Artikel Pencerah: Bahkan Pastor pun Bisa (Sangat) Pelit

0
570 views
Romo Liem Tjay yang super pelit --ilustrasi by Romo Komo MSF

UMUM dan sudah terbiasa pastor itu dikenal sebagai sosok yang baik, yang murah hati, ramah. Bahkan pastor itu dikatakan “Sinterklaas” yang hidup. Anak-anak suka dekat dengan pastor. Karena pastor selalu memberikan hadiah, entah kue, permen.

Apalagi ibu-ibu sangat suka memviralkan, jika bisa berfoto dengan pastor yang murah hati, yang luwes. Tipe seorang pastor yang siap sedia, kapan pun bisa meluangkan waktu untuk kebersamaan menjadi idola bagi ibu-ibu di paroki, dan Komka (Komunitas Orang Muda Katolik) –organisasi mudika zaman dulu.

Setiap pastor pasti mencita-citakan menjadikan dirinya Pastor Bonus. Imam yang baik (hati).

Namun, bagaimana ceritanya kalau pastor itu ternyata bisa sangat pelit?

Ada dua cerita yang mau saya bagikan dalam tulisan ini tentang pribadi pastor yang menurut saya ternyata bisa berlaku hidup: pelit

Begini kisahnya

Cerita 1: Pura-pura kabur setelah puas makan ikan

Kebetulan ada rapat para pastor di kota. Maka Liem Tjay, pastor pedalaman, lalu kesempatan untuk rekreasi dan menikmati makanan yang ala kota. Liem Tjay sadar uangnya pas-pasan. Tapi bagaimana Liem Tjay bisa makan enak dan tidak mengeluarkan uang.

Liem Tjay mengajak  Pastor Lupoq main ke pantai dan makan ikan segar. Lupoq agak ragu untuk ikut, tapi Lupoq mengajak Pastor Tuyet, ekonom, agar bila ada Tuyet ekonom pastilah “aman”.

Pastor Lupoq tanya: ”Jadi, siapa yang bayar makanan nanti?”

Liem Tjay menjawab: ”Kan ada bendahara, yaah Tuyetlah yang bayar.”

Tuyet ganti balas: ”Yang mengajak siapa, itulah yang bayar.”

Dengan sombongnya Liem Tjay mengatakan:”Ah itu kecil, beres aku yang bayar. Kita makan ikan sepuas-puasnya. Aku yang bayar,” sambil menepuk nepuk kantongnya yang tebal berisi dompet.

Padahal ia sadar uangnya dalam dompet minim.

Singkat cerita, mereka bertiga sedang menikmati masakan seafood yang dipesan di salah satu restauran cukup mewah di kawasan Pantai Balikpapan.

Setelah Liem Tjay puas menikmati bagiannya, ia menawarkan: ”Ayo tambah lagi, mumpung aku baik hati mau bayar,” katanya sambil menuju ke toilet.

Pastor Lupoq menegur: ”He… he.. mau kemana Liem?”

Jawab Liem Tjay dengan santai: ”Ke toilet sebentar.“

Apa yang terjadi dalam toilet?

Dalam toilet, Liem Tjay buka dompet sambil mengeluh bingung: ”Waduuh, mana cukup uangku untuk bayar makanan sebanyak itu?”

Lupoq menyusul, dia berpikir dan bertanya dalam hati: ”Ke mana Liem Tjay, jangan jangan dia melarikan diri dan tidak mau bayar, celakalah.”

Lupoq menuju ke toilet. Tiba tiba Liem Tjay terkejut, pintu toilet diketuk oleh Lupoq: ”Ayo cepat keluar …kok lama bener?“

Jawab Liem Tjay tenang: ”Ya… bentar, perutku agak sakit,” lalu Liem Tjay dengan tenang dan yakin keluar.

Langsung Lupoq masuk dan menggerutu: ”Sialan, kencing pun tidak disiram, kau mau kemana?”

Sambil tersenyum, Liem menjawab: ”Aku ke kasir dulu, bayar.”

Langsung Liem Tjay kabur ke luar parkiran, lalu duduk di belakang mobil sambil merokok. “Selamatlah dompetku.”

Lalu Pastor Lupoq dan Tuyet datang dan marah: ”Sialan, taoke (toke) satu ini, malah kabur. Kami yang harus bayar… dasar pelit om Liem Tjay ini.”

Liem Tjay memang dikenal sebagai seorang pastor yang pelit, susah memberi, susah mengeluarkan uang. Jika ada rapat soal keuangan, soal anggaran kepanitiaan, ia dikenal sebagai pribadi yang “njlimet”. Selalu perhitungan dari awal sampai akhir.

Maka Pastor Liem Tjay sering “dirasani” (objek pembicaraan) di kalangan umat.

