Akhir Pekan Bersama Kopi Hitam, Semanis Harapan yang Menyembuhkan

0
373 views
Ilustrasi: Malaikat saja perlu refleksi by Royani Lim

MALAM kian larut. Badan semakin terasa lelah. Ketenangan suasana desa begitu syahdu dan indah. Berhiaskan suara binatang malam, gemercik air sungai yang mengalir, dan suara biji–biji karet yang lantang membelah, mengeluarkan isi dari kulitnya yang keras.

Terasa sangat sempurna karya Tuhan di alam desa.

Sebelum mengakhiri hari ini bersama malam, aku buka-buka kisah lama yang tak pernah usang isinya. Untuk petunjuk jiwa hidup manusia.

Tak mau kulewati malam gelap sendirian. Tanpa sabda-Nya yang setia menemani, meski mata menutup dan jiwa melalang buana di alam lain.

Setidaknya ada rasa jaminan keamanan jiwa. Bila Sang Pemilik Hidup meminta pulang, tanpa sempat membuka mata bagi dunia.

Sabda-Nya merengkuh dan menguasai pikiranku. Berulang–ulang kusimpan di dalam benakku hingga lelap tidurku.

Kegelapan malam

Di kegelapan malam dan tidur yang dalam, kurasakan jiwaku meronta dan dadaku terasa penuh. Mata yang terpejam dalam tidur dan pikiran setengah sadar.

Slide–slide peristiwa masa lalu muncul satu persatu seperti cuplikan film. Tak bisa kutolak kehadirannya. Kubiarkan hal itu terjadi. Kulihat dan kurasakan.

Meskipun perasaan tak nyaman dan ingin lepas dari situasi saat itu.

Jiwaku seperti dikuliti. Dadaku penuh dengan segala rasa, tercabik–cabik, tak nyaman, sungguh menyiksa.

Peristiwa yang menyakitkan dan mengecewakan begitu kuat muncul. Wajah–wajah yang dulu pernah meninggalkan luka hati dan kekecewaan muncul dalam setiap slide-slide itu.

Bersamaan dengan munculnya wajah–wajah itu, kubiarkan perasaan yang terkuat muncul.

Kubiarkan jiwaku terkuliti oleh pengampunan terjadi.

Kubiarkan suara–suara halus mengisi pikiranku. “Ikhlas… lepaskan… Ampuni…”

Kuikuti suara–suara halus itu. Setiap suara berseru, jiwaku terkelupas. Slide demi slide bergantian muncul. Silih berganti.

Tak kupungkiri. Tidak mudah mengalami dan melakukan keikhlasan, melepaskan dan mengampuni.

Namun terus kulakukan dengan menyebut nama Yesus dan Bunda Maria tanpa henti.

Entah mulai jam berapa dan berakhir pukul berapa. Yang kuingat, hal itu terjadi saat dan di dalam tidur malamku. Hingga kulelap kembali.

Ilustrasi — Pemandangan malam di sebuah kota. (Ist)

Hari baru

Keesokan harinya, saat kubuka mata. Aku merasakan sesuatu yang baru di dalam diriku. Tubuhku terasa sangat segar. Jiwaku terasa sehat, tak ada rasa luka dan kecewa.

Hatiku terasa baru. Hatiku, jiwaku, tubuhku, dan pikiranku terasa baru. Aku sembuh. Aku disembuhkan oleh Tuhan di dalam tidur malamku.

Ucap syukur dan terimakasihku pada Tuhan berulang kali.

Misa pagi hari ini kutemukan sesuatu yang baru.

Bacaan Injil yang kubaca, kurenungkan dan kucoba untuk mengaitkan dengan peristiwa malam yang lalu. Bacaan injil menguatkanku dan membuatku semakin baru.

Tuhan begitu mengasihiku. Hidup rohaniku biasa saja. Rutinitas doa, aku lakukan biasa saja. Dosa, salah, mengecewakan Tuhan melalui sesama tak bisa kupungkiri.

