Artikel Pencerah: Nama

0
230 views
Ilustrasi: Perkenalan nama. (Ist)

DI tulisan terdahulu, tercatat betapa nama anak yang dihunjukkan dalam doa ibunya, menjadi kekuatan hidup. Seperti tangan Tuhan sendiri yang menguatkan, merengkuh; terutama di saat-saat pandemi ini.

Nama, sebuah kata hanya berabjad empat saja, namun memuat seribu makna didalamnya.

Itulah bahasa kata, sebab dalam kata, bila kita mau serius sampai berkerut kening menuruti refleksi filsuf Martin Heidegger, dalam “kata” lah bersemayam Sang Ada, yang diberi kata kunci sebagai ‘rawatan’: ‘cura’: ‘among’ kehidupan.

Andes

Ketika saya diambil darahnya untuk keperluan rapid test di RS Carolus, perawat yang mengambil darah lalu menyapa saya. “Romo Mudji, saya kenal nama Anda, namun Romo tidak kenal saya. Itu karena saya sering melihat di TV”.

Saya tersenyum mengiyakan, lalu dengan cepat saya tanya balik namanya. Dengan tertawa dan ungkapan humornya ia menjawab: “Nama saya ‘Anak Desa’ atau Andes.”

“Hallo Anak Desa.” saya menyalami sambil berkerinyit ekspresi aneh, “Benar ini namamu?”

Kisah Andes di balik nama menjadi ‘spiritual sekali’, mengapa?

Pria berumur 30 tahun ini lalu berkisah: “Andes” adalah nama syukur dari orangtuanya saat lama berdoa dan mohon kepada Tuhan agar dianugerahi anak.

Lama doa permohonan dipanjatkan kepada Tuhan, hingga akhirnya Tuhan mengabulkannya.

Ia lahir di bulan Desember. Maka orangtuanya memberi nama syukur “Andes” kepadanya karena ia lahir di bulan Desember sebagai ANugerah DESmber.

 “Woow, dahsyat,” seru saya sampai ia kaget. “Jadi tadi ‘anak desa’, singkatan humor dan anugerah Desember adalah nama mulia dan syukurnya?,” tanya saya sambil berdecak kagum.

Dua makna kehidupan

Dari pengalaman saya menulis makna di balik nama selama ini, terangkum dua makna kehidupan.

Pertama, nama memuat harapan, dambaan orang tua untuk putera-puteri tercintanya. Semacam, doa dan restu untuk menemani perjalanan anak setelah lahir sebagai anugerah Tuhan, sebagai ‘Titipan Tuhan’ yang mesti dirawat dalam tanggungjawab cintanya.

Maka dalam tradisi Jawa, saat nama membawa ‘beban’ pada anak yang ditandai dengan keadaan sering sakit, ia disucikan dan diganti nama baru untuknya.

Saya kenal narasi nama “Slamet”, agar ia terus sehat selamat.

Ada pula “Sugeng”, sebagai harapan tetap hidup bahagia. Lalu bila ada nama “Joko”, yang kerap untuk mengejek positip; “Wah tetap joko dong, meski sudah lansia!”

Maksudnya pasti harapan tetap bersemangat muda terus. Orang besar seperti Bung Karno pun punya sejarah nama unik, saat dari Koesno diganti menjadi Soekarno. Hingga sehat bahkan menjadi Bapak Bangsa kita.

Yang kedua, dari teman-teman Batak saya, mereka memberi nama bisa menurut tokoh sejarah yang saat anak lahir menjadi kekaguman orang tuanya, misalnya saya kenal “John Fitzgerald Kennedy” untuk rekan Sitorus.

Namun ada yang disesuaikan keadaan atau situasi waktu yang sedang berlangsung. Pula yang diambilkan dari tokoh Kitab Suci yang dijadikan penanda harapan pada anak kelak kemudiannya.

Lalu apa arti sebuah nama, yang oleh William Shakespeare ditanyakan untuk menggugat dan merelatifkannya?

Kiranya bila nama yang disandang orang itu tidak sinkron dihayati dalam laku, lalu ‘merosot negatiflah’ auranya.

Projek peradaban

Di sini muncul projek peradaban individu atau subjektivitas yang keluar dari kungkungan kolektivitas dalam tanpilannya diri: si aku.

Ingat puisi Chairil Anwar: “Aku ini binatang jalang”.

Sebuah teriakan semangat zaman otonomi individu karena kesadaran subjek sebagai penentu sejarah langkah hidupnya.

Sumber oasenya jelas yaitu manusia adalah citra unik, “Imago Dei”: gambar Allah ciptaan-Nya.

Saya senang menambahinya dengan melanjutkan refleksi Kitab Kejadian: yang pria adalah citra agung Allah dan yang perempuan adalah citra ayu Allah.

Peradaban kristianilah yang mendasari manusia citra Allah, pemakna laku hidupnya: “The Signifying Actor” atau Homo Significans.

Merenung lebih mendalam, sebenarnya bila sejarah buram kelabu manusia karena kejahatan, dosanya, sudah diretas, dimasuki oleh Yesus Kristus melalui sengsara salib dan diangkat jadi kebangkitan manusia baru.

Maka sejarah yang garis lurus ini sejak Yesus masuk menjadi manusia, maka menjadi sejarah penebusan. Inilah waktu Masehi.

