Artikel Kesehatan: Gangguan Mental dalam Perjalanan

0
115 views
Terminal domestik Bandara Internasional Chiang Mai, Thailand (Mathias Hariyadi)

GUIDELINE Development Group (GDG) mengusulkan untuk revisi ‘International Travel Health’ terbitan WHO, termasuk pengelolaan gangguan mental. Panduan kesehatan perjalanan terbaru berbasis bukti, diterbitkan untuk para profesional medis, pelancong internasional dan negara anggota WHO.

Apa yang perlu diketahui?

Perjalanan wisata, apalagi berskala internasional, seringkali merupakan pengalaman yang menegangkan. Pelancong mengalami pemisahan dari keluarga besar dan sistem dukungan sosial yang sudah dikenal akrab, dan harus berurusan dengan budaya dan bahasa asing.

Selain itu, juga mengalami tantangan dan ancaman yang kadang membingungkan, dalam aspek kesehatan, kenyamanan, dan keselamatan.

Dalam upaya mengatasi tingkat stres yang tinggi, dapat saja memicu masalah fisik, sosial, dan psikologis pada pelancong. Mereka yang menghadapi rentang faktor stres yang lebih besar, mungkin berisiko lebih besar juga untuk memiliki masalah psikologis. Di bawah tekanan perjalanan, gangguan mental yang sudah ada sebelumnya, dapat juga menjadi diperburuk.

Lebih jauh lagi, bagi orang dengan kecenderungan memiliki gangguan mental, gangguan semacam itu mungkin muncul untuk pertama kalinya selama perjalanan, termasuk pada anak dan remaja.

Dokter yang merawat pelancong di negara asal mereka atau di luar negeri harus menyadari adanya perbedaan, baik di dalam maupun antar negara, dalam ketersediaan sumber daya kesehatan mental.

Dalam hal ini mencakup fasilitas kesehatan darurat, petugas kesehatan profesional, tempat tidur dan fasilitas pemeriksaan penunjang medis, dan bahkan obat. Dokter spesialis yang kompeten dan staf pendukung mungkin jarang atau tidak ada di darah wisata, dan mereka mungkin tidak mengerti bahasa asli pelancong, sehingga penerjemah yang fasih mungkin diperlukan.

Selain itu, aspek hukum praktik dokter juga perlu dicermati, karena dapat sangat berbeda. Undang-undang di suatu negara yang mengatur penggunaan obat dan zat terlarang sangat bervariasi dan hukuman bagi pengedar dan pengguna, di beberapa negara mungkin cukup lemah.

Sebagai akibat dari perbedaan dalam infrastruktur kesehatan dan sistem hukum untuk perawatan kesehatan mental ini, keputusan klinis pertama yang mungkin harus diambil oleh dokter pemeriksa adalah, apakah perawatan mental pelancong dapat dikelola di tujuan perjalanan wisata, memerlukan rujukan ke kota yang lebih besar, atau repatriasi ke negara asalnya.

Gangguan mental tidak jarang terjadi pada pelancong, termasuk pada anak dan remaja. Secara keseluruhan, masalah kesehatan mental merupakan salah satu penyebab utama derajad kesehatan yang buruk di antara para pelancong, dan “kondisi darurat psikiatrik” adalah salah satu alasan medis paling umum untuk dilakukannya evakuasi udara, setara dengan alasan cedera dan penyakit kardiovaskular.

Meskipun beberapa peristiwa yang menyebabkan stres psikososial tidak dapat diprediksi, namun beberapa tindakan pencegahan dapat mengurangi terjadinya stres, terkait perjalanan.

Oleh sebab itu, pelancong harus mengumpulkan informasi yang tepat sebelum bepergian, misalnya tentang perjalanan yang akan ditempuh, moda transportasi, lama perjalanan, karakteristik tujuan, dan kesulitan yang mungkin ditemukan.

Hal ini akan memungkinkan para pelancong untuk mempertahankan kepercayaan diri dan untuk mengatasi banyak hal yang asing.

Cara ini juga memungkinkan mereka untuk mengembangkan strategi dalam meminimalkan risiko. Mengumpulkan banyak informasi sebelum bepergian, terbukti membantu mengurangi risiko pelancong menderita gangguan psikologis atau memperparah gangguan mental yang sudah ada sebelumnya.

Gangguan neuropsikiatri, misalnya kejang, psikosis dan ensefalopati, terjadi pada sekitar 1 dari 10.000 pelancong yang menerima obat profilaksis mefloquine untuk mencegah malaria. Pasien dengan riwayat gangguan neuropsikiatri, termasuk depresi, gangguan kecemasan umum, atau gangguan psikotik atau kejang, harus diresepkan rejimen obat lain, sebagai alternatif pencegahan malaria.

Pelancong yang mengalami stres dan kegelisahan, terutama yang berkaitan dengan perjalanan udara, harus dibantu untuk mengembangkan mekanisme koping. Pelancong yang takut terbang, dapat juga dirujuk ke kursus khusus yang disediakan oleh maskapai penerbangan.

Mengingat konsekuensi potensial dari keadaan darurat psikiatris yang timbul saat bepergian ke luar negeri, pendataan tentang riwayat atau perawatan psikiatris yang pernah dialami, harus menjadi bagian standar dari setiap konsultasi sebelum berangkat melancong (pra-perjalanan).

Pelancong dengan riwayat gangguan mental yang signifikan, harus menerima saran dalam aspek medis dan psikologis secara khusus. Selain itu, pelancong yang menggunakan obat psikotropika harus melanjutkan pengobatan tersebut saat bepergian.

Di beberapa negara tertentu membawa obat psikotropika, misalnya benzodiazepin, tanpa bukti resep dokter, akan dianggap merupakan pelanggaran pidana. Oleh karena itu, sangat disarankan agar pelancong membawa surat keterangan dokter, yang menyatakan perlunya obat atau alat medis lainnya, atau keduanya.

Selain itu, juga dokumen tentang kondisi klinis dan rincian tentang perawatan, seperti salinan resep obat. Semua dokumen ini harus disusun rapi dalam bahasa yang dipahami petugas di negara tujuan perjalanan.

Pelancong yang akan berada di luar negeri untuk waktu yang relatif lama, misalnya ekspatriat atau pelancong bisnis, dapat diajari teknik pemantauan mandiri dan strategi pengurangan stres, sebelum keberangkatan atau selama mereka tinggal di sana. Jika pelancong diduga terlibat dalam penyalahgunaan narkoba, terdapat variasi besar dalam status hukum penyalahgunaan narkoba di berbagai negara.

Jika tindakan pencegahan yang tepat diambil, kebanyakan orang yang terkena gangguan mental dengan kondisi stabil dan berada di bawah pengawasan seorang dokter spesialis kesehatan jiwa atau psikiater, ‘International Travel Health’ terbitan WHO merekomendasikan dapat melakukan perjalanan wisata, bahkan sampai ke luar negeri (are able to travel abroad).

Apakah kita sudah bijak?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here