Entah itu kusadari atau tidak sengaja kulakukan.

Namun, Tuhan sungguh penuh kasih. Rahmat penyembuhan telah dianugerahkan Tuhan kepadaku dan aku harus melakukan juga bagi diriku sendiri.

Ilustrasi: (Mathias Hariyadi)

Tak cukup sekian dan terimakasih

Menindaklanjuti karya Tuhan dan rahmat–Nya itu, saya pikir saya sendiri juga harus menyembuhkan diri sendiri dengan mengikhlaskan segala sesuatu terjadi, melepaskan segala sesuatu dan mengampuni segala hal yang mengecewakan dan menyakitkan hati.

Dari pihak saya, perlu menindaklanjuti proses penyembuhan itu sebagai wujud niat dan jawaban pribadi atas sapaan dan jamaah–Nya.

Ucapan terimakasih saja rasanya tak cukup. Tindakan sebagai ungkapan terimakasih lebih bermakna daripada kata–kata.

Sikap terimakasih itu diwujudkan dengan merubah diri dan melanjutkan proses mengikhlaskan sesuatu terjadi, melepaskan segala hal dan mengampuni.

Tidak mudah memang. Melakukan hal itu sendiri memang sulit, perlu belas kasih dan kemurahan hati Tuhan untuk membantu proses itu berlangsung.

Ikhlaskan saja

Mengikhlaskan segala sesuatu terjadi bukanlah hal yang mudah, apalagi bila ada kaitannya dengan keinginanku atau kehendakku karena aku memiliki rencana ini dan itu.

Jadi, harus buat ini lalu itu untuk mencapai keinginanku.

Hal itu bisa berupa target atau impian. Untuk diriku sendiri atau untuk orang lain. Susah atau mudah.

Dengan langkah–langkah A, B, C, dan selanjutnya sampai terwujud keinginanku. Bila menemukan kegagalan merubah strategi.

Kasihanilah dan ampunilah Aku, Ya Allahku menurut belas kasih-Mu, kasihanilah aku, ya Tuhan, by artbybryn.

Mencoba lagi dengan strategi yang lain pun, kalau memang bukan kehendak Tuhan, ya tetap tak akan terjadi.

Diriku lupa bahwa Tuhan yang kendalikan semua itu.

  • Bila sesuai rencana Tuhan, bisa terjadi.
  • Bila tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, ini yang bikin pusing kepala dan patah semangat, lalu uring–uringan nggak jelas.

Semua jadi sasaran.

Benda mati bisa jadi sasaran, apalagi sesama yang bisa bersuara dan bergerak, punya hati dan pikiran. Dan mulailah perbedaan pendapat. Gesekkan-gesekan dengan sesama terjadi.

Adakalanya menghadapi situasi–situasi itu dengan kepala dingin, tidak terpancing emosi. Cooling down dengan jalan–jalan di taman sampai hati menjadi adem.

Tidak menutup kemungkinan juga menghadapi dengan hati jengkel.

Perlu cooling down lebih lama. Yang penting jangan sampai matahari terbenam.

Untuk segala sesuatu yang terjadi, yang tak sesuai dengan keinginan itulah yang membuat diri hanya mampu diam, menyendiri, dan menghela nafas panjang.

Tak ada yang bisa dilakukan, tak bisa berkata–kata lagi.     

Berdiam diri hingga hati siap untuk mengurai kata–kata dengan Tuhan. Saat itulah proses ikhlas terjadi. Menerima sesuatu terjadi.

Memprosesnya dalam hati naik ke pikiran. Tak semua hal dapat diubah. Sedikit hal yang bisa diubah. Hal yang tak dapat diubah, dipasrahkan kepada Tuhan.

Membiarkan Tuhan yang urus karena memang bukan hakku tetapi hak mutlak milik Tuhan. Hal yang sedikit, yang bisa diubah, dilakukan bersama Tuhan.

Sedikit demi sedikit lebih aman, karena Tuhan lebih paham, lebih lengkap pengetahuan daripada saya.

