Artikel Sastra: Berhening

1
628 views
Keheningan dalam rutinitas doa usai perayaan ekaristi harian di Kapel Biara Rubiah Karmelites "Flos Carmeli" Batu - Jatim. (Mathias Hariyadi)

KETIKA kehidupan mau direnungkan antara ramai dan hening, maka jalan pikiran budi akan menaruhnya dalam ‘logika biner’. Maksudnya, ada dua medan yang berhadapan di sini dan di sana.

Istilah lebih ilmiah menyebutnya pola pikir dikotomi, membagi dalam belahan ‘kawan’ versus ‘lawan’. Ini bila diterapkan dalam konteks politik menang versus kalah.

Karena yang dihitung adalah kuasa yang diraup (padahal kuasa adalah konsep) yang riil, diberi wujud kuasa uang: kuantitas satu juta, satu milyar, yang dikonsensuskan untuk sejumlah kuantitas abstraksi kekuasaan ekonomis.

Namun dalam wacana sastra, kehidupan yang mau direnungkan dalam dua ranah yang diperlawankan, pembelahannya makin ‘substil’. Artinya, mendekati muatan kualitatif dan tak hanya kuantitatif.

Ranah kehidupan yang ramai, semarak, dikisahkan dalam wacana bahan pokok sastra, yaitu kata atau kalimat bermakna ‘sebagai prosa’.

Maka penyair memakai puisi untuk mengungkapkan lawan dari verbalisme: surat kata-kata dan ini peyoratif. Mengejek, karena kata-kata yang kebanyakan kosong makna alias ‘bombastis’, kata-kata hampa.

Penyair dengan puisinya ingin menulis kehidupan dengan kata dan kalimat yang sudah ‘di-hening-i’. Hingga makna renung atau refleksi penyair akan ‘di-pas-kan’ dengan kata terpilih. Untuk mengungkap yang berarti dalam renungnya mengenai kehidupan.

Bila tetap saja kata atau kalimat masih terlalu ramai (baca: riuh, verbalistis), maka puisi minimalis dipilih untuk pengungkapan.

Sang pelukis sampai arsitek punya cara espresi serupa, hingga menjadi jenis ‘aliran’ atau ‘genre’ (terutama pas untuk golongan musik), yaitu aliran minimalis.

Tentu saja berlawanan diameter dengan maksimalis.

***

Ketika rumah ibadah dirancang renovasinya di tangan seniman arsitek minimalis, mereka yang biasa akrab dengan jalan salib realis warisan dari model jalan salib, maka jadilah narasi berupa cuplikan perhentian.

Dengan lukisan realis penuh warna-warni dan ingin melukiskan serealis mungkin adegan salib. Dan tiba-tiba berjumpa dengan jalan salib minimalis, orang ini akan kaget.

Karena di jalan salib, tiap perhentiannya diminimaliskan dengan lengkung-lengkung garis lebih mozaik, sehingga sosok Yesus menjadi gambar garis sketsa yang diungkap melalui lengkung-lengkung garis ‘kawat’ besi abstraksi dari yang maksimalis.

Bila kita menatap diri di masa pandemi ini, goncangan yang langsung muncul adalah prosa kehidupan yang biasa dipanggungkan di jalanan.

Ramai jalan-jalan belanja di mal atau saling sapa ramai dalam jumpa pesta akrab dan gegap gempita saling menyalami. Dan kini, telah berubah menjadi sepi panggung, sepi keriuhan dan keramaian.

***

Kebaktian, doa ibadah bersama dalam ekaristi yang meriah dengan koor merdu bernyanyi, kini gereja telah ditutup. Dan kalau sudah dibuka lagi pun, dengan keketatan protokol kesehatan hingga gerak diam, perilaku tanpa kata lebih banyak menjadi ungkapan doa maupun ibadah.

