fidei).
Uskup Keuskupan Surabaya Mgr. Jan Antonius Klooster CM. (Wiki)

Di dalam tas tangan itu juga terdapat selembar stola dengan dua warna: ungu dan putih.

“Ini (stola) selalu saya bawa ke mana-mana. Kalau-kalau ada umat dalam bahaya kematian, saya masih memiliki kewenangan untuk menerima Pengakuan, mengampuni secara sah dan halal,” ujar Michael Utama Purnama, seorang mantan imam CM yang kemudian melepas status imamatnya, kemudian menikah dan kini sudah punya tiga anak.

Ia mengatakan kisah hidupnya ini dengan suasana “ringan”. Dipenuhi dengan senyum.

Rumah dekat Gereja Katedral Surabaya

Latar belakang keluarga Michael adalah pemeluk Buddhisme. Meski demikian, Michael mengaku sedari kecil ia sudah mengenal Katolik.

Apalagi pula, rumah keluarganya berlokasi sangat dekat dengan Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya.

Para romo dari berbagai paroki di Keuskupan Surabaya kerap kal datang mampir dolan atau sekadar ngobrol sana-sini di rumahnya.

Sangat masuk akal, karena waktu Michael masih kecil, bapaknya sudah aktif berbisnis; dengan membuka studio foto di rumah.

Michael kecil dan remaja kemudian bersekolah; mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan Katolik. Pada umur 10 tahun, bocah bernama Michael Utama ini menerima Sakramen Baptis. Ia menjadi Katolik karena ingin mengikuti “jejak” dua kakak perempuannya yang sudah terlebih dahulu menjadi Katolik.

Jarak rumah dengan gereja yang hanya berjarak beberapa ratus meter, mendorong dia aktif dalam berbagai kegiatan dan pelayanan di sana.

Tertarik menjadi imam

Ketertarikan Michael remaja ingin menjadi biarawan terinspirasi dari kepala sekolah SMP dan SMA waktu dia bersekolah. Namanya Bruder Aquino Max Helling CSA. Biarawan asal Filipina itu, demikian menurut Michael remaja, berpenampilan amat ramah, namun juga sangat tegas, wibawa, dan penuh kasih.

Namun, motivasi utama ingin menjadi imam bisa tumbuh berkat teladan hidup sang kakek: Suhu Tan Tik Sioe San. Kakeknya adalah seorang pertapa Budhist.

“Kakek saya konon mampu menyembuhkan orang sakit. Juga banyak mendoakan orang. Dikesankan secara umum, beliau itu sudah seperti ‘Yesus’ saja. Nah, saya ingin seperti beliau,” puji Michael ingin mengenang kakek buyutnya.

Usai menuntaskan pendidikan di seminari menengah dan tinggi, akhirnya Michael Utama Purnama menerima Sakramen Imamat. Ia ditabihsan menjadi imam Kongregasi CM tanggal 8 Juli 1972. Penerimaan Sakramen Imamatnya terjadi di Gereja Katedral Surabaya.

Celebret yang dulu pernah dimiliki Michael Utama Purnama. (Dok. pribadi)

Umat kemudian akrab memanggilnya dengan nama: Pastor Utama. Sebagai imam muda, Romo Utama CM lalu menjalani berbagai karya. Antara lain menjadi pengurus Yayasan St. Yohanes Gabriel Kediri dan kemudian Kepala Sekolah SMA St. Louis Surabaya.

Uskup Keuskupan Surabaya waktu itu adalah Mgr. Klooster CM, juga anggota Congregatio Missionis (CM). Uskup Mgr. Klooster CM kemudian mendapuk Pastor Utama sebagai Koordinator Wilayah Pastoral Surabaya Selatan – istilah sekarang menjadi Vikep.

Selain itu, uskup juga mempercayai Pastor Utama sebagai moderator berbagai komunitas kategorial di Regio Surabaya. Antara lain seperti Legio Mariae, Ikatan Sarjana Katolik (ISKA), Khalwat Sebulan (Kasebul), dan Retnas.

Pastor Utama juga pernah berperan menjadi satu inisiator terbentuk komunitas kharismatik di Keuskupan Surabaya.

Menegur kolega imam

Persoalan “konflik” internal dalam “organisasi” imam mulai muncul, kala Uskup Mgr. Klooster CM secara resmi malah meminta Pastor Utama CM untuk menegur dua imam seniornya yang ketahuan telah melanggar janji selibat.

