Artikel Kesehatan: Bantuan Vaksin Covid-19

0
118 views
Covax vaksin (The Conversation)

PADA hari Jumat, 22 Januari 2021, COVAX mengumumkan pembayaran uang muka hingga 40 juta dosis vaksin Pfizer-BioNTech, untuk dibagikan ke berbagai negara.

Apa yang menarik?

Pemerintah Indonesia masih mengupayakan mendapatkan semaksimal mungkin bantuan vaksin COVID-19 gratis dari COVAX, agar dapat mengurangi kontrak vaksin yang berbayar.

Pada Rabu, 13 Januari 2021, COVAX telah menjanjikan 54 juta dosis dan ada kemungkinan menaikkan menjadi 108 juta dosis, sehingga total vaksin yang kontrak beli adalah 666 juta dosis.

COVAX adalah inisiatif global untuk memastikan akses yang cepat dan adil ke vaksin COVID-19 untuk semua negara, tidak tergantung pada tingkat pendapatan. Dalam mempercepat ketersediaan vaksin di semua negara berpenghasilan rendah dan membantu mengakhiri tahap akut pandemi COVID-19 dengan cepat, COVAX juga menggunakan opsi lainnya.

Yaitu, melibatkan Serum Institute of India (SII), untuk memproduksi 100 juta dosis vaksin buatan AstraZeneca Oxford University.

COVAX berada di jalur yang tepat untuk memberikan setidaknya 2 miliar dosis vaksin COVID-19 pada akhir tahun 2021, termasuk setidaknya 1,3 miliar dosis ke 92 negara berpenghasilan rendah dalam program bantuan oleh Gavi COVAX AMC.

Dari 100 juta dosis pertama vaksin, sebagian besar dialokasikan untuk pengiriman pada kuartal pertama tahun 2021 ini, sambil menunggu Daftar Penggunaan Darurat (Emergency Use Listing) WHO. Proses persetujuan WHO ini untuk penggunaan terbatas dengan memastikan bahwa setiap vaksin yang diperoleh melalui COVAX, aspek kualitas dijamin sepenuhnya.

Ini tidak hanya signifikan untuk COVAX, ini adalah langkah maju yang besar untuk akses yang adil ke vaksin, dan bagian penting dari upaya global untuk mengalahkan pandemi CVID-19 ini.

Dengan semboyan kita hanya akan aman, jika kita telah aman di mana pun (we will only be safe anywhere if we are safe everywhere), COVAX mengirimkan vaksin ke berbagai negara yang memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan vaksin melalui skema COVAX AMC.

Program ini mendapat dukungan Gavi yang menyediakan dana US$ 150 juta untuk kesiapsiagaan dan pengiriman vaksin.

“Peluncuran vaksin yang mendesak dan adil bukan hanya keharusan moral, tetapi juga keharusan strategis dan ekonomi, demi terwujudnya keamanan kesehatan,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (Dirjen WHO).

Perjanjian dengan Pfizer ini akan memungkinkan COVAX menyelamatkan nyawa, menstabilkan sistem kesehatan, dan mendorong pemulihan ekonomi global. Untuk itu, setiap  negara pada bulan Februari 2021 ini diharapkan menyerahkan rencana vaksinasi nasional atau National Deployment and Vaccination Plans (NDVP).

Ini adalah langkah penting sebelum alokasi vaksin dapat dibuat, untuk memastikan bahwa vaksin yang diberikan dapat digunakan secara efektif dan juga untuk mengidentifikasi di sektor mana, jika perlu, dukungan lebih lanjut diperlukan.

Fasilitas COVAX ditujukan untuk menyediakan alokasi vaksin COVID-19 ke 190 negara, termasuk Indonesia. Setiap negera berkewajiban menyusun perencanaan kebutuhan minimum, sehingga memungkinkan alokasi vaksin COVID-19 dalam jumlah yang sesuai untuk putaran pertama distribusi vaksin.