Umat segan mendekat dan bicara seperlunya jika berada bersama dengan Pastor Liem Tjay.

Pelit merupakan satu bentuk kepribadian yang tidak disukai oleh banyak orang. Percaya atau tidak, orang pelit sangat sulit memiliki teman apalagi teman akrab. Hal ini karena mereka cenderung mengambil keuntungan dari orang lain, sementara mereka sendiri enggan dirugikan.

Orang pelit kerap merasa hidupnya tidak tenang karena adanya ketakutan bahwa suatu saat hartanya akan habis.

Pastor Liem Tjay kena batunya. Suatu saat Pastor Liem Tjay pasti akan kena batunya. Begini kisahnya.

Cerita 2: Liem Tjay memang pelit dengan kolekte

Liem Tjay ikut ibadah Oikumene setiap bulan di Gereja Perusahaan Minyak Total di Balikpapan. Ia duduk di depan bersama dengan para Gembala Umat, para Pendeta dari Gereja-gereja Protestan Kristen. Ketika diedarkan pundi pundi persembahan, setiap pendeta memberikan derma dengan merogoh koceknya dari saku jasnya.

Tiba giliran kantong pundi di depan Liem Tjay, ia bingung. Lalu pundi persembahan lewat. Liem Tjay malu dan rasa aman.

Ia pikir: ”Di Gereja Katolik itu tidak pernah imam, suster, bruder ditariki kolekte, pasti dilewati. Petugas kolekte tahu kalau pastor itu tidak bawa duit.”

Kali ini, ia selamat, walau ia malu.

Namun tiga bulan berikut ada ibadat lagi. Liem Tjay sudah mempersiapkan diri dengan matang. Pikirnya, sekalian ke kota untuk belanja bulanan living pastoran, ia masukan 50 ribu ke kantong saku sebelah kiri untuk belanja di pasar.

Ia siapkan uang Rp 500 dan masukkan ke kantong kanan untuk kolekte. Memang kolekte untuk Tuhan hanya 500 rupiah.

Dengan mantap dan pede-nya Liem Tjay mewakili Gereja Katolik hadir dalam ibadat oikumene perusahaan. Liem Tjay memimpin Doa Syafaat.

Setelah Doa Syafaat, pundi persembahan diedarkan oleh petugas.

Tibalah giliran di depan Liem Tjay, ia merogoh saku sebelah kiri, karena Liem Tjay lihat Bapak Pendeta di sebelahnya meletakan duit dengan tangan kiri, kelihatannya amat  bangga.

Maka Liem Tjay meletakan uang kolekte dengan tangan kiri. Ia merasa legadan  bangga karena sudah memberikan kolekte. Paling tidak, Liem Tjay tidak buat malu Gereja Katolik.

Liem Tjay membawa wajah Gereja Katolik yang murah hati memberikan persembahan dalam setiap ibadat oikumene.

Setelah ibadat, Liem Tjay transit di pastoran kota  dan mengambil sepeda motor Honda CG-100 lalu pergi ke pasar kota. Ia belanja kebutuhan rumah tangga pastoran untuk satu  bulan dengan anggaran 50 rb.

Ketika mau bayar di kasir, ia ambil uang dari sakunya sebelah kanan: ”Lho kok hanya Rp 500 saja?”

Ia rogoh sebelah kiri: ”Lho kok tidak ada…kosong?”

Ia kecewa sambil menggerutu: ”Waduh keliru…tadi masukkan kolekte Rp50 rb, padahal ini untuk keperluan dapur pastoran sebulan…. Waduuh sialan tidak makan sebulan.”

Dengan malu malu, Liem Tjay berkata: ”Maaf, Bu ..tidak jadi ambil semua ini… Ternyata uang saya tidak cukup… maaf.”

Pastor Liem Tjay kena batunya, lagi apes, naas dan “kepuhunan”.

Walaupun kurang pas dan tepat, sering orang Kalimatan menggunakan istilah “kepuhunan”.

Romo Liem Tjay gagal bayar belanja (Romo Koko MSF)

Begitulah salah satu sifat orang yang kikir adalah suatu saat akan terkena imbasnya.

Beberapa hari kemudian, Liem Tjay bertemu dengan Kakek Igang , orang tua suku Dayak Bahau di Balikpapan.

Kakek langsung mengungkapkan dengan kecewa: ”Pastor, itu namanya Pastor kepuhunan, mendapat celaka, karena pastor tidak ke rumah untuk makan. Kami sudah menunggu lama, namun pastor tidak datang. Kami sudah berburu babi ke hutan. Kami sudah masak agar bisa makan bersama dengan pastor. “

Memang Pastor Liem Tjay lupa sama sekali untuk datang dan mengunjungi Kampung Bahau di hutan pinggiran Balikpapan.

