Artikel Kesehatan: Iklim Buruk bagi Anak

0
80 views
Ilustrasi: Anak-anak terkena imbas dampak kebakaran lahan hutan dan perkebunan sehingga terkena penyakit ispa. (Greenpeace Indonesia)

KERJASAMA Lancet-WHO-UNICEF pada hari Rabu, 19 Februari 2020 mengeluarkan laporan yang menyatakan berikut ini. Yakni, bahwa dunia telah gagal memberi kepada anak akan kehidupan yang sehat dan iklim yang sesuai untuk masa depan mereka.

Mengapa demikian?

Laporan yang berjudul A Future for the World Children? Menulis bahwa kesehatan dan masa depan setiap anak dan remaja di seluruh dunia, berada di bawah ancaman langsung dari degradasi ekologis dan perubahan iklim.

Selain itu, juga terdampak dari praktik pemasaran eksploitatif yang mendorong makanan cepat saji, minuman manis, alkohol dan tembakau, yang semuanya berbahaya terhadap kesehatan anak.

“Meskipun pernah ada perbaikan dalam derajad kesehatan anak dan remaja selama 20 tahun terakhir, tetapi kemajuan tersebut telah terhenti, dan bahkan akan berbalik,” kata mantan Perdana Menteri Selandia Baru dan Ketua Komisi Kerjasama Lancet-WHO-UNICEF, Helen Clark.

“Diperkirakan sekitar 250 juta anak balita di negara berpenghasilan rendah dan menengah, berisiko tidak mencapai potensi perkembangan mereka, karena mengalami ‘stunting’ dan kemiskinan. Namun demikian, yang lebih memprihatinkan adalah bahwa setiap anak di seluruh dunia, sekarang menghadapi ancaman nyata dari perubahan iklim dan tekanan perdagangan makanan komersial.”

Semua negara perlu merombak pendekatan mereka terhadap pembangunan bidang kesehatan anak dan remaja, untuk memastikan bahwa kita tidak hanya menjaga anak kita pada hari ini, tetapi juga melindungi dunia yang akan mereka warisi di masa depan.

Laporan A Future for the World Children? tersebut mencakup indeks global baru dari 180 negara, yang membandingkan pertumbuhan anak antar negara. Dalam hal ini meliputi ukuran kelangsungan hidup dan kesejahteraan anak, seperti derajad kesehatan, tingkat pendidikan, dan asupan nutrisi.

Selain itu, juga keberlanjutan pengendalian emisi gas rumah kaca dan ekuitas atau kesenjangan pendapatan keluarga.

Menurut laporan itu, semua negara miskin perlu berbuat lebih banyak untuk mendukung kemampuan anak di negera tersebut, agar hidup lebih sehat dan mengendalikan emisi karbon (CO2) yang berlebihan, karena mengancam masa depan semua anak.

Tahun 2018 sebanyak 55,3 gigaton CO2 global dipompa ke atmosfer, meningkat dibanding pada 2017 sebanyak 53,5 gigaton.

Jika pemanasan global melebihi 4 °C terus terjadi sampai pada tahun 2100 sejalan dengan proyeksi saat ini, kondisi ini akan menyebabkan konsekuensi kesehatan yang menghancurkan bagi semua anak.

Hal ini disebabkan karena akan terjadi naiknya permukaan air laut, gelombang panas, peningkatan kejadian penyakit seperti malaria, demam berdarah Dengue, dan kekurangan gizi.

Indeks dalam laporan A Future for the World Children? ini menunjukkan bahwa anak di Norwegia, Republik Korea, dan Belanda memiliki peluang terbaik untuk bertahan hidup dan sejahtera, sementara anak di Republik Afrika Tengah, Chad, Somalia, Niger, dan Mali menghadapi peluang terburuk.