Negosiasi terus berlangsung untuk mendapatkan dosis lebih lanjut yang akan diamankan oleh COVAX bersama Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi atau The Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI).

COVAX menargetkan akan memberikan vaksin COVID-19 yang aman, efektif, ekonomis, dan cukup untuk melindungi tenaga kesehatan dan pekerja garis depan lainnya pada tahap pertama, serta beberapa individu berisiko tinggi yang dimulai pada kuartal pertama tahun 2021.

Tujuannya adalah untuk melindungi setidaknya 20% populasi sampai pada akhir tahun 2021. Setidaknya 1,3 miliar dosis vaksin COVID-19 akan tersedia untuk 92 negara yang memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan dari Gavi COVAX AMC pada akhir tahun 2021.

Untuk mengamankan dua miliar vaksin yang aman dan efektif pada tahun 2021, COVAX memiliki beragam portofolio kandidat vaksin yang mengurangi risiko kegagalan dalam pengembangan, produksi, dan regulasi. Selain itu, juga memastikan ketersediaan produk yang sesuai untuk berbagai wilayah dengan keterbatasan sarana dan prasarana.

Kemajuan dalam pengembangan vaksin sejauh ini luar biasa, tetapi kecepatan pandemi ini terus mendatangkan malapetaka. Munculnya varian baru COVID-19 menempatkan fokus yang tajam pada kebutuhan untuk terus berinvestasi dalam pengembangan vaksin, khususnya untuk kandidat vaksin generasi mendatang, terkait perubahan strain yang sudah ada.

COVAX mengkoordinasikan CEPI, Gavi dan WHO, untuk bekerja dalam kemitraan dengan produsen vaksin negara maju dan berkembang, UNICEF, Bank Dunia, dan lainnya.

CEPI adalah kemitraan inovatif antara publik, swasta, filantropi, dan organisasi sipil, diluncurkan di Davos pada tahun 2017.

CEPI berwenang memimpin penelitian dan pengembangan vaksin COVID-19. Bahkan mendapatkan hak menyediakan lebih dari satu miliar dosis, melakukan investasi strategis dalam pembuatan vaksin, dan   memproduksi dosis tambahan, termasuk mengamankan botol kaca untuk menampung 2 miliar dosis vaksin.

CEPI juga berinvestasi dalam calon vaksin ‘generasi berikutnya’, yang akan memberi dunia opsi tambahan untuk mengendalikan COVID-19 di masa depan. Sebelum munculnya COVID-19, penyakit prioritas CEPI antara lain virus Ebola, virus Lassa, MERS-CoV, virus Nipah, Demam Lembah Rift, dan virus Chikungunya.

CEPI juga berinvestasi dalam teknologi platform yang dapat digunakan untuk vaksin cepat dan pengembangan imunoprofilaksis melawan patogen yang tidak diketahui (Penyakit X).

Gavi (the Vaccine Alliance) adalah kemitraan publik-swasta yang membantu memvaksinasi separuh anak global dari beberapa penyakit paling mematikan di dunia. Sejak didirikan pada tahun 2000, Gavi telah membantu mengimunisasi lebih dari 822 juta anak, mencegah lebih dari 14 juta kematian, dan membantu mengurangi separuh kematian anak di 73 negara berpenghasilan rendah.

Gavi juga memainkan peran kunci dalam meningkatkan keamanan kesehatan global, dengan mendukung sistem kesehatan serta mendanai vaksin Ebola, kolera, meningitis, dan demam kuning. Setelah kemajuan selama dua dekade, Gavi sekarang berfokus untuk melindungi generasi berikutnya dan menjangkau anak yang belum divaksinasi dan masih tertinggal, menggunakan sumber keuangan inovatif dan teknologi terbaru, untuk menyelamatkan jutaan nyawa, mencegah wabah sebelum menyebar, dan membantu banyak negara menuju swasembada vaksin.

Sudahkah kita bijak mengupayakan dan menggunakan vaksin COVID-19 buatan Pfizer dan BioNTech yang diperoleh sebagai bantuan dari COVAX?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here