Artikel Pencerah: Menjemput Kematian karena Covid-19, Akhirnya Tuhan Mengumpulkan Mereka

3
2,622 views
Ilustrasi: Batas dari Pengampunan adalah Kematian. (Sr. Ludovika OSA)

“Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.” (Ayub 1:21)

SEPTEMBER ini benar-benar menjadi masa yang kelabu bagi trah (keluarga besar) dari suatu keluarga Katolik yang berdomisili di daerah Pejompongan, Jakarta Pusat.

Sebuah rumah yang masuk dalam wilayah Lingkungan St. L, Gereja Kristus Raja, Paroki Pejompongan menjadi saksi bisu ditinggal seluruh penghuninya.

Keluarga yang dulunya menempati rumah itu terdiri dari seorang ibu, AS (74), beserta kedua puterinya, FDK (50) dan SDP (47).

Ibu S yang sudah sepuh dan sakit-sakitan, sehari-harinya ditemani oleh kedua puterinya, D dan Vi. Ayah mereka, AS sudah meninggal sejak lama.

AS adalah salah satu pendiri Yayasan Bina Swadaya serta pernah menjabat sebagai anggota DPR/MPR pada tahun 1982.

Ibu S dan kedua anak perempuannya bernama D dan V telah dipanggil Tuhan setelah terjangkit covid-19. Dalam rentang 17 hari mereka bertiga berurutan berpulang.

Ibu S (9 September), D (24 September), dan terakhir V (26 September).

Sepenggal cerita tentang hari-hari terakhir menjelang kepergian mereka akan coba saya kisahkan berdasar info dari S dan F.

S adalah putri bungsu dari Bapak AS dan Ibu AS. S menikah dengan F dan dikaruniai empat orang anak.

F dan S inilah yang begitu setia mendampingi ibu dan kakak-kakak mereka sampai pada peristirahatan terakhir.    

Ibu dan kakak Mendahului

Ibu AS pada awal-awal bulan September sudah mulai menderita demam. Beberapa kali sudah disarankan anak-anaknya untuk periksa ke dokter tetapi ibu belum mau. Setelah itu, pernah dipanggilkan seorang dokter ke rumah untuk memeriksa Ibu S.

Begitu awal mula cerita yang disampaikan oleh F.

Ternyata, keadaan Ibu S tidak kunjung membaik. Setelah berkali-kali didesak oleh anak-anak, akhirnya Rabu 9 September 2020 sang ibu pun luluh dan bersedia diantar ke rumah sakit. Kalau ke mana-mana sosok dengan tubuh yang cukup besar itu biasanya dibantu dengan kursi roda.

Saat di rumah sakit, Ibu S dinyatakan positif terpapar covid-19. Sayangnya, tidak berselang lama, beliau sudah tidak kuat lagi dan menghembuskan napas terakhir. Kondisi ini juga mungkin diperparah dengan faktor usia dan penyakit bawaan yang diderita oleh Ibu S.

Di tengah kekagetan dan rasa duka mendalam maka anak-anak yang selama ini berinteraksi dengan Ibu S pun harus melakukan tes swab. Setelah pemakaman ibunya, pada esok harinya, D, Vi, S, dan F melakukan tes swab.

Hasil tes swab ternyata D dan V positif. Sedankan S dan F negatif.

D dan V diharuskan langsung opname di rumah sakit. Karena belum mempersiapkan pakaian ganti dan perlengkapan lain, maka V berinisiatif pulang ke rumah untuk mengambil barang-barang yang dibutuhkan.

Kondisi V mulai terasa demam.

Yang mengharukan, menurut penuturan F dengan kondisi seperti itu V hanya berjalan kaki pulang ke rumah, padahal jarak dari rumah sakit cukup jauh. Apalagi saat itu sudah malam dan berkisar pukul 22.00 WIB. Saat hendak kembali ke rumah sakit, V juga tetap memilih berjalan kaki.

Ketika V ditanya kenapa tidak menggunakan jasa mobil transportasi online?

V menjawab bahwa dirinya tidak sampai hati dan tidak mau menulari pengemudi online.

Singkat kata, D dan V opname di rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut. Berkat upaya dan lobi F maka D dan V bisa mendapat pelayanan optimal dan sempat dipindahkan ke bagian ICU agar bisa lebih intensif perawatannya.

Selama di rumah sakit V masih rajin berkomunikasi dengan pihak keluarga melalui telepon genggamnya.

Apa mau dikata, karena kondisi yang tidak stabil dan terus menurun maka akhirnya D juga tidak mampu bertahan dan meninggal pada Kamis 24 September 2020. Pihak tenaga medis serta keluarga besar bersepakat untuk merahasiakan berita wafatnya D kepada Vi.

Permintaan rosario di peti mati

Seorang bernama Pak Untung memberikan suatu informasi yang mengejutkan sekaligus mengharukan. Pak Untung adalah kenalan dari keluarga Ibu S yang dulu sering diminta tolong sebagai tukang untuk memperbaiki rumah keluarga tersebut.

Beberapa waktu terakhir, Pak Untung ternyata sudah bekerja untuk mengurus jenazah di rumah sakit, termasuk juga jenazah korban covid-19.

V mengetahui keberadaan dan aktivitas Pak Untung ini.

Pak Untung pernah mengabarkan ke pihak keluarga bahwa saat dirawat di rumah sakit, Vita sempat mengirimkan pesan lewat aplikasi WhatsApp. V meminta tolong kepada Pak Untung agar berkenan menaruh rosario di peti matinya, jika V meninggal dunia.

Bisa jadi itu suatu pertanda. S dan F pun merasa aneh karena selama beberapa waktu Vita sama sekali tidak membalas pesan yang dikirim oleh mereka berdua.

Padahal, setelah kepergian D kondisi medis Vita sebenarnya membaik. Pada Sabtu 26 September pagi hari, dokter yang merawat V sempat berkomunikasi dengan F dan mengabarkan bahwa kondisi medis V membaik.

Pihak rumah sakit bahkan optimis dan memperkirakan bahwa alat bantu pernapasan yang selama ini dipakai V sudah bisa dilepaskan pada hari Senin 28 September.  

Namun, kenyataan berkata lain. Justru pada Sabtu sore itulah V pergi untuk selamanya. Dokter, S dan F , serta seluruh keluarga besar seakan tidak percaya akan perubahan drastis yang terjadi pada diri V.

Apakah V memang memilih untuk ikut menemani mama dan kakaknya?

Yang pasti, keluarga sudah mengikhlaskan dan meyakini bahwa ini semua adalah kehendak dan rancangan Tuhan. Mereka bertiga sudah tidak ada lagi di rumah kenangan di Pejompongan.

Namun, dalam iman, keluarga maupun rekan Gereja serta teman-teman berdoa dan percaya bahwa mereka akan berkumpul di rumah Bapa di surga.   

Selamat jalan Ibu S, D, dan V. Istirahatlah dalam damai abadi.

Terpujilah nama Tuhan.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here