Alur Pikir Pesan Paus Fransiskus di Hari Komunikasi Sedunia ke-51 Tahun 2017

1
1,053 views
Bad news are good news (ist)

BANYAK pembaca merespon baik atas rilis pesan Bapa Suci Paus Fransiskus menyambut Hari Komunikasi Sedunia ke-51 Tahun 2017. Namun, sejumlah orang juga mengaku ‘sulit’ memahami persis inti pesan Sri Paus tersebut.

Baca juga:  Pesan Paus Fransiskus di Hari Komunikasi Sedunia ke-51 Tahun 2017

Berikut ini kami mencoba paparkan alur pikir Sri Paus. Ini murni merupakan pendapat pribadi penulis.

Tampaknya Paus memakai alur pikir sebagai berikut: paparan data, refleksi sosial, refleksi biblis, refleksi teologis tentang sejarah keselamatan, dan akhirnya memberi semacam kesimpulan tentang bagaimana kita semestinya bersikap dan bertindak.

Paus mengajak segenap orang untuk bijak menggunakan semua kemajuan iptek untuk membangun budaya berkomunikasi positif dengan mengutamakan kabar baik daripada kabar buruk dan apalagi kabar bohong. (Ist)

Paparan data

  • Kemajuan iptek, utamanya bidang teknologi komunikasi, telah menjadikan semua orang mampu ‘memproduksi’ kabar, berita, informasi.
  • Otak atau pikiran manusia bekerja layaknya seperti mesin batu kilangan yakni ‘menggiling’ semua informasi yang masuk ke dalam benak atau pikiran orang.
  • Tergantung kita sendiri bahan (informasi) apa yang akan kita ‘giling’ (baca: serap) dan kemudian hasilnya kita sebarkan (diseminasi informasi).
  • Hasil olah pikir dalam penyerapan informasi itu bisa berupa kabar baik, kabar buruk, dan juga kabar bohong (hoax).
  • Jadi, nurani atau hati nurani setiap oranglah yang akhirnya akan memberi warna akan informasi apa yang ingin kita ‘produksi’ dari olah pikiran kita dan kemudian kita bagikan dan sebarkan ke orang lain melalui medsos, media massa, atau blog pribadi.
  • Semua itu menjadi mungkin, karena peradaban iptek di bidang komunikasi yang semakin memudahkan orang bisa ‘melahirkan’ informasi, berita baik, kabar bagus, dan tentu saja juga ternasuk kabar bohong (hoax).
Setiap orang kini bisa menjadi ‘wartawan’ berkat tersedianya aneka gadget modern untuk penyebaran informasi secara cepat dan gampang serta murah. (Ist)

Refleksi sosiologis

  • Kita di zaman modern ini hidup dalam suasana persebaran informasi yang sering mendatangkan kegaduhan, kesedihan, tipisnya harapan, dan kecemasan. Itu terjadi karena media massa memainkan ‘adagium’ yang berlaku di panggung bisnis informasi yakni bad news are good news.
  • Yang malah laris dan suka didengarkan, dilihat, dicermati oleh hampir kebanyakan orang melalui radio, televisi, internet, dan sekarang medsos adalah berita perang, kekacauan politik, kegaduhan di masyarakat, dan sekarang ini juga hoax.
  • Berita-berita ‘negatif’ telah sedemikan rupa dikemas sehingga malah menjadi semacam tontonan yang ‘menghibur’.
  • Itu adalah sesuatu hal yang semestinya ‘tidak demikian’. Lalu kita mesti menyikapi bagaimana?
  • Daripada menyebarkan informasi yang hanya melahirkan kecemasan, mengapa kita tidak fokus saja pada berita-berita yang mampu melahirkan adab perjumpaan antar pribadi manusia dan memotivasi antar orang untuk bisa saling percaya satu sama lain.
  • Kita diajak Paus untuk memproduksi berita-berita ‘positif’ yang membangun masyarakat.
Paus Fransiskus diajak ber-selfie. (Ist)

