Artikel Pencerah: Logika Nazareth

0
180 views
Ilustrasi: Jangan terlena oleh gosip. (Ist)

MENGAPA Yesus di kotanya sendiri, Nazareth, tidak banyak membuat mukjizat?

Satu tafsiran menjawab, karena orang-orang tertutup. Bahkan sangsi. Bahwa Yesus yang mereka kenal, asalnya sebagai anak tukang kayu dan saudara-saudarinya tetangga mereka, kok kini bisa tampil dimana-mana sebelum ke Nazareth.

Juga bisa begitu menarik hati orang-orang. Bahkan mendekati tampilan tabib atau dokter penyembuh orang sakit.

Begitu bila dibahasakan sederhana tentang tertutupnya tetangga-tetangga dan orang Nazareth yang kenal masa kecilnya, “Kok kini masyhur sehingga mereka menutup mata, kagum terbuka pada kehadirannya yang merawat, menyembuhkan di tempat-tempat pra-Nazareth, sehingga disumberi oleh kesangsian dan ‘diam-diam’ ingin mukjizat pula di Nazareth.

Namun,  “Kok, Yesus tidak membuat tanda-tanda seperti di tempat lain dan malah mengajar di Sinagoga. Tak butuhlah kami.

Lalu mereka melepas kesal yang menumpuk dengan kata-kata: medice cur te ipsum = hai tabib (hai dokter) sembuhkanlah dirimu dulu sebelum mengajari kami”.

Nampak mata mereka tertutup pada ‘proses pertumbuhan Yesus dan kefasikan pengajaran’ sehingga hanya mau buah mukjizat yang mereka maui sendiri.

***

Dikisahkan, memang Yesus tidak banyak membuat mukjizat dan tanda-tanda kuasa penyembuhan di kotanya sendiri, karena mereka tidak percaya. “Bukankah Ia cuma anak tukang kayu, saudara-saudarinya  kita kenal semua, apa istimewanya dia ini.”

Ungkapan ‘stereotipe’ tentang Nazareth dengan jalan pikiran atau logika orang-orangnya ini menjadi oksigen sehari-hari mereka. Hingga boleh disimpulkan sebagai “logika Nazareth”.

Sebuah logika yang tidak mau belajar melihat proses orang lain dan berhenti pada “kekecilan dan kecupetan”, pendek pikir tentang Nazareth (meski bukan semuanya). Namun, paling tidak kenyataan stereotipe ini muncul saat Natanael di Injil Yohanes awal, diajak kawan nelayan untuk bertemu Yesus.

Dan ia skeptis melontar kalimat: “Adakah sesuatu yang baik bisa muncul dari Nazareth?”

***

Mata tertutup pada proses bahwa setiap orang itu bertumbuh. Mininya apresiasi pada sesuatu yang hidup, yang tumbuh baik sebagai logika disapresiasi.

Juga logika mau mendapatkan tanda-tanda mukjizat, yang serupa tanpa masuk ke dalam dan bertanya ke diri, “Mengapa di kota lain Yesus membuat tanda-tanda, sedang di Nazareth kok ngajar doang?”.

Keinginan ‘menikmati’ tanda yang spektakuler justru agar terwujud di Nazareth, sehingga ikut masyhur terkenallah Nazarethnya. Tetapi tanpa belajar ‘syarat’ buka mata, kagum, karena percaya dan bukan diberi hasil gampangan tanpa proses.

Setiap kali menyiapkan perkawinan Katolik dengan bertemu calon pengantin dan saat missa pemberkatannya, saya menyiapkan renungan dua butir (pokok).

Yang pertama, menanyakan persiapan-persiapannya. Bila sudah beres baik, saya menambahkan bahwa sekalipun bapak-ibu, keluarga kedua mempelai itu sudah menyiapkan sebaik-baiknya, selalu ‘ada saja yang usil’ dan mengucapkan kekurangannya, entah koornya kurang kompak, entah waktunya kelamaan saat misa.

Di saat resepsi, ada saja yang bilang, nasinya keras, lauk-lauknya kurang variasi, intinya ‘nyacat’ (Jawa: mencela bukan sebagai kritik membangun, namun sebagai sikap mini apresiasi atau pelit memuji atau menghargai).

Maka benarlah pepatah bijak yang menegaskan: “Biarkan anjing menggonggong, kaffilah harus tetap berlalu.”

Mungkin pepatah ini merupakan keseharian susahnya kita menghargai yang dikerjakan dengan keringat dan hati di perhelatan pernikahan.

Maka yang penting, saya pesankan ke pengantin demikian.

“Buatlah yang terbaik yang bisa dibuat untuk pesta kalian, bila ada komentar usil, biarkanlah, apalagi bila orang mengomentari kalian yang dulu mereka kenal dan kini kembali ke asalmu, kalian sudah jadi orang, entah sarjana atau profesional lain, mereka yang tak menghargai proses tumbuhmu akan usil mengecilkan kalian. Dan ini logika Nazareth.”

***

Mereka heran dan bertanya, apa itu logika Nazareth?