Masalahnya, ketika tempat-tempat doa, masjid, gereja, surau, kuil, mau tidak mau, tidak bisa lagi untuk berkerumun berkumpul karena covid-19 ini, bukankah sebenarnya sudah dari awal kita belajar akan hal ini. Yakni, di dunia sastra bahwa prosa kehidupan yang ramai meriah, tapi sekarangini marilah kita hayati dengan puisi. 

  • Bila Tuhan sudah bertamu, dan hadir di ‘rumah’ keluarga kita masing-masing bahkan lebih mendalam;
  • Tuhan sudah mengetuk pintu untuk hadir di ‘rumah batin’ kita masing-masing.

Nah, bukankah yang harus berubah untuk menyambutnya adalah sikap terbuka hati kita.

Pertama, perpindahan dari prosa menuju puisi adalah proses mengolah dalam dialog dengan Tuhan, yang menyayat dari sepi (yang mau kita tolak bahkan kita mau lari, lebih tepat melarikan diri dengan ‘meramaikan superfisial’ dengan bersibuk-sibuk).

Cara lama, entah dengan gadget atau sarana medsos plus teve, yang intinya tidak merelakan diri (terutama batin kita) untuk belajar mengolah sepi itu menjadi ‘sunyi’, yang menerima diri apa adanya dan pelan-pelan berproses dari sunyi menuju ‘hening’.

Bisakah budi kita yang masih gaduh riuh ramai, kita dialog temukan dengan yang batin, mulai meneduhkan diri menuju diam batin yang terus menyatukan diam budi dengan diam batin, hingga mulai merasakan ‘hening’.

***

Berhening saat mengolah prosa menjadi puisi bahkan sampai puisi pun menjadi puisi berbisik, bisa ditulis dalam sajak ini.

Puisi Berbisik

aku berbisik di gemericik duka

          mengapa masih tega merampasi jasadmu

          menghitung menang senjata dengan angka

padahal siapa pemenang senjata

          dihadapan sudara-saudara berbilang angka: 220 ribu

          siap dijemput si Empunya kehidupan: Tuhan?

siapa menang, siapa kalah

          dihadapan-Nya?

Puisi ini melukis kalkulasi kemenangan perang karena mampu membunuh sesama dan tega masih merampasi mereka yang kalah.

Di hadapan pemilik kehidupan, puisi ini menggugat batin: berhadapan peristiwa penghancuran sesama, masihkah bisa mengatakan diri pemenang?

Bila akhirnya gugatan menggores untuk mengheningkan ‘cipta’, lalu apa itu ‘hening’?

Proses berhening, ingin dinarasikan sebagai perjalanan ‘titik dan titik’, dari titik sepi, ingin kembali meramaikan diri dengan sibuk-sibuk mengisi telinga dengan musik, mengisi mata dengan deretan ‘gerlap-gerlap’ dan ‘flash’ eksotisme indra, yang akhirnya ‘titik ini’ berproses dalam kembaranya di kehidupan, sambung menyambung jadi garis, mampukah titik sepi, bertemu titik-titik lain, lalu jadi garis menuju hening?

Kisah puisi titik itu ditulis sebagai berikut:

Titik-titik

ada titik, ada garis

ada tangis, ada tawa

ada titik, ada garis-garis

ada sendu, ada riang

                    ada hidup, yang disyukuri dalam hati

                    dalam Hening-NYA

                    semoga   

(m.s. 2011)

***

Olahan pengalaman titik-titik tangis, tawa, menjadi garis sendu, dan garis riang, ternyata hanya akan menjadi hening, bila diolah dalam hidup yang disyukuri, dalam hening Tuhan, heningNya.

Selama belum ke kehidupan dalam doa syukur atas kehidupan yang diterima dalam Dia, selama itu pula mampat keringlah sepi. Jadi sepi kerontang, sepi kemarau meranggasnya pohon-pohon dan tanah karena kehabisan air, kehabisan embun-embun pagi.

Selama belum mengolah pengalaman sepi-sepi dalam doa syukur pada-Nya, selama itu pula, sepi hanya beranjak sekejap jadi sunyi, namun saat batin protes keadaan seperti pada situasi sulit saat ini, berhentilah sepi jadi sunyi.

