Aku adalah Bagian dari Orang Lain

0
267 views
Ilustrasi: OMK ikut terlibat dalam reksa pastoral di semua stasi Paroki Pahauman.(Priscillia Graciela)

TIDAK dapat disangkal bahwa tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang hidup sendiri. Manusia yang hidup adalah manusia yang senantiasa mengalami perjumpaan dengan manusia hidup yang lain.

Mengapa dikatakan sebagai manusia yang hidup?

Manusia yang hidup menunjuk pada suatu keadaan dimana manusia itu tidak hanya hidup secara jasmani dan spiritual, tetapi lebih dari itu bahwa manusia yang hidup adalah manusia yang mengalami proses relasi sosial dengan orang lain.

Kontak atau hubungan sosial dengan orang lain merupakan suatu hal yang harus diterima dan diakui. Berelasi dengan orang lain merupakan hal yang sangat baik dalam rangka manusia mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya.

Manusia adalah makhluk sosial. Istilah manusia sebagai makhluk sosial lebih dikenal dengan sebutan zoon politicon.

Zoon politicon  ini pada dasarnya menunjuk pada keadaan manusia yang mempunyai keinginan untuk hidup secara bersama-sama dengan yang lain.

Keinginan ini merupakan suatu bentuk kesadaran bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan manusia lain.

Manusia yang lain merupakan subjek yang akan membantu seorang manusia untuk hidup dan tumbuh dalam rangka menuju kepada tujuan hidup yang dicita-citakannya.

Siapakah “Aku”?

Pertanyaan ini akan mengarahkan kita pada suatu pencarian tentang siapakah diri manusia itu secara keseluruhan. Saya adalah seorang manusia.

Lantas, siapakah sebenarnya manusia itu?

Ada begitu banyak penjelasan dan pengertian tentang keberadaan dari hidup manusia. Banyak filsuf yang memaparkan pemikiran mereka tentang manusia.

Martin Heidegger

Heidegger misalnya, menyebutkan manusia dengan suatu istilah yang dikenal dengan nama Dasein. Bagi Heidegger, ada tiga sifat yang menandai keberadaan dari Dasein ini.

Tiga sifat tersebut yakni faktisitas, eksistensialitas, dan kemerosotan.

  • Faktisitas menunjukkan pada kenyataan bahwa manusia di luar kemauannya terdampar di dunia ini dengan kondisi dan situasi tertentu. Faktisitas ini mengandaikan kebebasan eksistensial manusia untuk mewujudkan kemampuan dan menentukan diri.
  • Eksistensialitas menunjuk pada keadaan dimana manusia memikul tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri.
  • Kemerosotan adalah sebuah keadaan pada saat manusia lebih cenderung untuk menyesuaikan diri dengan dunia sekitar, akibat kurang berefleksi dan kurangnya pemahaman akan keberadaannya.

Manusia yang bereksistensi merupakan manusia yang menyadari keberadaannya. Kesadaran ini pula menunjuk pada pemahaman bahwa saya tidak hidup sendirian. Orang lain senantiasa hadir dalam setiap aktivitas seseorang.

Hal ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Aristoteles, seorang filsuf Yunani Kuno, menyebutkan bahwa manusia adalah Zoon Politicon.

Manusia senantiasa ingin bergaul dengan sesamanya. Makhluk sosial itu adalah manusia yang berhubungan secara timbal balik dengan manusia lain.

Relasi dengan orang lain

Manusia sebagai makhluk sosial merupakan kenyataan bahwa manusia tidak akan dapat hidup dengan normal danpa kehadiran dan keberadaan dari orang lain.

Hubungan atau relasi antara manusia yang satu dengan manusia yang lain sering disebut dengan istilah interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang berkaitan dengan orang per orang, kelompok per kelompok, orang kepada kelompok, atau pun sebaliknya.

Interaksi sosial merupakan suatu hubungan timbal balik antara satu komponen dengan komponen lainnya yang berlangsung dan bertahan secara terus menerus.