Kemudian saya menjelaskan seperti alinea-alinea tulisan ini yang di depan. Karena agak sering saya bahas tentang logika Nazareth ini, kini ada yang merangkumnya menjadi ‘senjata pamungkas’ penyikapan terhadap gejala mini apresiasi pada pertumbuhan sesama yang sudah merantau studi dan jadi orang.

‘Senjata pamungkas’ logika Nazareth, sebagai sikap terhadap dis-apresiasi atau komentar-komentar yang mengecilkan hati dan pribadi saat ia sudah bertumbuh jadi orang dewasa.

Bukannya ‘membesarkan hati’ di saat semestinya mesyukuri sebuah perhelatan atau capaian prestasi, kerja keras, pengabdian atau susah payah menyiapkan dan menampilkan paparan penelitian optimal, namun tetap saja muncul komentar-komentar sinis yang mengecilkan hati atau discouraging.

Bahasa Jawa punya banyak kata unik untuk hal ini, yaitu ‘nge-mingake’, mengecilkan capaian yang jempol acungan ke atas semestinya, namun diganti dengan jempol lain yang diarahkan terbalik ke bawah untuk menghina.

***

Bila ada sikap-sikap mengecilkan seperti ini, pakailah logika Nazareth sebagai solusi penyikapan. Bisa dipakai untuk tingkatan universitas, birokrasi pemerintahan bahkan ke presiden sendiri.

Lihatlah logika jalan pikiran Nazareth, sehari-hari muncul dalam teriakan mantan walikota Solo dan mantan gubernur DKI, kurang lama Pak Jokowi di gubernuran, sudah cepat-cepat menjadi presiden.

Padahal dalam tempo pendek, prestasi yang dengan hati dilakukan dan diabdikan dibandingkan dengan pemerintahan presiden-presiden sebelumnya, ‘pengecilan’ ala logika Nazareth terus terjadi.

Maka, ketika dalam beberapa diskusi soal sikap lebih mudah mengecilkan hasil kerja keras sesama apa pun, keringat maupun ‘darah’, maka the best yang dibuat, beberapa peserta langsung berjawab spontan yang menarik untuk ‘solusi’nya.

Memakai ucapan bu Tedjo dalam film Tilik, yaitu “bila bicara itu yang solutip”, maka logika Nazareth minimal bisa diacu untuk dipakai sebagai sikap mereka-mereka yang ‘dikecilkan’ oleh omongan usil, komentar dan bahasan yang ilmiah menyanjung di awal, namun dibelakangnya berkalimat:… tetapi…, yang menekuk sesama dengan mengecilkan seperti melipat.

Lipat kertas, yang bila orang lain tak ada lagi, maka kertas terlipat-lipat itu diinjakkan lalu dibuang. Namun pertanyaan dasarnya adalah mengapa merendahkan hasil kerja dan prestasi sesama dan mengecilkannya lebih sehari-hari dilakukan daripada scara ‘fair’, menghormati jujur dengan memberi pujian, bukan upacara-upacara award yang dapat nama bukan terutama yang dianugerahi, namun pemberinya?

Jawaban teman ahli postkolonial, karena ‘minder selalu dijajah’ sehingga balasan saat merdeka adalah discouraging discourse: wacana merendahkan ‘korban’ dengan meninggikan si aku yang mau dihormati karena memang wacana looking down.

Berikutnya, sebelum masing-masing orang mengendap dan ‘meneb’ selesai dengan dirinya, ia akan mencari terus sesamanya untuk menutupi kebelumselesaian (belum sumeleh-nya yang bersangkutan).

Meski jawaban teman postkolonial spekulatif dan harus riset di lapangan, namun fakta tentang kita yang dipidatokan Bung Karno dan Bung Hatta sebagai ‘bangsa kuli’ dan ‘bangsa daulat toean’: ‘inggih ndoro’, ‘ya tuan boss’, paling tidak sudah menjadi warisan bagaimana bangsa harus dididik untuk berharkat postcolonial, yaitu melalui proses pencerdasan kehidupan bangsa, yaitu edukasi yang tak cukup berupa ‘pengajaran’ tetapi mesti berwujud proses pendidikan menjadi manusia yang berharkat bermartabat.

***

Jalan logika Nazareth menjadi jawaban renung suci biblis, mengapa di mana-mana Yesus bergerak, membuat aksi penyembuhan, perbuatan mendatangkan berkah dalam tanda-tanda sebagai kasih Allah yang hadir bergerak dan berjalan terus dari satu tempat ke tempat lain dengan ‘gerakan’?

Namun di Nazareth, gerak itu tidak ada karena hati tertutup, terkungkung sikap mengecilkan sesama.

Oleh karenanya, bila sampai hari ini Anda mengalami seperti di atas, dengan besar hati silahkan bersikap lapang dada sambil tersenyum, “Oh, inilah logika Nazareth”, Yesus saja sudah mengalami itu, mengapa risau?

Yang muda dari Jakarta, saat itu berceloteh, “Oh, sikap EGP saja enaak: emang gue pikirin.”

Mendengar ini, yang sedang berdialog tertawa dan tersenyum, mengacungkan ibu jari (jempol) dobel ke depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here