Artikel Kesehatan: Remaja Sehat

0
3,085 views

LEBIH dari 1,1 juta remaja berusia 10-19 tahun meninggal pada tahun 2016, atau sekitar lebih dari 3.000 orang setiap hari, sebagian besar dikarenakan oleh penyebab yang dapat dicegah atau diobati.

Kecelakaan dan cidera karena kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama kematian di kalangan remaja pada 2016. Bagaimana sebaiknya?

Selain data kematian tersebut itu, setengah dari semua gangguan kesehatan mental pada usia dewasa dimulai pada usia 14 tahun, tetapi kebanyakan kasus tidak terdeteksi dan tidak diobati. Sekitar 1,2 miliar orang atau 1 dari 6 populasi dunia, adalah remaja berusia 10 hingga 19 tahun.

Sebagian besar sehat, tetapi sebenarnya masih ada banyak kematian dini, penyakit, dan cidera di kalangan remaja. Penyakit dapat menghambat kemampuan mereka untuk tumbuh dan berkembang, hingga tidak mencapai potensi penuh mereka.

Penggunaan alkohol atau tembakau, kurangnya aktivitas fisik, hubungan seks tanpa pengaman dan atau paparan kekerasan, dapat membahayakan tidak hanya kesehatan mereka saat ini, tetapi juga kesehatan mereka sebagai orang dewasa, dan bahkan kesehatan anak-anak mereka di masa depan.

Cidera yang tidak disengaja adalah penyebab utama kematian dan kecacatan di kalangan remaja. Pada tahun 2016, lebih dari 135.000 remaja meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Banyak dari mereka yang meninggal adalah pengguna jalan yang rentan, termasuk pejalan kaki, pengendara sepeda atau pengguna kendaraan bermotor roda dua.

Di banyak negara, undang-undang keselamatan jalan perlu dibuat lebih komprehensif, dan penegakan hukum semacam itu perlu diperkuat. Lebih lanjut, pengemudi muda membutuhkan nasihat tentang cara mengemudi dengan aman, sementara undang-undang yang melarang mengemudi di bawah pengaruh alkohol dan obat perlu diberlakukan secara ketat, di antara semua kelompok umur.

Kadar alkohol dalam darah harus ditetapkan lebih rendah untuk pengemudi muda daripada untuk orang dewasa. Direkomendasikan juga bahwa lisensi lulus untuk pengemudi pemula dengan toleransi nol untuk pemabuk.

 

Tenggelam juga masuk dalam 10 penyebab utama kematian remaja. Hampir 50.000 remaja yang lebih dari dua pertiga dari mereka laki-laki, diperkirakan tenggelam pada tahun 2016. Mengajari anak dan remaja untuk berenang adalah intervensi penting untuk mencegah kematian ini.

Depresi

Depresi adalah salah satu penyebab utama penyakit dan kecacatan di kalangan remaja, dan bunuh diri adalah penyebab utama kedua kematian pada remaja. Kekerasan, kemiskinan, penghinaan dan perasaan tidak dihargai dapat meningkatkan risiko berkembangnya masalah kesehatan mental.

Membangun keterampilan hidup pada anak dan remaja, juga memberi mereka dukungan psikososial di sekolah dan lingkungan masyarakat lainnya, dapat membantu mempromosikan kesehatan mental yang baik. Program untuk membantu memperkuat ikatan antara remaja dan keluarga mereka, terbukti juga penting. Jika masalah gangguan mental awal muncul, mereka harus dideteksi dan dikelola oleh petugas kesehatan yang kompeten dan peduli.

Kekerasan antarpribadi atau kelompok adalah penyebab utama kematian ketiga pada remaja secara global. Ini menyebabkan hampir sepertiga dari semua kematian remaja pria di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Secara global, hampir satu dari tiga gadis remaja berusia 15-19 tahun atau sekitar 84 juta orang telah menjadi korban kekerasan emosional, fisik, dan atau seksual, yang dilakukan oleh suami atau pasangannya.

Mempromosikan hubungan pengasuhan antara orang tua dan anak pada awal kehidupan, memberikan pelatihan keterampilan hidup, dan mengurangi akses ke alkohol dan senjata api, dapat membantu mencegah cedera dan kematian akibat kekerasan.

 

Perawatan yang efektif dan empatik untuk remaja yang selamat dari kekerasan, termasuk dukungan yang berkelanjutan, dapat membantu mengatasi komplikasi fisik dan psikologis, akibat kekerasan tersebut.

 

Diperkirakan 2,1 juta remaja hidup dengan HIV pada tahun 2016. Meskipun jumlah keseluruhan kematian terkait HIV telah menurun sejak puncaknya pada tahun 2006, perkiraan menunjukkan bahwa penurunan ini belum terjadi di kalangan remaja. Ini mencerminkan fakta bahwa sebagian besar remaja saat ini, dilahirkan sebelum periode program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak diberlakukan, yaitu menggunakan terapi antiretroviral (ARV) secara luas.

 

Namun demikian, sebagian besar remaja HIV-positif tidak mengetahui status mereka. Sebaliknya, banyak dari remaja yang menyadari status HIV-positif mereka, justru tidak menerima pengobatan antiretroviral jangka panjang yang efektif.

Salah satu target khusus Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 3) adalah bahwa pada tahun 2030 harus ada penghentian (should be an end) epidemi AIDS, tuberkulosis, malaria dan penyakit tropis terabaikan, hepatitis, penyakit yang ditularkan melalui air dan penyakit menular lainnya.

Mengingat tingginya prevalensi HIV di banyak negara, untuk mencapai target ini remaja perlu menjadi pusat pengendaliannya. Remaja perlu tahu cara melindungi diri dari infeksi HIV dan harus memiliki sarana untuk melakukannya.

Akses yang lebih baik untuk tes dan konseling HIV, dan hubungan selanjutnya yang lebih kuat dengan layanan pengobatan HIV bagi mereka yang tes HIV positif, tentu saja juga diperlukan.

Mempromosikan perilaku sehat pada remaja dan mengambil langkah untuk melindungi remaja dari risiko kesehatan, sangat penting untuk mengurangi angka kematian remaja dan pencegahan masalah kesehatan pada masa dewasa.

Sudahkah kita bertindak?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here