Sebagai imam lebih yunior, Pastor Utama CM semula mengaku dan menyatakan keberatannya untuk menjalani permintaan uskup. Ia merasa sangat tak pantas menegur dua imam seniornya.

“Kamu adalah koordinator (baca: sebagai Vikep Regio Surabaya) dan oleh karenanya kamu sangat berwenang untuk menegur mereka,” ujar Michael Utama kepada Sesawi.Net dengan mengutip alasan Uskup Mgr. Klooster CM.

Namun, sungguh tak terlalu lama setelah dia “berani” menegur dua imam seniornya, Pastor Utama kemudian menerima surat tugas dari uskup. Dia dipindahtugaskan dari Surabaya untuk berpastoral ke Pacitan, Jawa Timur. Sementara, Pastor Utama CM juga sangat tahu, pada waktu itu wilayah tersebut belum sangat membutuhkan tenaga imam tambahan.

Bersama lainnya, Michael Utama Purnama bertemu secara pribadi dengan Paus Fransiskus di Vatikan.. (l’Osservatore Romano)

Marah dan keluar

Ia kemudian menghadap uskup; menanyakan ikhwal alasan kepindahannya. Uskup Mgr. Klooster mengakui, perpindahannya ke Pacitan itu terjadi atas rekomendasi dua imam senior yang dia tegur. Kedua imam tersebut saat itu punya posisi penting dalam tarekat.

Pastor Utama mengaku dirinya sangat marah sekaligus kecewa atas keputusan “sepihak” tersebut. “Daripada ‘terbuang’, lebih baik saya ke pergi Amerika saja: tempat saya belajar dulu,” ujar jebolan Magister Psikologi Universitas Chicago di Illinois, Amerika Serikat ini.

Pastor Utama mengajukan permohonan untuk pindah ke Amerika kepada pimpinan tarekat. Namun referensi untuknya tak kunjung datang.

“Saya ‘dibuang’ ke Pacitan dan tidak diberi referensi ke mana-mana. Jadi saya harus apa? Saya putuskan untuk keluar saja dari Kongregasi,” bebernya.

“Saya katakan kepada imam tersebut: sebenarnya kamu yang harus keluar,” ungkap Pastor Utama kepada imam senior yang pernah ditegurnya.

Keputusan itu terasa begitu berat bagi Pastor Utama. Sebab, dia merasa, aneka tanggungjawab yang diberikan kepadanya dilakukannya secara baik. Selain itu, dia juga masih merekam kenangan lama yang teramat jelas. Sebelum orangtuanya meninggal, dialah yang membaptis mereka.

Dalam keadaan emosi, Pastor Utama mengundurkan diri. Dia juga tak menampik dirinya sempat marah kepada Tuhan. “Maunya Gusti Allah apa sih? Saya sudah memberikan diri, tidak merasakan kenikmatan-kenikmatan duniawi, tapi malah dibuang oleh komunitas saya sendiri,” keluhnya.

Sejarah hidup dan karya Michael Utama Purnama. (Dok. Michael Utama Purnama)

Mengadu ke Bapa Rohani: Romo Yohanes Indra Kusuma CSE

Dia datang dan meminta doa kepada pembimbing rohaninya: Pastor Yohanes Indra Kusuma CSE.

Pastor Utama menumpahkan airmata di sana. Surat pengunduran diri baru dia terima setelah tiga tahun. Proses laisasi yang semula dipikirnya rumit dan menelan banyak waktu ternyata rampung kurang dari setahun. Ia merasa lega, begitu permohonannya untuk “menjadi kembali jadi seorang awam” (baca: laisasi) akhirnya dikabulkan oleh Takhta Suci.

Begitu menerima surat dispensasi, Romo Anton Tanalepie CM lalu memberkati pernikahannya di gereja. Kisah ini terjadi tanggal 15 April 1987. Kendati telah menanggalkan jubah, perhatian dan dedikasinya untuk Gereja tak padam. Michael Purnama kemudian terjun di Yayasan Tri Asih yang mendidik para penyandang tunagrahita.

Michael juga mulai terjun di Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta, Raptim, Yayasan Bhumiksara, serta di Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Komisi Kerasulan Awam, Komisi Keadilan dan Perdamaian, Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan.

“Saya bersyukur kepada Tuhan, karena Gereja masih mau memakai saya; justru dalam lingkup yang kian luas: lintas keuskupan dan lintas keyakinan,” kata salah satu pendiri Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) dan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) ini.

PS: Kisah ini ditulis sebagaima diceritakan oleh Michael Utama Purnama kepada Sesawi.Net.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here