A Story of Father’s Love

0
253 views
Ilustrasi - Ayah dan anak by Freepic

Puncta 14.04.21
Rabu Pekan Paskah II
Yohanes 3:16-21

KISAH nyata ini terjadi tahun 1938. John L. Griffith Sr. adalah penjaga jembatan Sungai Mississippi. Ia bertugas mengangkat tuas supaya kapal bisa lewat, dan menurunkannya agar jembatan turun dan kereta api bisa melintas.

Waktu bertugas, ia mengajak Lajo, anaknya yang sangat dia sayangi.

John berada di pos kontrol. Telepon berbunyi, mengabarkan bahwa sebuah kapal akan lewat. John menaikkan jembatan.

Tidak lama dari kejauhan Lajo melihat datangnya kereta api. Ia berteriak-teriak memanggil ayahnya. Namun John tidak mendengar.

Kereta api makin mendekat. Lajo berusaha menarik tuas yang ada di bawah jembatan. Malang, ia terpeleset dan jatuh.

John terperanjat, ketika tahu Kereta Expres dari Memphis melaju kencang. Ia berada dalam suatu dilema.

Menarik tuas untuk menyelamatkan 400 penumpang di dalam kereta, tetapi ia harus mengorbankan anaknya mati tertindih jembatan.

Pilihan yang sulit.

Pada detik-detik terakhir, dengan tangannya yang gemetar, ia menarik tuas. Jembatan itu turun menindih anaknya. Kereta api itu melaju aman di atasnya dan semua penumpangnya diselamatkan.

Yesus berkata kepada Nikodemus, “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Allah mengutus Putera-Nya untuk menyelamatkan dunia.

Seperti John mengorbankan anaknya yang dikasihi untuk menyelamatkan para penumpang kereta api, demikianlah Allah mengorbankan Yesus untuk menebus dosa-dosa manusia.

Kita ini seperti para penumpang kereta. Mereka adalah orang-orang yang kesepian, kecanduan, egois, dikuasai amarah, hawa nafsu, ketegaran hati.

Mereka adalah orang yang hidup dalam kegelapan. Yesus datang sebagai terang yang menghalau gelap.

Ia mati untuk menyelamatkan kita yang berdosa. Itulah wujud kasih Allah yang paling besar. Putera-Nya sendiri dikurbankan bagi kita.

Marilah kita syukuri hidup ini, karena hidup kita ini sangat berharga di mata Tuhan. Sedemikian Ia mengasihi kita, sampai Anak-Nya sendiri mati untuk kita.

Janganlah sia-siakan waktu hidup kita ini.

Tengak-tengok angka tanggalan.
Hitung-hitung angka merahnya.
Hidup kita berharga di mata Tuhan.
Ia kurbankan Anak-Nya untuk kita.

Cawas, ngemong, momong, mbopong……

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here