Sejak itu pulalah, si subjek manusia yang diselamatkan sebagai manusia baru dilahirkan dengan nama baru, nama santo dan santa orang kudus, dan sejak itulah peradaban (awalnya kebiasaan mamaknai sejarah) menjadi perayaan hari lahir secara baru sebagai hari ulang tahun.

Syukur atas rahmat kehidupan

Apa intinya? Rentangan hari-hari yang jadi sejarah penyelamatan, saat rentangan sejarah ini sudah ‘disucikan’, maka tiap hari adalah kudus.

Maka dari itu pula, syukur atas hari lahir menjadi HUT, ditunjukkan kepada Sang Pemberi Hidup. Nama permandian menjadi penanda nama baru anugerah, tidak hanya bulan Desember, namun pada hari nama santo pelindung dan santa pengayom.

Itu kita rayakan dalam syukur atas anugerah-Nya paling berharga, yaitu anugerah kelahiran baik saat dilahirkan dari rahim ibu kita maupun saat dilahirkan baru dari rahim “ibu Gereja”.

Dua ibu

Saya teringat novelnya alm. Arswendo Atmowiloto berjudul Dua Ibu (1981), yang menuliskan bahwa kita semua mempunyai dua ibu.

Ibu pertama, yang melahirkan kita, melalui rahimnya serta merawat dalam keluarga dengan kasih.

Ibu kedua adalah mereka-mereka yang menjadi kias ibu-ibu guru kehidupan selama kita hidup.

Mulai dari guru-guru sekolahan, tetangga-tetangga baik, ibu-ibu yang melalui jasanya, ulur tangan profesi atau bantuan-bantuan ikhlasnya membuat kita menjadi dewasa sebagai kita sekarang.

Aduh biyung

Dalam nama ibu yang saat kita kesakitan, atau sepi sengsara dan harus menanggung derita, amat menarik yang kita teriakkan dan desis bisikan dalam doa adalah ‘aduh biyung’ (Jawa): ibu, dan hampir semua kebudayaan menuliskan pengalaman menyeru ibu ini.

Lihatlah lagu Mama Mia, ini ungkapan asli bahasa Itali untuk berseru sedih, atau sambat, namun juga keheranan, kagum yang sekarang cuma sepenggal kering diucap “woow”, atau “ooo” saja.

Dua Ibu ungkapan nyata menghayati pengalaman dibesarkan dalam rawatan kasih ibu. Sehingga yang paling simbolik di negeri ini, tanahair sebagai anugerah hidup Tuhan bagi kita-kita eja-ucapkan dengan hormat sebagai “Ibu Pertiwi”.

Yakni, ungkapan syukur atas historis bahwa kemerdekaan negeri ini adalah melulu lantaran berkat Tuhan Yang Maha Esa.

Itu diungkapkan dalam naskah teks Proklamasi 17-08-1945 dalam “Atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa, dengan ini kami menyatakan kemerdekaan”.

Pandu ibuku

Dari sinilah saya menangkap intisari makna kata “Pandu Ibuku” dalam Indonesia Raya-nya Wage Rudolf Soepratman.

Sebuah panggilan untuk anak-anak ibu pertiwi, alias anak-anak negeri tercinta ini, agar sudi, rela dan iklas menjadi pandu-pandu ibu pertiwi.

Oleh karena tanahair adalah ibu pertiwi, pelahir dan pemelihara kehidupan bangsa, janganlah semesta ini diterlantarkan, dirusak atau dilukai oleh serakah kita.

Sebab, dalam nama-nama yang tersaji di atas, nama ibuku, nama-nama Anda, nama-nama kita, terdapat sumbernya sumber persembahan doa kita semua.

Yaitu berkah Tuhan sendiri yang setiap kali dibagikan akan diawali doa: “Dalam dan atas nama Tuhan”, berkah-Nya atas anugerah hidup, yang oksigen udara segar dan semesta segar ini sering dilupakan wujudnya karena taken for granted.

Baru ketika kita sulit bernafas, atau saat hari kelabu mendung kelam terus, kita sadar masih merindukan cahaya matahari.

Makna dan Istilah “berkah Dalem”

Dan berkah Tuhan itu oleh alm. Romo Soetapanitro SJ telah digali dan diliterasikan menjadi “Berkah Dalem”.

Sebuah istilah khas Indonesia (Jawa) uluk salam selamat pagi, siang, sore dan malam dalam syukur setiap hari karena di Nusantara tidak mengenal empat musim, namun musimnya terus ada matahari untuk kita.

Sang maestro: pelukis Affandi

Untuk mengakhiri tulisan ini, nama Tuhan dimuliakan tak hanya bila kita mensyukurinya dalam saling menyalami “Berkah Dalem Gusti” satu sama lain, tetapi oleh pelukis ekspresionis realis Affandi, ketika ditanyai wartawan, mengapa ia dalam lukisan-lukisannya banyak dominan warna kuning?

Jawab Affandi: “Ini syukur saya atas kuningnya padi-padi saat panen dan cahaya kuning terus dari matahari Nusantara yang memberi rezeki dan kesehatan pada kita.”

Affandi masih menambahi: “Saya juga kerap melukis bunga-bunga matahari untuk maksud syukur yang sama.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here