Arti kepuhunan atau kepohonan

Kepuhunan atau kepohonan adalah salah satu kepercayaan orang Kalimantan atau lebih tepatnya disebut mitos karena belum ada penjelasan yang logis tentang hal ini.

Kepuhunan atau kepohonan sendiri artinya mendapat celaka atau musibah karena menginginkan sesuatu atau tidak mencicipi (nyantap) sesuatu yang telah ditawarkan makanan, minuman.

Filosofi kalkulator

Saya teringat akan Filosofi Kalkulator kutipan dari sebuah lagu Buddhist by Obhasati Foundation, 4 Februari 2013

Begini Filosofi Kalkulator.

Jika diperhatikan sebuah kalkulator paling sederhana pun memiliki symbol:

  • X (perkalian).
  • + (penjumlahan).
  • – ( pengurangan).
  •  : (pembagian).

Keempat simbol tersebut harus ada. Jika kurang satu symbol sudah bisa kita pastikan bahwa kalkulator itu adalah produk cacat.

Demikian juga dengan kehidupan kita ini. Keempat symbol tersebut harus ada didalam kehidupan kita. Seseorang yang hanya mengerti “kali” dan “jumlah” dalam hidupnya pasti akan dicap sebagai orang yang kikir.

Sedangkan seseorang yang hanya mengerti akan “bagi” dan “kurang” hanyalah seorang yang boros.

Dan dua tipe ini akan menderita dan tidak bahagia dalam hidupnya. Orang yang kikir walaupun dia kaya. Sudah pasti tidak dihargai oleh lingkungannya dan dijauhi. Jika dia mendapat musibah, mungkin tidak ada orang yang berkenan menolongnya.

Orang yang dalam kehidupannya terlalu “dermawan” mungkin akan lebih bahagia. Tapi dia akan “miskin” dalam kehidupannya. Sampai suatu saat tidak akan dapat mewarisi apa pun kepada generasi berikutnya.

Jalan tengah

Jadi yang terbaik adalah jalan tengah.

Seperti sebuah kalkulator. Kehidupan kita ini haruslah memiliki kepribadian yang memiliki simbol perkalian, penjumlahan, pengurangan, dan pembagian.

Jika keempat simbol ini dipakai secara bijaksana. maka kita adalah sebuah kalkulator yang berguna bagi siapa saja dan di mana saja.

Dalam arti, ketika dia kaya, dia harus ingat untuk mendermakan (mengurangi) dan memberi (bagi) hartanya kepada yang layak dibantu dan membutuhkan. Dan ketika dia miskin tidaklah mengeluh tapi tetap bekerja (mengalikan) dan berusaha (menjumlah) untuk mendapatkan dan meraih cita-cita yang diinginkannya.

Jangan kikir.  Jadilah seorang yang murah hati, karena  “Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri.” Amsal 11:7a

Pelajaran berharga

Dua kisah di atas memberi catatan untuk bekal hidupku:

  • Tuhan sudah memberi aku banyak berkat (jasmani dan rohani): semangat sebagai imam misionaris di pedalaman walau sarana prasarana terbatas, keuletan untuk pelayanan pastoral di medan yang sulit di kecamatan Penajam di Kaltim selama beberapa tahun.
  • Kuterima dan kunikmati hidup di rumah pastoran (6m x 6 m) sederhana dari kayu, makanan ala kampung, pakaian cukup, rezeki berupa sayur mentah, buah dari tetangga yang diantar ke pastoran, kolekte dari ketulusan umat walau tidak seberapa nilai nominalnya dll.
  • Tuhan setia membantuku, tidak hanya setiap bulan, tetapi setiap saat. Akan tetapi, berapa banyak orang, khususnya aku yang bersikap sangat pelit kepada Tuhan?
  • Kolekte pun tidak kuberi dengan ikhlas (tanpa pamrih) untuk kemuliaan dan kepentingan Tuhan dan Gereja, tetapi kuprioritas untuk kepentingan perut.
  • Aku masih memiliki pandangan yang kurang pas: “Aku memberi supaya aku diberkati dan menerima sepuluh kali lipat.”

Pelit kepada Tuhan tidak hanya dalam masalah kolekte, tetapi juga pelit dalam memberi waktu kepada Tuhan dan umat paroki, maupun dalam banyak hal lainnya.

Memberi waktu 1-2 jam untuk merayakan misa dan berjumpa, berkunjung ke umat yang membutuhkan atau yang sakit, yang melarat saja aku tidak rela, masih kupotong untuk kesenanganku sendiri dengan sms-an, aplod kemana-mana, santai di kafe sambil merokok, minum, ber-HP–ria.

Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan.”  (Amsal 11: 25a)

Tepian Sungai Serayu

22 September 2020

Liem Tjay 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here