Cantrik Janaloka

0
303 views
Cantrik Janaloka (KBK)

Puncta 20.01.23
Jumat Biasa II
Markus 3: 13-19

CANTRIK adalah sebutan untuk murid dari seorang guru sakti, atau abdi terkasih dari seorang pandita atau resi.

Ia adalah pengikut setia di sebuah pertapaan. Cantrik Janaloka mengabdi pada Resi Manikara di Pertapaan Andongsekar.

Sang Resi punya anak Dewi Manuhara yang diperistri oleh Arjuna. Mereka punya dua anak gadis bernama Pergiwa dan Pergiwati.

Dua gadis remaja yang cantik ini ingin tahu siapa bapaknya. Oleh Sang Resi dijelaskan bahwa ayah mereka adalah Ksatria Pandawa bernama Raden Arjuna di Madukara.

Mereka ingin bertemu dengan ayahnya. Tetapi tidak ada yang mengantar dalam perjalanan yang sangat jauh.

Cantrik Janaloka bersedia dan menawarkan diri. Resi Manikara agak ragu, karena dia tahu Cantriknya ini diam-diam mencintai kedua cucunya. Maka dia minta kepada Cantrik untuk bersumpah.

“Hamba bersumpah tidak akan mengganggu kedua cucu paduka. Jika hamba melanggar, semoga saya mati dikeroyok banyak orang,” demikian sumpah Cantrik.

Gadis-gadis cantik itu berangkat, dikawal oleh Cantrik. Di tengah hutan, Cantrik lupa pada sumpahnya.

Melihat kemolekan kedua gadis itu, Cantrik merayu mereka untuk mau menjadi isterinya. Mereka menolak dan lari sambil minta tolong.

Datanglah rombongan para Kurawa yang sedang mencari gadis-gadis sebagai syarat melamar pengantin putri Dewi Siti Sundari.

Terjadilah pertempuran memperebutkan dua gadis itu. Cantrik mati dikeroyok oleh tentara Kurawa. Ia terkena karma oleh sumpahnya sendiri.

Yesus memilih dua belas murid-Nya. Mereka berasal dari berbagai kalangan, status sosial yang berbeda-beda.

Mereka diberi tugas untuk menyertai Dia, memberitakan Injil dan diberi kuasa mengusir setan-setan.

Menyertai itu ibaratnya “nyantrik” berguru atau belajar secara langsung kepada Yesus. Mereka pergi kemana-mana bersama Yesus, melihat bagaimana Yesus mengajar dan menyembuhkan banyak orang.

Ada murid-murid yang setia. Tetapi juga ada yang menyangkal Dia. Bahkan ada juga yang mengkhianati Gurunya, yaitu Yudas Iskariot.

Seperti Cantrik yang mengkhianati sumpahnya sendiri, Yudas mengkhianati dengan menjual Gurunya kepada imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin Bangsa Yahudi.

Dalam sebuah kelompok atau komunitas sering terjadi ada orang-orang yang mengkhianati. Brutus mengkhianati Yulius Caesar. Benedict Arnold mengkhianati George Washington pejuang kemerdekaan Amerika.

“Yudas hanya menyerahkan satu jiwa. Arnold menyerahkan tiga juta.” Kata Benjamin Franklin yang pernah menjadi Presiden Amerika.

Kisah-kisah pengkhianatan Yudas itu bisa terjadi di dalam keluarga, komunitas, kelompok, paguyuban atau perkumpulan kita.

Seperti kata Anang Hermansyah yang mendendangkan sebuah lagu “Kau khianati hati ini, kau curangi aku!” kita juga pernah mengalami kisah pilu itu.

Bagaimana rasanya dikhianati oleh teman atau orang terdekat kita? Hmmm…. coba tanyakan pada Anang Hermansyah.

Pergi berwisata di Banyuwangi,
Menikmati indahnya Pantai Pelangi.
Siapa yang sering menyakiti hati,
Adalah orang-orang yang kita cintai.

Cawas, et tu, Brute…….!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here