Pemahaman tentang ‘saya’ akan lebih nampak jika setiap orang mengerti siapa itu ‘orang lain’.

Artinya bahwa keberadaan saya akan baru diakui jika kita berada dan mengakui pula keberadaan orang lain. demikian dapat dikatakan bahwa adanya suatu hubungan yang erat antara ‘saya’ dengan ‘orang lain’.

Sejak awal dilahirkan, seorang manusia harus membutuhkan bantuan dan perhatian dari orang lain. Hal ini sangat diperlukan agar manusia tersebut dapat bertahan hidup.  Manusia pada kapanpun dan pada saat mana pun senantiasa berelasi dan berkomunikasi dengan orang lain.

Buku terlengkap dalam bahasa Indonesia tentang filsafat eksistensialisme Perancis garapan filsuf Gabriel Marcel.

Hubungan atau relasi antara individu yang satu dengan individu yang lainnya dijelaskan oleh Gabriel Marcel yang menyebutkan istilah esse est co-esse.

Istilah ini berarti bahwa ada selalu berarti ada bersama. Lebih lanjut lagi, ia memperkenalkan istilah relasi intersubjektif yang menggambarkan suatu keadaaan dimana manusia yang satu terbuka dengan manusia yang lain.

Baginya, eksistensi seseorang tidak akan berarti apa-apa jika tanpa kehadiran orang lain. Karena itu, relasi intersubjektif merupakan suatu bentuk persekutuan atau suatu ikatan antar pribadi yang melampaui batasan-batasan tertentu.

Relasi ini mendorong oramg untuk keluar dari sikap yang egois menuju sikap yang cinta akan sesama.

Cinta pada hakikatnya merupakan kemauan secara terus menerus berusaha untuk keluar dari diri sendiri dan senantiasa mengarahkan diri pada orang lain. Hal yang perlu dilakukannya ialah kesediaan untuk menerima orang lain sebagai bagian dari dirinya sendiri.

Selama kita masih menutup diri kita terhadap orang lain, maka tidak mungkinlah relasi intersubjektif ini dapat terwujud.

Keterbukaan, kesediaan, dan kerelaan untuk menerima orang lain akan lebih menampakkan keberadaan diri kita sebagai makhluk sosial yang ingin untuk selalu hidup bersama dengan yang lain.

Tujuan hidup manusia

Manusia merupakan individu yang ontonom. Ia dapat berdiri sendiri. Akan tetapi dalam mewujudkan apa yang menjadi tujuan hidupnya, ia senantiasa harus memerlukan kehadiran orang lain.

Orang lain akan menjadi teman atau partner dalam rangka usaha untuk mencapai tujuan hidup seseorang. Tujuan yang paling pertama dan utama yakni dapat bertahan hidup dan megalami kebahagiaan.

Sebagai makhluk sosial, tujuan hidup dari manusia yakni dapat hidup bersama dan bergaul dengan sesamanya secara baik dan berlangsung terus menerus. Hidup bersama ini akan nampak terlihat dalam hidup bermasyarakat.

Di dalam masyarakat, semua orang diarahkan untuk hidup dengan baik. Walaupun terdapat berbagai macam individu, namun dalam hidup bermasyarakat semua individu tersebut akan berusaha untuk bersatu padu dalam membangun masyarakatnya.

Di dalam masyarakat, setiap individu tetaplah bersifat manusia yang otonom, manusia yang memiliki kebebasan. Akan tetapi kebebasan ini diatur dan diarahkan dalam kelompok masyarakat.

Manusia adalah makhluk sosial. Hal ini menunjuk pada pengertian bahwa dalam menjalani kehidupannya, manusia senantiasa dipertemukan dengan manusia-manusia yang lain. Relasi intersubjektif merupakan hubungan keterbukaan diri antara pribadi yang satu dengan pribadi yang lain.

Dalam menjalani kehidupan bersama, setiap orang harus menjaga relasi intersubjektif tersebut agar tidak dinodai dan dicederai oleh hal-hal yang tidak penting dalam menjalani kehidupan bersama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here