Antonius, Si “Tabut Perjanjian”

0
47 views

Puncta 13 Juni2024
PW. St. Antonius Padua, Imam dan Pujangga Gereja
Matius 5: 20-26

PADA awalnya, Antonius adalah anggota Konggregasi Regular St. Augustinus di Coimbra, Portugal. Tetapi suatu peristiwa mengubah hidupnya.

Ketika relikwi St. Bernardus, martir Ordo Fransiskan dipindah dari Afrika ke Coimbra, Antonius tersentuh oleh panggilan ilahi untuk menjadi Fransiskan; mengikuti teladan para martir di sana.

Akhirnya Antonius diterima sebagai anggota Ordo Fransiskan. Sudah dikirim bermisi ke Afrika, tetapi kesehatannya tidak mendukung. Dalam keadaan sakit, ia dikirim ke Asissi, tempat karya Fransiskus. Oleh pemimpinnya, ia dikirim ke biara kecil di Forli.

Dari biara kecil tersembunyi inilah kilau permata kecerdasan Antonius memancar. Ternyata dia pandai berkotbah.

Kata-katanya menarik banyak orang untuk bertobat kembali ke Gereja. Kotbahnya sangat menyentuh dan menarik. Mukjizat pertobatan banyak terjadi berkat kotbah Antonius.

Kotbah-kotbahnya didasari dengan hidup doa dan matiraga yang kuat. Apa yang diajarkan sangat bernas dan mudah diterima. Hidupnya dihabiskan untuk pelayanan bagi orang-orang yang ingin kembali kepada Tuhan.

Dalam usia yang masih sangat muda, 36 tahun, Antonius menggunakan hidupnya dengan penuh dedikasi demi menyelamatkan jiwa-jiwa yang tersesat, agar mereka menemukan Tuhan.

Yesus berkata, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan para Ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.”

Antonius berusaha keras agar apa yang diajarkan atau dikotbahkan sungguh-sungguh dihayati dalam hidup nyata. Tidak seperti para Ahli Taurat dan kaum Farisi yang pandai mengajar, tetapi tidak mau melakukannya.

Kendati dia dihormati sebagai pengkotbah ulung, tetapi di biaranya Antonius dengan senang melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil di dapur untuk melayani Saudara-saudaranya.

Walaupun dia menjabat sebagai Minister Provincial di Italia, tetapi dengan sukacita dia melayani orang-orang miskin.

Kotbahnya selalu menyejukkan, membawa damai dan menyadarkan orang pada pertobatan. Ia tidak mengumbar kata-kata kasar penuh kebencian, tetapi warta sukacita dan kelembutan.

Tidak ada kata-kata; “Kafir atau Jahil” yang bernada kemarahan. Tetapi kotbahnya selalu membawa damai dan ketenteraman hati. Paus Gregorius IX menggelarinya Si “Tabut Perjanjian”.

Maunya mengkoleksi sepatu Bata,
Ternyata tokonya sudah tutup semua.
Kata-kata adalah harapan dan doa,
Bisa terjadi seperti yang diucapkannya.

Cawas, kata baik akan terjadi hal baik
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here