Namun demikian, ketika emisi CO2 per kapita diperhitungkan, Norwegia berada di peringkat 156, Republik Korea 166, dan Belanda 160. Masing-masing dari ketiga negara tersebut mengeluarkan emisi 210% lebih banyak CO2 per kapita, daripada target tahun 2030 mereka.

Amerika Serikat, Australia, dan Arab Saudi adalah di antara sepuluh penghasil emisi terburuk. Beberapa negara yang berada di jalur yang ideal untuk mengatasi target emisi per kapita CO2 pada tahun 2030, ternyata juga melakukan dengan adil, beberapa program untuk mendukung pertumbuhan anak.

Kita dapat meniru negara tersebut, yaitu Albania, Armenia, Grenada, Yordania, Moldova, Sri Lanka, Tunisia, Uruguay dan Vietnam.

Laporan A Future for the World Children? ini juga menyoroti ancaman berbeda, yang ditimbulkan dari program pemasaran masif yang berbahaya pada anak.

Pemasaran berbahaya untuk menu makanan cepat saji, telah memangsa anak secara global dan kejadian obesitas meningkat 11 kali lipat.

Bukti menunjukkan bahwa anak di beberapa negara melihat sebanyak 30.000 iklan makanan cepat saji dalam satu tahun, hanya di televisi saja. Selain itu, paparan terhadap kaum muda akan iklan vaping (rokok elektronik) meningkat lebih dari 250% di AS selama dua tahun, mencapai lebih dari 24 juta anak muda.

Paparan terhadap anak tentang pemasaran ‘junk food’ dan minuman manis, dikaitkan dengan peningkatan pembelian makanan yang tidak sehat dan kelebihan berat badan atau obesitas pada anak.

Hal ini menunjukkan hubungan pemasaran barang konsumtif sebagai predator dengan peningkatan yang mengkhawatirkan, atas obesitas pada anak.

Jumlah anak dan remaja gemuk meningkat dari 11 juta pada tahun 1975 menjadi 124 juta pada tahun 2016, atau peningkatan 11 kali lipat, dengan biaya layanan kesehatan bagi individu dan masyarakat, yang tentu saja meningkat secara mengerikan.

Untuk melindungi anak, laporan tersebut menyerukan gerakan global baru untuk kesehatan anak dan remaja. Rekomendasi spesifik meliputi beberapa hal penting.

Pertama, hentikan peningkatan emisi CO2 dengan sangat mendesak, untuk memastikan semua anak memiliki masa depan yang baik di planet ini.

Kunci utama menghentikan emisi CO2 yang menjadi penentu masa depan adalah, investasi setidaknya Rp. 22,4 triliun per tahun untuk energi terbarukan dan penggunaan energi yang lebih efisien.

Selain itu, penghapusan batubara secara bertahap, dekarbonisasi alat transportasi, dekarbonisasi industri, dan peningkatan akses listrik untuk 3,5 miliar orang.

Kedua, tempatkan anak dan remaja di pusat semua upaya untuk mencapai target pembangunan berkelanjutan.

Ketiga, kebijakan dan investasi baru di semua sektor untuk  menuju pemenuhan hak anak dalam bidang kesehatan.

Keempat, memasukkan suara dan harapan anak ke dalam keputusan kebijakan.

Dan kelima, perketat peraturan nasional tentang pemasaran menu makanan yang berbahaya, sesuai dengan Konvensi PBB tentang Hak Anak (UN Convention on the Rights of the Child).

Momentum terbitnya laporan Lancet-WHO-UNICEF pada hari Rabu, 19 Februari 2020 yang berjudul  A Future for the World Children?, mengingatkan kita bahwa kesehatan dan masa depan setiap anak dan remaja di seluruh dunia, berada di bawah ancaman langsung dari degradasi ekologis, perubahan iklim, dan pemasaran masif menu konsumtif.

Para pembuat kebijakan di dunia, terbukti terlalu sering gagal melindungi hak kesehatan anak dan remaja, bahkan juga gagal melindungi planet mereka.

Apakah kita sudah bijak?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here