Namun sudah selangkah maju, karena ada awareness, keterbukaan kecil, bahwa kini Tuhan hadir bukan di gedung-gedung besar doa tetapi di rumah kita, di hati kita.

Prosesi Keliling Bawa Relikui Duri Yesus di Bergamo, Umat Saksikan dalam Kesunyian by ist.

Syaratnya?

Mengolah titik-titik sepi, sendu, suka, duka, tawa, tangis, dalam doa syukur pada-Nya dalam hati yang beroda dan selangkah akan membawa hening-Nya, karena proses kehidupan sudah diproses menjadi puisi hening dalam-NYA.

Maka proses ini dalam puisi diakhiri dengan kata penting, yaitu ‘semoga’, melangkah sampai ke titik hening syukur ini.  

Pengalaman nyata dan eksistensial adalah betapa sepi, sedih dan duka, karena sahabat romo-romo seangkatan saya, yaitu romo Wisnumurti SJ dan Romo Wibowo SJ dipanggil Tuhan.

RIP di usia yang masih matang-matangnya sebagai pastor paroki gembala dan sebagai cendekiawan ahli China.

Minimalis doanya dan puisi, berbisiknya hanya bisa lirih saat ‘sumeleh’, pasrah doa bahwa ini yang terbaik menurutNya dan bukan menurut kalkulasi manusia.

Puisi duka, sekaligus mendoakan requiescat in pace = ‘Rinengkuh Ing Pangeran’, seperti ini:

RIP

tamaram sisa purnama

memagut dingin duka

saat kidung doa

                    membisik lirih

                    buat sahabat

                    tengah beralih

(doa lirih untuk Romo Wisnu SJ dan Romo Bowo SJ, RIP, Maret 2011)

Kembali ke awal tulisan ini.

Saat Tuhan menyambangi hadir di rumah-rumah kita, sesungguhnya yang dibutuhkan adalah belajar lebih banyak menghening diam menyambut tanda hadir-Nya, daripada bersibuk-sibuk seperti mau kembali ke keadaan sebelum ini, pasti mustahil.

Bila ditutup sederhana, kita diajak belajar untuk menyeberang dari prosa hidup menuju puisi: dari puisi menuju puisi berbisik.

Apalagi ketika banyak rekan-rekan dokter hari ini (31/08/2020) sudah 100 orang dipanggil Tuhan. Demi kita semua. Belum lagi tenaga-tenaga medis serta kerabat, saudara, sahabat, teman-teman yang RIP.

Maka untuk mereka yang dalam tugas RIP, masih akan saya tautkan puisi untuk Arswendo dan Eomo Adolf Heuken SJ, sebagai berikut:

R.I.P. (Rinengkuh Ing Pangeran)

erat pegangan tangan

melemah

diganti ulur tangannya

(RIP A. Heuken SJ dan Arswendo Atmowiloto, 19 Juli dan 26 Juli 2019)

Lalu hadir dalam suasana R.I.P. atau melayat, bahasa sikap yang paling membisik untuk dihayati adalah “Diam”.

Diam

diam adalah bahasa

paling pas

saat melepas

sahabat

pulang kepadanya

Juli 2019

(dari buku kumpulan puisi berjudul Puisi Berbisik, Mudji Sutrisno SJ, hlm 72-73, 2020).

1 COMMENT

  1. * Syalom..*_
    Selamat menikmati berkat Tuhan. Syukurilah dengan hidup menjadi berkat sambil menantikan waktu-Nya

    _*Wabah virus Covid 19 sudah pandemi (mendunia). Mari berdoa dan berpuasa agar bencana global ini segera berakhir, kita semua aman dalam lindungan-Nya*_

    _*God bless n protect Indonesia forever*_

    Semangat terus mengabdi n melayani. Tuhan Yesus memberkati slalu bersama keluarga. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here