Yang penting berusaha.

Ilustrasi (Ist)

Lepaskan

Menerima dengan ikhlas hati menurut saya langkah awal sebuah proses melepaskan sesuatu yang ada dalam genggaman.

Segala hal yang digenggam. Bisa saja kesenangan, pendapat, ego, program kerja, kenangan masa lalu, dan hal lain yang menjadi beban.

Beban, disebut demikian karena membuat diri menjadi tawanan atau budak dari keinginan atau kehendak.

Sering kali lupa diri. Hilang kesadaran:

  • di mana saya berada.
  • siapa saya sekarang.
  • siapa yang saya hadapi.
  • pola hidup apa yang sudah berlangsung.
  • budaya macam apa yang saat ini saya hadapi,
  • bagaimana pola pikir saya.
  • bagaimana pola pikir masyarakat pada umumnya.
  • bagaimana latar belakang saya dengan orang–orang yang saya hadapi.
  • apa yang sedang terjadi
  • apa saya yang harapkan dengan apa yang diharapkan masyarakat.
  • Dan masih banyak hal–hal lain yang membuat lupa kesadaran diri.

Manusia diciptakan untuk menguasai hal–hal itu, yang sering disebut dengan ego.

Bukan ego diciptakan untuk manusia. Tetapi manusia berada di atas ego.

Pengendalian diri, penguasaan diri agar terhindar dari menjadi tawanan ego atau budak ego. Tak hanya ego saja tetapi jenis lainnya, emosi, seks, ketakutan, dan masih banyak lainnya.

Melepaskan berarti membuka hati dan merelakan dengan ikhlas hal yang digenggam itu pergi.

Tanpa tawar menawar lagi. Percaya bahwa Tuhan beri yang terbaik, Tuhan punya rencana yang sempurna daripada rencana saya.

Jadi saya biarkan semua hal yang digenggam pergi. One by one, day by day, sedikit demi sedikit lama–lama terbebas dan menjadi pribadi lepas bebas.

Bukan untuk pribadi, tetapi untuk Tuhan.

Mengampuni, proses sekolah hidup yang menghebatkan

Sekolah tidak hanya sebatas gedung atau bangunan megah yang penuh dengan sarana prasarana.

Sekolah di mana pun memiliki satu tujuan yang sama, mencerdaskan para murid dan menjadikan siswa berakhlak mulia.

Mengampuni bisa jadi sekolah. Tempat di mana seorang pribadi dididik untuk menjadi manusia baru. Dalam proses hidup yang tidak mudah, namun terus berlangsung secara nyata.

Dilatih untuk:

  • menerima kenyataan.
  • dididik untuk memiliki akal sehat dan pengendalian diri.
  • dilatih untuk memiliki hati yang penuh kasih.
  • dididik untuk rendah hati menyingkirkan sikap hati yang angkuh dan sombong.
  • dilatih untuk membuka hati.

Latihan dan didikan yang terus menerus berlangsung.

Mengampuni memerlukan kebesaran hati dan jiwa. Rendah hati untuk taat pada Kristus sendiri.

Sebagaimana amanat Yesus pada Rasul Petrus, mengampuni hingga tujuh puluh kali tujuh kali.

Mengampuni tak terbatas.

Ilustrasi tentang pertobatan karya Salvador Dali (ist)

Kemanusiaan manusia yang segala sesuatunya terbatas memerlukan Yang Tak Terbatas untuk melakukan sesuatu yang tak terbatas itu.

Pengampunan membutuhkan kekuatan Yang Illahi, agar manusia memiliki sikap hati belas kasih dan keberanian untuk mengalahkan diri sendiri.

Kasih juga menjadi tanda murid Kristus. Seperti yang tertulis dalam Injil.

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu; yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid–murid–Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh 13:34 – 35)

Bersama kopi hitam manis, ada harapan hati di akhir pekan ini.

Semoga segala hal kebaikan tidak menjadi barisan kalimat kosong tetapi menjadi hidup dalam kehidupan sehari–hari.

Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here