 Refleksi biblis berdasarkan Kitab Suci

  • Realitas itu tidak bebas ‘nilai’ karena tergantung dari perspektif mana kita melihatnya. Jadi, pikiran kita sepertinya sudah memasang ‘lensa’ dengan apa kita akan memandang realitas itu. Karena itu, peristiwa sama akan punya nilai berbeda bagi setiap orang; itu tergantung dari sudut pandang mana ia ‘memahami’ sebuah peristiwa kehidupan.
  • Yesus adalah Anak Allah yang hadir dan masuk dalam sejarah riil umat manusia: misteri Inkarnasi Ilahi dimana Yesus memang pernah eksis dalam sejarah manusia. Ia lahir dari Bunda Maria di Israel dan berkarya selama tiga tahun, mati disalib, namun kemudian bangkit dari kematian mengalahkan ‘maut’: Sejarah Keselamatan Perjanjian Baru dan Misteri Paska.
  • Paskah menjadi dasar iman kristiani.
  • Yesus itu sendiri adalah Kabar Gembira yang ‘dihadiahkan’ oleh Allah kepada umat manusia.
  • Meski Yesus sudah ‘tidak ada’ lagi dalam sejarah manusia karena telah bangkit dan naik ke surga, namun ia tetap eksis di hati setiap manusia beriman (kristiani) melalui hadirnya Roh Kudus yang menerangi hidup setiap orang beriman.
  • Hal itu telah disampaian Nabi Yesaya dengan kata-kata: “Janganlah takut, sebab Aku ini menyertaimu.” (Yes 43: 5) dan juga oleh Yesus sendiri yang mengatakan: “Aku senantiasa menyertai kamu.”
  • Refleksi orang beriman ketika menyikapi penderitaan, kematian adalah munculnya harapan kepada pertolongan Tuhan. Dari tubir putus asa, orang berpaling dari dirinya sendiri kepada kuasa Tuhan.
  • Itulah pengalaman beriman sebagaimana terjadi pada para murid ketika hidup bersama dengan Yesus hingga akhirnya memahami siapa Dia itu sebenarnya.

Teologi biblis tentang Kerajaan Allah

  • Yesus sering kali sengaja memakai perumpamaan-perumpamaan untuk menerangkan hal-hal yang barangkali susah diterima dengan mudah oleh khalayak ramai, termasuk para murid-Nya yang mayoritas hanya ‘orang-orang biasa’ karena profesi mereka adalah nelayan.
  • Iman itu ibarat benih yang ditabur di tanah dan kemudian harus ‘rela mati’ agar kemudian muncullah tunas kehidupan baru dari benih yang telah ditaburkan dan ‘rela mati’ demi kehidupan baru.
  • Mengapa Yesus suka memakai perumpamaan daripada konsep-konsep teoritis? Yesus sengaja memberi ‘ruang kebebasan’ bagi manusia untuk mencecap pesan penting di balik perumpamaan-perumpamaan itu. Adalah kebebasan manusia sendiri untuk mau menerima atau menolaknya.
  • Harapan akan Allah menjadi semakin matang oleh ‘olah diri’ manusia yang merefleksikan imannya kepada Tuhan: Teologi Harapan.
Perumpamaan tentang penabur. (Ist)

Teologi biblis akan Peristiwa Kenaikan Tuhan

  • Kerajaan Allah itu ada di dalam sejarah hidup manusia. Tergantung kita sendiri apakah iman kita mampu ‘menangkap’ kehadiran Tuhan itu dalam segala hal.
  • Roh Kudus ada menerangi hidup manusia dan menjadi ‘cahaya hati’ bagi setiap orang beriman kristiani.

Konklusi iman

  • Pengalaman iman akan kehadiran Tuhan dalam segala sesuatu dan keyakinan bahwa Roh Kudus itu selalu menjadi ‘cahaya hati’ setiap orang seharusnya menjadi modal bagi setiap orang beriman kristiani dalam berkomunikasi.
  • Adab berkomunikasi inilah yang akhirnya mampu memotivasi orang beriman dalam berkomukasi atau berproses memroduksi informasi dengan mengutamakan ‘kabar baik’ daripada ‘kabar buruk’.
  • Menjalani keseharian hidup dalam suasana harapan akan Allah itu hendaknya menjadi ‘cara bertindak’ setiap orang beriman.
  • Itulah ragam hidup yang pernah dilakoni oleh para kudus: Santo-Santa dalam sejarah panjang Gereja Universal.
  • Roh Kudus masih tetap bekerja menerangi hati dan pikiran setiap orang beriman kristiani bagaikan mercusuar di tengah kegelapan dan membuka jalan baru menuju keyakinan dan harapan senantiasa.
  • Kepercayaan ini memungkinkan kita mampu melaksanakan pekerjaan kita –dalam segala cara berkomunikasi di zaman modern ini—dengan keyakinan bahwa mungkinlah bisa mengenali dan menyoroti hadirnya ‘ kabar baik’ di setiap cerita dan pada wajah setiap orang.

 

 

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here