Artikel Pencerah: Voyage to the Bottom of the Sea

0
145 views
Film "Voyage to the Bottom of the Sea" (Ist)


BAGI yang lahir sesudah tahun 1965, mungkin tak paham judul di atas. Itu adalah judul film seri yang ditayangkan TVRI, satu-satunya stasiun televisi di Indonesia, tahun 1970-an.

Voyage to the Bottom of the Sea (VTTBOTS) menjadi tontonan rutin setiap Jumat malam di keluarga kami.

Film seri yang dibuat tahun 1964–1968, dikarang oleh (siapa lagi kalau bukan) Irwin Allen, spesialis pembuat film fiksi, adalah 1 dari 4 mahakaryanya.

Tiga lainnya adalah Lost in Space, The Time Tunnel, dan Land of the Giants.

Lantas, apa istimewanya hingga film yang sudah zombie itu saya angkat dan ungkit kembali?.

Ingatan saya tiba-tiba bangkit saat mendengar kapal selam KRI Nanggala-402 hilang kontak pada hari Rabu, 21 April 2021, saat melakukan latihan penembakan torpedo di Laut Bali.

Ia membawa 53 awak. Kemudian, dinyatakan tenggelam pada hari Sabtu, 24 April 2021.

Saya belum pernah naik kapal selam. Bahkan melihat dari jauh pun juga belum. Karena kurang seksi, saya tak tertarik hal-ikhwal kapal selam.

Meski jauh dari lengkap, kesan tersisa tentang film favorit itu terpaksa saya udal-udal. KRI Nanggala-402 saya coba rekonstruksi dengan kapal selam di film favorit masa kanak-kanak saya.

Sesaat setelah judul film terdengar dari layar TV (hitam-putih, dengan beberapa tabung gemuk di dalamnya), kemudian narator dengan suara khas, menyebutkan dua bintang utama. Nada dan intonasinya masih teriang-iang sampai kini,

“Starring Richard Besehart,… David Hedison”.

Masing-masing memerankan tokoh utama, sebagai Admiral Harriman Nelson dan Captain Lee Crane. (Dulu sering terdengar sebagai “Green”)

Ada sekitar 20-an awak kapal. Saya tak ingat nama mereka. Tetapi sikap dan wajah mereka mirip. Angker, tanpa senyum, waspada, tak pernah rileks, apalagi rekreasi atau bercanda.

Saya mereka-reka, mengapa penggambaran wajah mereka begitu serius.

Kapal selam adalah sebuah confined space, sarat teknologi canggih, berada di dalam ratusan meter di bawah permukaan laut.

Itu titik yang bertekanan tinggi, kritis dan high risk.

Ada banyak orang di dalam ruang sempit untuk waktu yang cukup lama, bukan sesuatu yang menyenangkan.

Dibutuhkan mental baja, berwawasan teknologi tinggi dengan badan super fit dan sehat. Teamwork harus solid, leadership bersifat komando, tegas tapi bijaksana.

Tak heran, kalau sering dijumpai adegan konflik antar awak yang kadang melibatkan fisik. Percakapan sering tegang dengan nada tinggi.

Film lawas di TVRI dengan titel “Voyage to the Bottom of the Sea”. (Ist)

Untung, kepemimpinan Laksamana Nelson dan Kapten Crane, yang simpatik dan sejuk, berhasil menggalang kerja sama tim yang efektif.

Alur cerita sering membuat dag-dig-dug. Karena ia dibangun untuk penelitian ilmu kelautan. Misi utamanya adalah melindungi bumi dari ancaman musuh manusia di luar atau dalam planet bumi.

Menyeramkan bukan?.

VTTBOTS menceritakan banyak adegan seru. Bencana alam di dalam laut, monster, kerusakan mesin, serangan musuh dari luar negeri, spionase dan yang paling krusial adalah perseteruan antar awak.

Judul-judulnya pun menyeramkan, seperti, The Last Battle, The Ghost of Moby Dick, Time Bomb, The X Factor, The Monster of Outer Space.

Itulah sekilas tentang film seri VTTBOTS.

Begitu pula yang kemudian saya bayangkan tentang Nanggala 402. Pasti tidak sama, tapi ada kemiripan yang bisa ditangkap dari sana.

Suasana kritis dan menegangkan tergambar dengan lebih detil dari wawancara Kompas TV dengan Danseskoal Laksamana Muda Iwan Isnurwanto, seorang mantan awak Nanggala 402.

Dengan sedikit emosional, Laksamana Iwan menceritakan saat pernah mengalami blackout.

“Waktu mengawaki Nanggala, saya pernah mengalami blackout. Jam 12 malam, saya sedang istirahat. Saya langsung lompat”.

“Hanya lampu darurat yang menyala. Bagian belakang kapal turun hingga kemiringan 45 derajat”.

“Jadi di lorong itu kami merangkak memegang pintu-pintu sampai ke depan. Tidak sampai 10 detik, kapal turun 90 meter. Bisa dibayangkan bagaimana blackout itu. Mohon maaf saya merinding mengingat itu semua, karena saya mengalaminya.”.

Akhirnya, masalahnya ketemu. Ada satu fuse putus. Tapi tak tahu di mana.

Panjang-lebar Iwan menceritakan accident itu. Suaranya bergetar. Beberapa kali minta maaf, karena melibatkan perasaannya.

Sungguh menegangkan.

Kombinasi ingatan dari VTTBOTS dan spirit kisah Laksamana Iwan membangun kesan betapa heroik misi yang diemban para awak kapal selam.

Satu kesimpulan bisa ditarik, kalau soal kapal selam, tak ada tawar-menawar.

Pemeliharaan teliti dan teratur. Emergency Response Plan terbaik dan tercepat, awaknya prima fisik dan mental, dan dikelola dengan saksama.

Karena tak ada pengabdian dan resiko manusia yang lebih tinggi daripada awak kapal selam

“All of the branches of men in the forces there is none which shows more devotion and faces grimmer perils than the submariners”.

(Sir Winston Leonard Spencer-Churchill seorang politikus dan perwira militer. Ia merupakan Perdana Menteri Britania Raya, 1940-1945, saat memimpin Britania meraih kemenangan dalam Perang Dunia II, dan menjabat lagi dari tahun 1951 hingga 1955)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here