Akuntabilitas dan Transparansi Tata Kelola Kolekte

0
299 views
Ilustrasi.

BAPERAN-BAcaan PERmenungan hariAN.

Rabu, 13 Oktober 2021.

Tema: Subyek kasih.

  • Rom. 2: 1-11.
  • Luk. 11: 42-46.

SANGAT menyedihkan keber-agama-an diperjual belikan. Hanya untuk kepentingan tertentu dan sesaat.

Kendati mungkin bermaksud baik demi sesuatu yang baik. Namun cara yang ditampilkan bermakna dan bisa ditafsirkan sebaliknya. Kesucian dilecehkan.

Nama Allah dan kelembutan kuasa kasih-Nya hanya diperalat dan sekedar dijadikan topeng.  Sesama tidak lagi dilihat sebagai subjek kasih dari Allah, tetapi menjadi objek pemerasan.

Di manakah persaudaraan dan persahabatan sosial?

Di sebuah gereja yang cukup besar awalnya partisipasi umat cukup hidup, namun belakangan ini terasa memudar.

Semangat menurun. Cara-cara perjumpaan dan bagaimana berjalan bersama sebagai sebuah kawanan cenderung tidak lagi mengembangkan kebersamaan.

“Saya kok nggak enak perasaan akhir ini, ya Mo.”

“Apa yang dialami?” kataku.

“Saya prihatin terhadap Gereja kita. Dulu, sangat terbuka dan partisipatif. Kami tidak hanya diperlakukan sebagai umat. Tetapi kami adalah bagian dari umat yang dengan senang hati diikutsertakan dalam reksa pastoral. Kebersamaan dan keguyuban, partisipasi dinamis menjadi sebuah kenyataan.

Ada kegembiraan dan keterbukaan dalam pelayanan. Saya rindukan kembali kondisi seperti itu. Beberapa aktivis lain juga menginginkan hal yang sama,” demikian harapnya.

“Maksudnya?”

“Dulu, sepekan sebelum rapat sudah diberitahu tema rapat. Rapattidak bertele-tele. Sekarang kami tidak tahu apa yang dibahas. Diminta laporan kegiatan, mendengar dan melaksanakan apa yang disampaikan. Seandainya pun ada saat syering pendapat, akhirnya pun tidak sepakat. Hanya kembang omongan,” keluhnya.

“Contohnya?”

“Beberapa kali rapat, beberapa peserta ingin mengetahui soal kolekte. Berapa yang diterima dari kebaikan umat dan berapa pengeluaran bulanan sehingga kami bisa tahu.

Kami tidak bermaksud kepo. Dulu, dalam rapat kami juga diberitahu berapa kolekte bulan ini dan apa pengeluarannya. Jadi kami seperti merasa memiliki. Bahkan bertukar gagasan bersama bagaimana kebaikan umat bisa menjadi maksimal,” jelasnya.

“Untuk apa kamu tahu? Kamu memberi kolekte berapa? Itu bukan urusanmu. Ada bagian yang mengurusnya,” jawab yang memimpin rapat.

“Kami pun tidak pernah bertanya. Terkesan hanya orang-orang yang tertentu yang tahu dan bagaimana dipertanggung-jawabkan. Kami juga tidak berurusan. Hanya selintas  terdengar, ada sedikit persoalan sekitar keterbukaan dan pertanggungjawaban. Kami melayani yang bisa kami lakukan.

Lama-lama beberapa teman merasa kurang memiliki Gereja sebagai Gerejaku, sense of belonging rendah. Terkesan Gereja milik dan diurus oleh orang tertentu. Kami hanya tinggal menjalankan perintah dan keinginannya.

Kedinginan suasana, kekakuan persaudaraan bahkan cenderung blok-blokan. Keterbukaan, kegembiraan dan  kebersamaan menjadi sesuatu yang mahal.

Dan terkesan pula, pengurus selalu meminta minta donasi dari umat. Bahkan pembagian sembako bagi umat dan masyarakat terkesan hanya membagikan apa yang diberi oleh donatur. Seakan-akan itu yang penting dalam seluruh kegiatan dan pelayanan. 

Memang betul Gereja membutuhkan sebagai support. Tetapi saya kok percaya, Tuhan tidak pernah berdiam. Semakin Gereja melayani umat dengan sukacita dan kegembiraan berbagi dengan mereka yang kecil, miskin dan difabel, tentu Tuhan akan mencukupi.

Itu Romo, kondisi paroki di mana saya tinggal. Saya mendengar dan mengetahui di paroki lain  sangat terbuka dan tidak kekurangan. Ada keterbukaan dan akuntabilitas. Ada yang diumumkan.

Ada pula yang diinfokan dlm rapat. Semua clear. Saya prihatin. Kehidupan dan interaksi umat terkesan menjadi formal,” ungkapnya gundah.

“Birokrasi saja tidak cukup. Perlulah mengusahakan suasana pelayanan dan pengutusan yang baik dan permanen. Berjalan dan bergerak maju bersama demi pelayanan itulah hal terbaik yang bisa dilakukan,” kataku.

Paulus menasihati, “Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya. Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” ay 4.

Tuhan, lawatlah. Perbaikilah cacat cela yang dibawa umat-Mu Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here