Albertus Istiarto: Hebatnya Orang Asmat di Papua, dalam Kegelapan Bisa Tahu Arah Laju Speedboat (1)

3
324 views
Drs. Albertus Istiarto MA, dosen Unika Soegijapranata Semarang dengan pengalaman bertahun-tahun malang-melintang di Agats-Asmat, Papua Selatan, sejak Agustus 1981. (Mathias Hariyadi/Titch TV)

MULAI Agustus 1981, Albertus Istiarto tinggal di wilayah pastoral Keuskupan Agats-Asmat, Papua Selatan. Sebagai petugas pastoral, ia banyak melakukan perjalanan keliling Keuskupan Agats-Asmat.

Tentu saja tetap memakai speedboat – satu-satunya moda transportasi andalan di wilayah pastoral Keuskupan Agats-Asmat di wilayah Papua Selatan.

Ilustrasi: Bapak Uskup Keuskupan Agats-Asmat Mgr. Aloysius Murwito menjadi motoris di belakang kemudi speedboat Keuskpan saat melaju kencang di sungai nan lebar di Yaosakor, Kabupaten Agats, Papua. (Mathias Hariyadi)

“Tidak bisa tidak, harus memakai speedboat. Karena yang disebut  ‘jalan raya’ di wilayah Asmat-Agats itu tidak lain berupa aliran sungai. Apakah itu sungai besar yang batas kanan-kirinya sampai tidak kelihatan.

Atau yang biasa disebut Kali Potong – semacam aliran sungai kecil hasil sodetan alam dengan lebar 5m yang tetap bisa dilalui speedboat,” papar alumnus Seminari Mertoyudan tahun 1971 yang sudah khatam malang-melintang di Agats-Asmat sejak Agustus 1981 silam.

Transportasi aliran sungai andalan lainnya adalah kapal motor yang disebut mapi. Ukurannya lebih besar dibanding speedboat; dengan panjang sekitaran enam meter dan lebar 2.5 m.

Mapi sering dipakai untuk keperluan ‘perahu kargo’ mengangkut barang-barang seperti sagu, minyak, dan lainnya. Jalannya pelan sekali,” jelas Istiarto.

Bapak Uskup Keuskupan Agats Mgr. Aloysius Murwito pakai topi sebelah kiri tengah mengurusi bagasi di Bandara Ewer selepas pesawat ‘capung’ jenis Pilatus mendarat. Tampak Albertus Istiarto di tengah. (Mathias Hariyadi)

Terbang dengan pesawat capung kecil dari Sentani ke Ewer

Waktu itu, kata dosen Unika Soegijapranata Semarang ini, satu-satunya akses penting dan paling “enak dilalui” agar bisa “masuk” ke wilayah Agats-Asmat adalah melalui transportasi udara.

“Terbang dari Sentani di Jayapura selama dua jam perjalanan dan mendarat di bandara ‘ala kadarnya’ di wilayah hutan yang disebut Ewer.

Barulah dari Ewer, masih harus naik speedboat lagi selama 30 menit menuju ‘pusat kota’ Agats,” terang Istiarto yang telah menulis sejumlah buku penting tentang Agats-Asmat.

Pesawat capung ultra-light jenis Pilatus baru saja mendarat di bandara ala kadarnya di wilayah hutan Ewer, Agats-Asmat, Papua Selatan. (Mathias Hariyadi)
Pesawat AMA mendarat di Bandara Ewer Agats difoto dari udara dan kondisi riil di lapangan. Foto dibuat di bulan Juni 2013. (Mathias Hariyadi)

Akses lain tetap bisa dijangkau. Dengan kapal laut. Dari Sorong atau dari Merauke.

“Namun lama perjalanannya. Bisa sehari semalam. Dan itu pun juga sangat jarang. Masih ada kapal-kapal kecil dari Tual di Maluku Tenggara,” papar Istiarto menjawab Titch TV di aula terbuka Biara Susteran St. Fransiskus Assisi di Gedangan, Semarang, di sela-sela Trihari Suci 2023 lalu.

Membaca situasi air pasang-surut laut dan sungai

Yang terpenting saat melakukan perjalanan di Agats-Asmat, demikian menurut pengalaman Istiarto, adalah jeli dan cermat “membaca” situasi. Tidak lain adalah mengetahui secara pasti detil laporan kondisi air luat saat mengalami pasang-surut.

“Pasang-surutnya air laut sangat berimbas pada kondisi aliran sungai sehingga sungai itu bisa kita lalui apa tidaknya. Orang di sana mengenal istilah meti untuk menyebut kondisi aliran sungai surut. Juga konda, ketika kondisi air tenang saat terjadi pasang,” terang Istiarto.

Bahaya mesin speedboat mati dan air surut

Salah membaca ‘tanda-tanda alam’ ini bisa berabe. Terdampar di tengah aliran sungai bisa berjam-jam lamanya.

Yang juga “membahayakan” adalah kalau tiba-tiba mesin speedboat itu mati saat masih di tengah perjalanan mengarungi aliran sungai.

Naik sampan bermotor menyusuri ‘kali potong’ ke wilayah pedalaman di Asmat. (Albertus Istiarto)

“Kami pernah mengalaminya. Saat bertolak dari Atsj menuju ‘pusat kota’ di Agats. Kami tinggalkan Atsj pukul 13.30 waktu lokal dan pada pukul 15.00 WIT mesin speedboat tiba-tiba mati,” ujar Istiarto yang waktu itu menjadi anggota Krosier Provinsi Indonesia.

Tak ada pilihan lain, kecuali mau mendayung speedboat, sembari sabat menunggu datangnya “bantuan”.

Untunglah dalam waktu tak terlalu lama, ada umat lokal datang membantu mendayungkan speedboat.

Ilustrasi: Speedboat berbahan baku fiber di dermaga Asmat, Keuskupan Agats, Papua. (Mathias Hariyadi)

“Kami menempuh jalur singkat melalui Kali Potong. Dengan tenaga manusia, kami dayung speedboat di aliran sungai yang tengah pasang.

Dalam kegelapan total -selain cahaya bintang- masyarakat lokal Asmat mampu membaca arah jalur speedboat sehingga perjalanan jauh dayung speedboat itu akhirnya bisa sampai ke Agats,” jelas Istiarto.

Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dinihari, ketika rombongan dengan speedboat mogok itu berhasil tiba “berlabuh” kembali di dermaga Agats.

“Kami sungguh sangat kecapaian saat itu,” kata Istiarto, menambahkan bahwa di sungai-sungai nan super lebar itu masih banyak dihuni buaya-buaya muara yang ukurannya sangat besar.

Sebuah buaya berukuran sangat besar -kurang lebih tujuh meter- pernah ditemukan di Sawaerma atau Yaosakor.

Kini, ‘jasad” buaya jumbo ini disimpan di Museum Budaya Agats milik Keuskupan Agats-Asmat. (Berlanjut)

3 COMMENTS

  1. bagus sekaki bung Haryad…ambil tema yang jarang orang tahu dan inguin tahu. kisah kisah di misiioner. nusantara banyakdi luar negri tak kurang missionaris indonesuanya. proficiatsemoga makin majusukses

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here