Artikel Pencerah: Pay It Forward

0
96 views
Ilustrasi - Menolong agar selamat by ist

TIGA hari lalu, saya mengalami kecelakaan kecil.

Malam hari, ketika asyik mencari rumah saudara di daerah Pejaten, Jakarta Selatan, tiba-tiba lubang got menganga, menghadang di pinggir jalan sempit itu. Tak ayal lagi, kaki kanan terperosok ke dalamnya.

Selokan dangkal dan kering, namun cukup membuat terkejut, dengan bereaksi menyeimbangkan badan ke sisi kanan.

Tembok kokoh yang diplester dengan semen kasar menjadi tumpuan. Sisi luar tangan kanan lecet memanjang, agak dalam, dengan darah mengalir. Tak seberapa parah, tapi perlu pertolongan pertama.

Sepuluh langkah dari TKP, ada warung jahit yang masih buka. Sang pemilik, seorang laki-laki setengah baya, duduk di belakang mesin jahitnya. Dia lagi bekerja.

“Assalamualaikum mas. Maaf, di mana klinik atau RS terdekat?,” tanya saya.

Si mas tertegun sejenak. Tapi begitu melihat darah mengalir, reaksinya keluar dengan spontan. Ditutupnya  rolling door dari luar, sambil menyambar kunci motor di atas meja kerjanya.

“Mari saya antar ke RS Siaga. Bapak bonceng saya, biar ibu menunggu di sini sebentar,” jawabnya spontan.

Singkat cerita, saya melompat ke boncengan motor dan dipacunya menuju ke RS yang dimaksud. Dalam perjalanan, masih sempat saya menanyakan nama dan asalnya. 

“Maman, dari Tasik”.

Tak berapa lama, kami sampai di depan pintu UGD.

“Silakan pak, saya jemput ibu”.

Saya tak akan protes tentang got yang mengangga di pinggir jalan yang cukup ramai itu. Atau mengeluh tentang luka lecet dengan sedikit darah mengalir yang menghiasi sisi luar tangan kanan saya.  Luka itu sudah dibersihkan dan diobati perawat dengan  rapi. 

Saya ingin mengangkat kebaikan hati Kang Maman. Refleksnya keluar dalam bentuk menolong orang dengan sigap tanpa menghitung apa pun. Ternyata, masih banyak orang baik di Jakarta.

Masih banyak yang ringan tangan di Indonesia.

Yang lebih mengesankan, ketika kami baru menunjukkan gelagat untuk memberi sekedar balas jasa, serta merta, dengan santun, dia menolaknya. Yang terjadi malah dia memberikan nomer ponselnya untuk kami hubungi bila membutuhkan pertolongannya lagi. 

Ketika kami hubungi ponselnya, untuk sekali lagi, mengucapkan terima kasih, jawaban yang keluar datar, namun penuh makna yang menggetarkan hati saya.

“Cepat sembuh ya pak,” sahutnya.

Dalam perjalanan pulang, ekspresi Kang Maman masih membayang di kepala kami. Tanpa si penderita meminta tolong kepadanya, tangannya langsung diulurkan.

Drama setengah babak bertemu Kang Maman menyadarkan bahwa menolong dengan spontan, tanpa menghitung apa pun, adalah gambaran dari belas kasih yang tulus, yang keluar dari dalam hatinya.

Sikap Kang Maman yang menolak balas jasa mengingatkan saya akan sebuah film drama bikinan tahun 2000 berjudul Pay It Forward.

Kisah dimulai di sebuah SD di kota Nevada, Las Vegas. Dalam mata pelajaran studi sosial, pak guru menugaskan para murid untuk memikirkan suatu konsep dan implementasinya, tentang bagaimana membuat dunia menjadi lebih baik.

Salah satu murid, Trevor Mc.Kinney, 11 tahun, menjawab tugas pak guru dengan suatu pemikiran yang dia sebut Pay it Forward.

Bila seseorang menerima pertolongan dari orang lain, dia “membalasnya”, dengan menyalurkan kepada minimal tiga orang lainnya yang membutuhkan pertolongan. 

“Pay it forward” is implemented in contract law of loans in the concept of third parties beneficiaries.

Selanjutnya, ketiga orang (lain) yang telah menerima pertolongan itu, meneruskan lagi ke masing-masing tiga orang lain lagi.

Begitu seterusnya  hingga orang yang menerima kebaikan hati akan semakin banyak.

“Trevor’s law” menjadi terkenal di Amerika bahkan dunia, dengan berbagai manifestasinya. Meski tidak mudah dalam implementasi, tapi bila “hukum” itu terus  dikembangkan, niscaya mimpi Trevor akan menjadi kenyataan, yaitu “dunia yang  lebih baik”.

Mungkin Kang Maman belum pernah menonton  Pay It Forward

Namun sikapnya yang penuh welas-asih dan tulus,  “hanya memberi tak harap kembali”,  mempunyai spirit yang selaras dengan ide Trevor. 

Dalam kerendahan hatinya, Kang Maman, seorang penjahit sederhana, seolah mengatakan: “Tak usah kalian membalasnya, tebarkan kebaikan ini kepada sebanyak mungkin mereka yang membutuhkan”.

@pmsusbandono

30 Mei 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here