Aku Tidak Kehilangan

0
191 views
Ilustrasi - Menjadi tua dan siap mati. (Ist)

Renungan Harian
Kamis, 22 Juli 2021
Pesta St. Maria Magdalena
Bacaan I: Kid. 3: 1-4a
Injil: Yoh. 20:1. 11-18
 
SUATU pagi, saya mengunjungi seorang bapak yang meminta Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Bapak itu sudah amat sepuh, tetapi masih nampak sehat segar.

Ia masih bisa berjalan sendiri meski perlahan dan memakai tongkat. Bicara masih jelas dan pendengarannya pun masih baik.

“Selamat pagi opa. Opa sehat?” sapaku.

“Selamat pagi, Romo. Puji Tuhan sehat, Romo, yaa sehatnya orang tua,” jawabnya.

“Opa masih kelihatan segar. Maaf saya pikir opa sakit, sehingga meminta Sakramen Pengurapan Orang Sakit,” kata saya.

“Ooo, saya sehat romo. Maaf merepotkan, saya minta Sakramen Minyak Suci, karena saya merasa saya cukup, sudah menerima dan menemukan apa yang saya cari. Dan kiranya kalau Tuhan memanggil saya siap. Jadi ya untuk jaga-jaga saja, siapa tahu tidak sempat lagi menghubungi Romo,” jawab opa itu.

“Opa, apa yang opa cari, kalau saya boleh tahu?” tanya saya.
 
“Romo, saya itu dibabtis sudah tua, waktu itu saya sudah umur 65 tahun. Sebelumnya saya bisa disebut tidak beragama. Dari kecil ya ikut agama orangtua, tetapi saya tidak pernah ikut acara-acara mereka.

Saya mempelajari beberapa agama lewat buku-buku, tetapi tidak ada yang membuat saya  tertarik. Kalau saya ditanya apakah saya percaya pada Allah, yaa… saya percaya tetapi tidak membuat saya harus menyembah atau bagaimana.

Isteri dan anak-anak saya semua jadi Katolik, saya tidak keberatan, silahkan tetapi jangan paksa saya ikut.

Romo, bagi saya tidak penting orang itu beragama apa, yang penting orang itu berbuat baik sama orang lain, jangan jahat sama orang, dan jangan kikir.

Orang kalau mau sukses yang harus mau berjuang dan menderita, bukan dengan doa-doa kesana kemari. Itu prinsip saya dan itu saya hidupi bertahun tahun.
 
Suatu ketika anak perempuan saya satu-satunya dari lima orang anak saya, setelah lulus kuliah bilang kalau dirinya mau masuk biara mau jadi suster. Wah, saya tidak setuju, pokoknya tidak.

Jadi Katolik, saya tidak keberatan. Tetapi kalau jadi suster, tidak.

Saya tidak mau kehilangan anak perempuan saya. Ia nekat Romo, melawan saya. Memang dia itu keras seperti saya. Karena dia nekat, ya terserah, pokoknya saya tidak mau tahu.

Saya tidak pernah mau bicara sama dia. Ada acara kaul atau apa saya tidak pernah mau datang.

Ia libur di rumah ya biasa saja. Tetapi saya tidak pernah tanya kalau dia menyapa, ya saya jawab seperlunya.

Dua tahun sebelum saya baptis, saya kena serangan jantung dan dibawa ke rumah sakit. Waktu itu saya langsung masuk ICU.

Romo, ternyata anak saya yang jadi suster itu datang lebih dulu dibanding kakaknya, meskipun mereka lebih dekat; tetapi karena ada anak dan macam-macam mereka lebih lambat.

Itu hal pertama yang saya temukan ternyata anak saya yang jadi suster tetap sayang pada saya, meskipun saya tidak peduli dan ternyata saya tidak kehilangan dia.
 
Ketika dia menemani saya dia bilang:

“Papi berdoa, mohon kesembuhan dari Tuhan, dedek juga berdoa bareng papi.” Wah saya tidak pernah berdoa dan tidak ingin berdoa maka yang dikatakan ke dia bahwa saya tidak bisa berdoa.

Dia ngomong lagi: “Papi, tidak usah bicara, papi diam, dalam hati bilang ke Tuhan, Tuhan kasihanilah aku. Udah papi ngomong itu dalam hati berulang-ulang.”

Saya iyakan saja tetapi saya tidak lakukan. Baru waktu malam saya susah tidur saya ingat apa yang dikatakan anak saya dan saya melakukan.

Romo saat itu tiba-tiba saya merasa tenang dan damai.

Saya yang awalnya takut mati tiba-tiba tidak takut lagi. Saya kemudian sadar: “Oh Tuhan telah saya temukan bukan lewat buku-buku, tetapi lewat rasa tenang dan damai yang saya terima. Dan yang paling penting saya jadi tidak takut mati, karena pasti ada damai dan ketenangan.”

Opa itu bercerita.

Sebagaimana pengalaman penulis Kidung Agung mencari kekasihnya dan menemukan kekasihnya sehingga tidak ingin melepaskan lagi.

Demikian pula kiranya pengalaman pergulatan orang yang mencari dan menemukan Tuhan.
 
Bagaimana dengan aku?

Pergulatan macam apa yang kualami untuk menemukan Tuhan?
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here