Artikel Kesehatan: Bebas Cacar

0
96 views
Cacar

PADA Jumat, 13 Desember 2019 diperingati 40 tahun pemberantasan penyakit cacar (smallpox atau variola) secara global. Tonggak yang bersejarah ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk berinvestasi dalam kesehatan global.

Apa yang perlu diketahui?

Variola atau cacar adalah penyakit menular pada manusia yang disebabkan oleh virus Variola major atau Variola minor.

Penyakit ini dikenal dengan nama Latinnya, Variola atau Variola vera, yang berasal dari kata Latin varius, yang berarti “berbintik”, atau varus yang artinya “jerawat”.

Variola muncul pada pembuluh darah kecil di kulit serta di mulut dan kerongkongan.

Di kulit, penyakit ini menyebabkan ruam, dan kemudian luka berisi cairan.

  • V. major menyebabkan penyakit yang lebih serius dengan tingkat kematian 30–35%.
  • V. minor menyebabkan penyakit yang lebih ringan (dikenal juga dengan alastrim, cottonpox, milkpox, whitepox, dan Cuban itch) yang menyebabkan kematian pada 1% penderitanya.

Akibat jangka panjang infeksi V. major adalah bekas luka, umumnya di wajah, yang terjadi pada 65–85% penderita.

Variola hampir mirip cacar air atau varisela atau chicken pox, tetapi kelainan kulit vesikelnya jauh lebih banyak, berisi tidak hanya cairan tapi juga nanah dan darah. Penularannya melalui kontak langsung ataupun tak langsung tapi infeksi primernya selalu melalui jalan nafas.

Virus terdapat di udara, berasal dari debu pakaian, tempat tidur, dari keropeng yang jatuh ditanah ataupun dari jalan nafas penderita, terhirup bersama udara pernafasan sehingga terjadi penularan.

Cacar adalah penyakit yang sangat menular.

Masa inkubasi dan jelas gejala pertama dari penyakit ini sekitar 12 hari. Setelah terhirup, virus variola besar menyerang orofaringeal (mulut dan tenggorokan) atau mukosa pernapasan, berpindah ke kelenjar getah bening regional, dan mulai berkembang biak.

Pada tahap awal pertumbuhan virus tampaknya berpindah dari sel ke sel, tetapi sekitar 12 hari, lisis sel yang terinfeksi banyak terjadi dan virus ditemukan dalam aliran darah dalam jumlah besar (ini disebut viremia), dan tahap kedua terjadi di limpa, sumsum tulang, dan kelenjar getah bening.

Gejala penyakit pada stadium invasi selama 3-4 hari adalah suhu tubuh naik tinggi, bahkan dapat mencapai 40oC, nyeri kepala, nyeri tulang, sedih dan gelisah, lemas dan muntah.

Pada stadium erupsi akan terjadi suhu tubuh kembali nomal, tetapi timbul makula eritematosa dengan cepat akan berubah menjadi papula terutama dimuka dan telapak tangan dan kaki.

Pada stadium supurasi dalam waktu 5–10 hari timbul vesikula yang cepat berubah menjadi pustule. Pada saat ini suhu tubuh akan meningkat dan lesi-lesinya akan mengalami umblikasi.

Kemudian pada stadium resolusi yang berlangsung dalam dua pekan, suhu tubuh mulai menurun, pustule mengering menjadi krusta yang akan mengelupas, meninggalkan bekas sebagai sikatriks atrofi, dan akhirnya menyembuh.

Pada anak, kadang disertai kejang dan kesadaran yang menurun saat demam tinggi. Hal yang terpenting adalah menjaga gelembung cairan tidak pecah, agar tidak meninggalkan bekas dan menjadi jalan masuk bagi kuman lain (infeksi sekunder).

Obat yang diberikan pada penderita penyakit cacar ditujukan untuk mengurangi keluhan gejala yang ada seperti nyeri dan demam, misalnya diberikan paracetamol.

Pemberian Acyclovir tablet (desciclovir, famciclovir, valacyclovir, dan penciclovir) sebagai antiviral bertujuan untuk mengurangi demam, nyeri, komplikasi serta melindungi seseorang dari ketidakmampuan daya tahan tubuh melawan virus.

Tidak ada pengobatan spesifik untuk penyakit ini, dan hanya imunisasi di seluruh dunia yang mampu menghentikan penyebaran cacar.

Program Pemerintah Indonesia pada tahun 1956 sampai dekade tahun 1970-an adalah memberikan vaksin cacar secara nasional.

Sampai musnah, cacar telah merongrong kemanusiaan selama setidaknya 3.000 tahun, menewaskan 300 juta orang secara global, hanya di abad ke-20 saja.

Kasus cacar endemik terakhir yang diketahui telah dilaporkan terjadi di Somalia pada tahun 1977 dan pada 9 Desember 1979 merupakan momen bersejarah, ketika cacar terakhir dipastikan telah diberantas.

Lima bulan kemudian, pada Mei 1980, Majelis Kesehatan Dunia ke-33 mengeluarkan deklarasi resminya bahwa ‘dunia dan semua rakyatnya telah menang dan bebas dari cacar (freedom from smallpox).

Hingga saat ini virus penyebab cacar masih disimpan di 2 negara, yaitu Amerika Serikat dan Rusia, hal ini masih menjadi perdebatan apakah virus itu tetap akan disimpan atau dimusnahkan.

Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, “Hari ini cacar adalah satu-satunya penyakit pada manusia yang pernah diberantas, merupakan kesaksian tentang apa yang dapat kita capai, ketika semua negara bekerja sama.”

Momentum peringakatan 40 tahun keberhasilan bebas cacar tahun 2019 ini, juga mengingatkan kita akan semua jasa para pahlawan kesehatan di seluruh dunia, yang telah bekerjasama untuk memerangi cacar dengan imunisasi, dan menciptakan generasi masa depan yang lebih aman.

Sudahkah kita mendukung program imunisasi?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here