Home BERITA 86 Tahun SLB “Dena Upakara” Wonosobo: Sr. Kalista PMY Ajari Anak-anak Puteri...

86 Tahun SLB “Dena Upakara” Wonosobo: Sr. Kalista PMY Ajari Anak-anak Puteri Tunarungu Berkata-kata (1)

0
Sr. Kalista PMY berdarah Dayak-Tionghoa asal Palangka Raya, Kalteng, mengampu tugas menjadi guru di SLB B "Dena Upakara" Wonosobo untuk mengajari anak-anak puteri tunarungu belajar berkata-kata dan punya bahasa. (Titch TV/Mathias Hariyadi)

MENJADI guru di sekolah zaman sekarang ini sungguh berbeda dibanding zaman baheula. Dulu sekali, menjadi guru boleh dikata jauh lebih “mudah”. Guru selalu lebih cepat menguasai keilmuan dibanding murid-muridnya. Apa yang dikatakan guru, maka para muridnya dengan sangat segan dan rasa hormat sekali akan segera patuh dan mengikuti arahannya.

Itu dulu sekali. Sekarang, murid bisa jadi lebih “pintar” dibanding gurunya. Posisi guru juga sudah tidak lagi sangat “terhormat” di hadapan para muridnya. Banyak alasan dan juga karena perkembangan zaman memang sudah berubah. Murid bisa belajar banyak; bukan hanya di bangku sekolah. Bahkan di rumah dengan sistem home schooling pun, anak bisa berkembang menjadi pintar.

Logo SLB B “Dena Upakara” Kota Wonosobo, Jateng , karya kerasulan kemanusiaan Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Puteri Maria dan Yosef (PMY).

Tantangan berbeda kalau mengajari anak-anak tunarungu

Di panggung reksa pelayanan kemanusiaan di antara anak-anak penderita disabilitas tunarungu, jenis tantangannya sangat berbeda. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dan kepekaan mampu menangkap “isi hati” anak-anak tunarungu menjadi sangat penting.

Apalagi hal itu sering dianggap belum cukup. Masih butuh energi batin dan semangat jiwa besar, berperilaku sabar, dan mental tahan banting dalam “menghadapi” anak-anak tunarungu yang menjadi anak didiknya.

Sr. Kalista PMY dulu mengampu tugas reksa pastoral di antara para lansia -para oma dan opa- di Panti Wredha Catur Nugraha ([PWCN) di Kaliori, Kabupaten Banyumas, Jateng. Hanya setahun ada di sana. Kini sudah selama tiga tahun terakhir, ia menjalani tugas baru: menjadi guru untuk anak-anak puteri tunarungu di SLB B “Dena Upakara”, Kota Wonosobo, Jateng.

“Semuanya jelas menjadi sangat berbeda,” ungkap suster biarawati asal Palangka Raya, Kalteng, menjawab Titch TV di SLB Dena Upakara, Wonosobo, akhir Maret 2024 lalu.

“Menghadapi kaum oma dan opa dan anak-anak tunarungu adalah dua ‘dunia’ manusia sangat berbeda. Namun yang sama adalah kita harus punya kesabaran dan ketekunan,“ tutur suster biarawati PMY berdarah campuran Dayak dan Tionghoa.

Metode Maternal Reflektif (MMR)

Mengajari anak-anak puteri penderita disabilitas tunarungu di SLB B “Dena Upakara” Wonosobo selama tiga tahun terakhir merupakan hari-hari sibuk yang harus dilakoni Sr. Kalista PMY. Namun, suster berpenampilan sangat ceria ini tampak sangat menikmati dan “menjiwai” pengutusannya menjadi guru bagi anak-anak disabilitas tunarungu ini.

Sr. Kalista PMY terus-terang mengakui dia perlu mengolah diri dan jiwa, agar tetap mampu “bertahan” dalam tugas yang tidak ringan ini. Bagaimana pun, kata dia, tugas mengajari anak-anak yang tunarungu -apalagi masih di usia dini- sungguh tidak mudah. “Saya selalu memposisikan diri sebagai ibu kandung mereka,” ungkapnya.

“Dengan sabar mau mengajari mereka pelan-pelan untuk mulai belajar berkata-kata. Diawali dengan mengucapkan kata-kata singkat dan esensial. Seperti mengucap kata papa, mama, sembari memperagakan gerak bibir. Juga melatih mereka mengolah otot dan gerak rahang mulut agar secara visual anak-anak tunarungu usia dini bisa melihat bagaimana kata-kata sederhana itu seharusnya diucapkan,” ungkap Sr. Kalista PMY sembari memperagakan pengucapan kata-kata itu di depan lensa kamera Titch TV.

Ia lalu menyebut teknik pengajaran itu dengan istilah “Metode Maternal Reflektif” atau MMR.

Sejarah panjang 86 tahun SLB B “Dena Upakara” Wonosobo

Di lapangan terbuka dan di bawah sinar mentari yang mulai panas terik di Wonosobo, Sr. Kalista PMY sangat aktif dan selalu intens “berkata-kata” menjawab Mathias Hariyadi dan Budi Handoyo – dua awak Titch TV yang menemuinya di Dena Upakara Wonosobo, Maret 2024 lalu.

Sesi 30 menit interpiu dengan Sr. Kalista PMY itu sendiri merupakan sebuah gaya percakapan menarik. Program Bincang-bincang Panjang khas menu tayangan audio-visual Titch TV ini berlangsung penuh keceriaan.

Juga disertai semangat besar Sr. Kalitas PMY untuk sebisa mungkin mampu menjelaskan bagaimana tidak mudahnya mengajari anak-anak puteri tunarungu hingga akhirnya masing-masing anak didiknya mampu “berkata-kata”.

Ya, memanglah benar bahwa anak-anak puteri tunarungu akhirnya mampu “berbahasa”. Namun, jumlah kosa katanya tetap saja sangat terbatas.

SLB B “Dena Upakara” Wonosobo merupakan sebuah dunia kerasulan kemanusiaan yang sangat luhur dan mulia – karya penting yang selalu dihayati oleh Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Puteri Maria dan Yosef (PMY).

Titch TV merasa senang bahwa salah satu anggotanya yakni Sr. Kalista PMY terkesan sangat menjiwai spiritualitas tarekatnya: mencoba bisa mencintai dan merawat dengan penuh kasih anak-anak penderita disabilitas tunatungu.

SLB B “Dena Upakara” di Kota Wonosobo, Jateng, adalah monumen hidup atas kisah penting dan mulia karya kerasulan Kongregasi Suster-suster PMY. Mereka sudah merangkai usia karya spesial ini genap 86 tahun. Dirayakan dengan sangat sederhana dalam ekaristi penuh syukur bulan Maret 2024 lalu.

Dan selama tiga tahun terakhir itu pula, Sr. Kalista PMY sudah ikut menjadi bagian dari sejarah panjang dan penting di SLB B “Dena Upakara” Kota Wonosobo. (Berlanjut).

Baca juga:

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version