Artikel Kesehatan: Kelaparan Masih Ada

0
185 views
Kelaparan di India selama Krisis Pangan tahun 1876 by Wikipedia

PADA hari Senin, 15 Juli 2019, The State of Food Security and Nutrition in the World mengeluarkan data adanya sekitar 820 juta orang yang tidak memiliki cukup makanan pada tahun 2018, naik dari 811 juta pada tahun sebelumnya, yang merupakan tahun ketiga kenaikan berturut-turut.

Ini menggarisbawahi tantangan besar untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) ke 2, yaitu ‘Nol Kelaparan’ pada tahun 2030.

Apa yang perlu dicermati?

Kemajuan dalam mengurangi separuh jumlah anak yang terhambat pertumbuhannya, dan dalam mengurangi jumlah bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah, terbukti terlalu lambat, sehingga membuat target nutrisi SDG 2 lebih jauh dari jangkauan.

Pada saat yang sama, justru terjadi tambahan tantangan, karena kelebihan berat badan dan obesitas terus meningkat di semua wilayah, terutama pada anak usia sekolah dan orang dewasa muda.

Selain itu, peluang mengalami rawan pangan lebih tinggi terjadi pada wanita daripada pria di setiap benua, dengan kesenjangan terbesar di Amerika Latin. Tindakan untuk mengatasi tren yang meresahkan ini harus lebih berani, tidak hanya dalam skala, tetapi juga dalam hal kolaborasi multisektoral.

Hal ini melibatkan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Dana Internasional untuk Pengembangan Pertanian (IFAD), Dana Anak PBB (UNICEF), Program Pangan Dunia (WFP) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kelaparan yang meningkat terjadi di banyak negara, terutama di mana pertumbuhan ekonomi tertinggal, yaitu di negara berpenghasilan menengah dan negara yang sangat bergantung pada perdagangan komoditas primer internasional.

Laporan tahunan PBB 2019 juga menemukan bahwa ketimpangan pendapatan juga meningkat di banyak negara di mana kejadian kelaparan meningkat, menjadikannya semakin sulit bagi orang miskin, rentan atau terpinggirkan, untuk mengatasi perlambatan dan penurunan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut.

Untuk itu, semua negera seharusnya mendorong program transformasi struktural yang berpihak pada kaum miskin dan inklusif. Selain itu, juga berfokus pada orang dan komunitas khusus, agar menjadi pusat kegiatan dalam mengurangi kerentanan ekonomi, sehingga banyak negara akan mampu berada pada jalur untuk mengakhiri kelaparan, kerawanan pangan, dan segala bentuk kekurangan gizi.

Situasi kelaparan yang paling mengkhawatirkan terjadi di Afrika, karena wilayah ini memiliki tingkat kelaparan tertinggi di dunia. Selain itu, juga terus meningkat secara perlahan namun pasti, di hampir semua sub-wilayah.

Di Afrika Timur khususnya, hampir sepertiga dari populasi (30,8 persen) kekurangan gizi. Selain perubahan iklim dan konflik bersenjata, ternyata perlambatan dan penurunan pertumbuhan ekonomi mendorong peningkatan kelaparan.

Sejak tahun 2011, hampir setengah negara di mana kelaparan meningkat, terjadi karena perlambatan pertumbuhan ekonomi atau stagnasi di Afrika.

Namun demikian, jumlah terbesar orang kurang gizi (lebih dari 500 juta) justru tinggal di Asia, sebagian besar di Asia selatan. Secara bersama-sama, Afrika dan Asia menanggung bagian terbesar dari semua bentuk malnutrisi, terhitung lebih dari sembilan dari sepuluh anak pendek atau stunting (stunted children) dan lebih dari sembilan dari sepuluh anak tanpa pengasuhan (wasted children), di seluruh dunia.

Di Asia selatan dan Afrika Sub-Sahara, satu dari tiga anak pendek. Selain tantangan stunting dan tanpa asuhan, wilayah Asia dan Afrika juga merupakan rumah bagi hampir tiga perempat dari semua anak yang kelebihan berat badan di seluruh dunia, sebagian besar didorong oleh konsumsi makanan yang tidak sehat.

Laporan tahun 2019 yang berjudul ‘melampaui rasa lapar’ (going beyond hunger) ini, memperkenalkan indikator baru untuk mengukur kerawanan pangan pada berbagai tingkat keparahan dan memantau kemajuan menuju SDG 2, khususnya prevalensi rawan pangan sedang atau berat. Indikator ini didasarkan pada data yang diperoleh langsung dari survei tentang akses masyarakat ke makanan dalam 12 bulan terakhir, menggunakan Skala Pengalaman Rawan Makanan atau ‘Food Insecurity Experience Scale’ (FIES).

Orang yang mengalami kerawanan pangan tingkat moderat adalah orang yang menghadapi ketidakpastian tentang kemampuan mereka untuk mendapatkan makanan, sehingga harus mengurangi kualitas dan atau jumlah makanan yang mereka makan

Laporan tersebut memperkirakan bahwa lebih dari 2 miliar orang, sebagian besar di negara berpenghasilan rendah dan menengah, tidak memiliki akses teratur ke makanan dalam jumlah yang aman, bergizi, dan cukup.

Namun demikian, akses ke makanan yang stabil tidak teratur, juga merupakan tantangan bagi banyak negara berpenghasilan tinggi, termasuk 8 persen dari populasi di Amerika Utara dan Eropa. Data ini adalah desakan untuk adanya transformasi pada sistem pangan global, untuk menyediakan diet sehat yang diproduksi secara berkelanjutan, untuk semua populasi dunia yang terus tumbuh.

Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) Arifin Rudiyanto, pada 10 April 2019 menyatakan bahwa tahun 2018 lalu, konsumsi makanan per kapita di Indonesia meningkat sekitar 5 persen, dan bahkan konsumsi kalori pada masyarakat berpendapatan rendah meningkat sekitar 8 persen.

Dalam kondisi ini, tingkat stunting untuk anak balita di Indonesia turun 7 persen dibanding kondisi tahun 2013, menjadi 30,8 persen tahun 2018. Prevalensi kekurangan berat badan (stunting) pada anak balita juga turun 2 persen, menjadi 10 persen selama periode yang sama.

Indonesia berada dalam kondisi transisi ekonomi, dengan pertumbuhan pendapatan lebih dari 5 persen per tahun, dan permintaan akan makanan tumbuh lebih dari empat persen. Perubahan ini tidak bisa dihindari, karena adanya pertumbuhan ekonomi yang cukup cepat, urbanisasi, dan perubahan gaya hidup.

Laporan Keamanan Pangan tahun 2017 yang lalu mengidentifikasi tiga faktor di balik meningkatnya kelaparan, yaitu konflik bersenjata, perubahan iklim, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Sampai tahun 2019 ini, ketiganya atetap berpengaruh dalam ketahanan pangan dan nutrisi global, sehingga ketiganya harus kita cegah terjadi di Indonesia.

Sudahkah kita bertindak?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here