Anggota Legio Mariae: Kalau Sudah Mencintai, Sulit Melepaskan

0
85 views
Romo Anggoro Ratri SCJ mewawancarai anggota Legio Mariae. (Sr. Fransiska Agustine FSGM)

CIRI khas seorang anggota Legio Mariae adalah mengikuti rapat yang diadakan setiap pekan. Alur rapat harus mengikuti buku pegangan. Jalannya rapat terasa monoton. Tanpa variasi.

Suasana ini tak jarang membuat legioner menjadi malas. “Awalnya sekali dalam sebulan. Dua kali. Tiga kali. Lama-lama menghilang,” ujar Romo Anggoro Ratri SCJ. 

Pernyataan itu dikatakan pada kesempatan Sosialisasi dan Misa Pelantikan Perwira Legio Mariae Kuria Lampung – Ratu Damai Periode 2024-2027 di Rumah Retret Matow Way Hurik, Tanjungsenang, Lampung, 28 Januari 2024. Acarabertema “Buah Kesetiaan adalah Ketaatan dalam Keanekaragaman Budaya”. Dihadiri oleh 22 Presidium dari seluruh Keuskupan Tanjungkarang.

Wawancara anggota Legio Marie dengan romo pembimbing rohani. (Sr. Fransiska Agustine FSGM)

Mempersatukan orang

Menurut Romo Anggoro, dibutuhkan kesetiaan dari setiap anggota Legio. Kesetiaan itu terwujud dalam bentuk taat pada aturan bersama komunitas Legio Mariae. Ini ciri khasnya.

Berbeda dengan komunitas rohani/devosi lainnya. Jangan seperti komunitas yang lain, melanggar aturan yang ada. Bila ingin seperti komunitas devosi lainnya, ikutlah Legio Mariae dan ke komunitas devosi yang lain. Tidak apa. Yang penting, Anda berkembang dalam hidup kerohanian.

“Legio Mariae ini adalah kelompok doa. Tujuannya, mempersatukan banyak orang supaya berkembang dalam kekudusan. Butuh kesetiaan pribadi. Komunitas ini berdasarkan sifat sukarela karena motivasi rohani,” papar Romo Anggoro SCJ.

Romo Anggoro Ratri SCJ.

Langgar suara hati

Romo Anggoro meminta para legioner untuk mencintai apa yang sudah dipilih. Kalau sudah mencintai, pasti sulit melepaskan. Cinta menghasilkan kesetiaan.

Kesetiaan terwujud dalam ketaatan. Taat yang rela dan tulus itu tak mudah untuk dilaksanakan.

Dalam Buku Pegangan Legio Mariae tertulis, terkadang pula dalam melaksanakan ketaatan, kita harus melanggar suara hati, sehingga diperlukan sikap sebagai pahlawan dan martir.

Konteks melanggar suara hati ini Romo Anggoro memberi contoh: mengunjungi orang sakit. Selain mendoakan, hati kita tergerak untuk memberi bantuan dana padanya. Nah, sebagai organisasi tidak boleh. Legio Mariae melarang anggota memberi dana atau materi.

Eisabeth Novi Lestari menyampaikan selayang pandang Legio Mariae. Saat ini, kata dia, Kuria Ratu Damai Lampung memiliki enam presidium senior dan 26 presidium yunior dari 10 Paroki: Pringsewu, Sidomulyo, Bandarjaya, Pajarmataram, Metro, Kotabumi, Telukbetung, Kedaton, Tanjungkarang dan Gisting.

Keuskupan Tanjungkarang memiliki tiga Kuria: Kuria Kalirejo, Kuria Kotabumi, dan Kuria Tanjungkarang. Seiring waktu, Kuria Kalirejo sudah tidak aktif lagi. Vakum. Lalu bergabung dengan Kuria Tanjungkarang.

Kuria Lampung bergabung dengan Senatus Jakarta karena letak georgrafis yang lebih dekat ke Jakarta.

Usai sesi spiritualitas, dilanjutkan dengan Pelantikan Perwira Kuria Lampung dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Anggoro Ratri SCJ.

Misa anggota Legio Mariae bersama romo pembimbing di Lampung. (Sr. Fransisk a Agustine FSGM)
Para anggota Legio Marie Lampung mengucapkan janji setia kepada organisasi. (Sr. Fransiska Agustine FSGM)

Susunan Perwira Dewan Kuria Lampung 2024-2027

  • Pemimpin Rohani: Romo Anggoro Ratri SCJ.
  • Ass. Pemimpin Rohani: Sr. Anastasia FSGM.
  • Ketua: Yohanes Suharyono.
  • Wakil Ketua: Susan Imelda.
  • Sekretaris 1: Vincentia Yolanda Christantya.
  • Sekretaris 2: Dewi Ardhani.
  • Bendahara 1: Valentinus Kasan.
  • Bendahara 2: Valeria Susiriyani.
  • Koresponde : Helen Mulia Wijaya.

Moderator 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here