Artikel Kesehatan: Dexamethason untuk Covid-19

0
118 views
Obat Dextametason untuk pasien covid-19 by ist

HARI Selasa, 16 Juni 2020 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyambut baik hasil uji klinis awal dari Inggris yang menunjukkan obat dexamethason dapat menyelamatkan nyawa pasien yang sakit kritis dengan COVID-19.

Apa yang menarik?

“Dexamethasone adalah pengobatan pertama yang menunjukkan manfaat untuk mengurangi angka kematian pada pasien dengan COVID-19 yang membutuhkan dukungan oksigen atau ventilator,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

Dexamethasone pertama kali dibuat pada 1957 dan telah digunakan di Inggris pada awal 1960-an. Karena obat ini sudah lama ada, maka tidak ada lagi hak patennya.

Dexamethasone adalah salah satu jenis steroid, yaitu obat untuk mengurangi peradangan dengan meniru hormon anti-inflamasi yang diproduksi oleh tubuh.

Dexamethasone ini bekerja untuk meredam sistem imun tubuh. Infeksi virus corona memicu inflamasi, saat tubuh mencoba melawan virus.

Inflamasi adalah peradangan efek dari mekanisme tubuh dalam melindungi diri dari infeksi mikroorganisme asing, seperti virus, bakteri, dan jamur.

Namun, terkadang sistem imun bekerja berlebihan dan reaksi dapat berbahaya, karena reaksi yang semestinya dirancang untuk menyerang infeksi, pada berakhirnya juga menyerang sel-sel tubuh, sebagaimana diduga terjadi pada pasien Covid-19.

Penelitian yang berjudul ‘Dexamethasone reduces death in hospitalised patients with severe respiratory complications of Covid-19’ sangat menarik dicermati. Pada awal bulan Maret 2020 mulai dilakukan RECOVERY (Randomised Evaluation of COVid-19 thERapY) sebagai uji klinis acak dalam menguji berbagai modalitas terapi potensial untuk Covid-19, termasuk dexamethason dosis rendah.

Lebih dari 11.500 pasien telah terdaftar di lebih dari 175 rumah sakit dalam jaringan National Health Service (NHS), yaitu program layanan kesehatan masyarakat di Inggris Raya.

Pada hari Senin, 8 Juni 2020 mulai dilakukan analisis dari sebanyak 2.104 pasien, yang telah diacak untuk menerima dexamethason 6 mg sekali sehari (baik ditelan melalui mulut atau injeksi intravena) selama sepuluh hari, dibandingkan dengan 4.321 pasien yang diacak untuk pengobatan biasa.

Dexamethasone adalah obat murah dengan biaya obat ini senilai £ 5.40 (setara Rp. 93.000) untuk satu pasien per hari. Pengobatan dilakukan setidaknya selama 10 hari.

Di antara pasien yang menerima pengobatan biasa, mortalitas hari ke 28 tertinggi pada pasien yang membutuhkan ventilasi (41%), mortalitas sedang pada pasien yang hanya membutuhkan oksigen (25%), dan mortalitas terendah pada pasen yang tidak memerlukan intervensi pada jalan napas ( 13%).

Dexamethason mengurangi kematian sepertiga pada pasien yang menggunakan ventilator (rasio rerata 0,65 [IK 95% 0,48-0,88]; p = 0,0003) dan seperlima pada pasien lain yang hanya menerima oksigen (0,80 [0,67 hingga 0,96]; p = 0,0021).

Namun demikian, tidak ada manfaat pada pasien yang tidak memerlukan dukungan pernapasan (1,22 [0,86-1,75; p = 0,14).

Berdasarkan hasil uji klinis ini, 1 kematian akan dapat dicegah dengan pengobatan pada sekitar 8 pasien yang menggunakan ventilator atau sekitar 25 pasien yang hanya membutuhkan oksigen saja.

Peter Horby, Professor of Emerging Infectious Diseases in the Nuffield Department of Medicine, University of Oxford yang terletak sekitar 90 km dari London, dan salah satu peneliti mengatakan, ‘dexamethasone adalah obat pertama yang terbukti meningkatkan ketahanan hidup pasien Covid-19, sehingga dexamethason sekarang harus masuk dalam standar pengobatan pada pasien COVID-19 derajad berat.

Martin Landray, Professor of Medicine and Epidemiology at the Nuffield Department of Population Health, University of Oxford dan salah satu penelitia utama lainnya mengatakan, ‘hasil pendahuluan dari uji RECOVERY ini sangat jelas, bahwa dexamethason mengurangi risiko kematian pada pasien COVID-19 dengan komplikasi pernapasan yang parah.

Sangat luar biasa bahwa pengobatan pertama yang terbukti mampu mengurangi angka kematian pasien adalah salah satu obat yang tersedia secara luas dan terjangkau di seluruh dunia.’

Bahkan Sir Patrick Vallance, The UK Government’s Chief Scientific Adviser, telah menegasakan bahwa ‘ini adalah berita luar biasa karena dexamethason ini adalah obat murah yang tersedia secara luas berdasarkan uji klinis berkualitas tinggi.’

Badan POM RI pada hari Jumat, 19 Juni 2020 menegaskan bahwa sampai saat ini belum terdapat obat yang spesifik untuk Covid-19, walaupun beberapa obat telah dipergunakan untuk penanganan Covid-19 sebagai obat uji.

Hasil penelitian di Universitas Oxford Inggris telah menunjukkan penurunan kematian, tetapi hanya pada kasus pasien Covid-19 yang berat yang menggunakan ventilator (alat bantu pernapasan), atau memerlukan bantuan oksigen.

Obat ini tidak bermanfaat untuk kasus Covid-19 ringan dan sedang yang tidak dirawat di rumah sakit.

Dexamethason adalah obat keras, yang pembeliannya harus dengan resep dokter dan penggunaannya di bawah pengawasan dokter.

Dexamethason tidak dapat digunakan untuk pencegahan Covid-19 dan dexamethason yang digunakan tanpa indikasi medis dan tanpa resep dokter, apalagi yang digunakan dalam jangka waktu panjang, dapat mengakibatkan efek samping menurunkan daya tahan tubuh, meningkatkan tekanan darah, diabetes, ‘moon face’ dan ‘masking effect’, serta efek samping lainnya yang berbahaya.

Oleh sebab itu, masyarakat agar tidak membeli obat dexamethason dan steroid lainnya secara bebas tanpa resep dokter, termasuk membeli melalui platform online.

Untuk penjualan obat dexamethason dan steroid lainnya, termasuk melalui online tanpa ada resep dokter, dapat dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Sudahkah kita bijak menggunakan dexamethason pada saat pandemi Covid-19 ini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here