Awas, Pengkhianat Siap Menyergap!

0
3,523 views

YANG namanya pengkhianatan itu ada di mana-mana. Di kantor, di sekolah, di dalam keluarga bahkan di tempat yang disucikan sekali pun. Pengkhianatan yang sering kita dengar dan menjadi terkenal dalam sejarah telah dipraktikkan oleh  Yudas Iskariot  (Luk 6:16).

Yudas melakukan ciuman maut kepada Yesus. Namun motivasi melakukan ciuman itu tak lebih sekedar ungkapan “mesra” untuk menyembunyikan maksud jahat yang tak mau terungkap di depan umum. Tak heran kalau “ciuman Yudas” ini sekarang mendapatkan analoginya sebagai simbol pengkhianatan.

Aneh juga melihat perilaku Yudas Iskariot ini. Sudah mengalami cinta dan perhatian yang tulus dari Yesus dan diberikan “pencerahan” tentang hidup yang benar berikut diberi kebebasan  luas, tapi toh “roh jahat” tetap saja membelenggu hatinya.

“Brutus” ada dimana-mana

Sejarah perabadan manusia memunculkan simbol modern untuk mengindentifikasi  keberadaan “roh jahat”  yang setiap kali bisa menikam orang lain tanpa kita sadari. Pengkhianatan itu terjadi dimana-mana dan barangkali juga pengalaman pahit ini dialami oleh banyak orang, tanpa peduli latar belakang dan status sosialnya.

“Et, Tu Brute…”

Itulah kalimat yang mengalir dari mulut  Julius Gaius Caesar (102–44 SM) kepada Brutus.   Nama lengkap pria yang disapa Caesar itu adalah Marcus Junius Brutus (85–42 BC).  Dalam percaturan kehidupan politik di Kekaisaran Romawi waktu itu, Caesar telah menaruh kepercayaan besar dan sangat menghormati  Brutus. Caesar bahkan menempatkan sahabatnya ini di kursi nan empuk di jajaran  pemerintahan Romawi.

Cerita selanjutnya berbalik arah. Brutus menikam Caesar dari belakang alias berkhianat mencelakakan orang yang telah mempromosikan dia mendapatkan tempat terhormat di kancah  sosial dan politik di Roma.  Yang tadinya pertemanan, akhirnya berubah menjadi permusuhan. Caesar telah dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Ia ditusuk dari belakang.

Relasi pertemanan

Pengkhianatan juga terjadi di tataran pertemanan atau persahabatan antarmanusia. Orang modern sering berkelakar dengan mengatakan, “She has abused her friend’s confidence.”  Orang dibuat meradang dan menjadi kecewa karena teman yang semestinya membantu, kini malah menusuk dari belakang.

Tentu bisa dibayangkan, betapa sakit hatinya kita bila mendapati teman sendiri atau “orang dalam” membongkar kelemahan-kelemahan kita.  Saking dalamnya rasa sakit ini, tak jarang kita bergumam mengatakan, “Tak mudahlah  memaafkan orang yang telah berkhianat, apalagi kalau dia itu terbilang teman dekat sendiri.”

Tindakan berkhianat membuat luka batin yang mendalam. Ujung-ujungnya, luka dalam itu membekas lama di lubuh hati manusia hingga hanya ajal yang membuat luka itu menjadi sembuh dan “hilang” di telan peredaran waktu.

Tahta, harta, dan wanita

Kalau kita telusuri lebih mendalam, maka akar dari pengkhianatan adalah tahta, harta dan wanita. Mungkin kita akan  geleng-geleng kepala dan tidak percaya, tetapi data dan fakta memang berbicara demikian.

Kisah Perjanjian Lama  tentang Simson dan Delila  melukiskan bagaimana seorang wanita mampu memperdaya seorang laki-laki sekuat dan  seperkasa Simson (Hak 16: 4– 21). Helena dari Troya yang disebut juga “Pembawa 1000 kapal”  telah menggoncang kota Troya selama sepuluh tahun hanya karena kecantikannya. (Mengingatkan kita pada film Troy yang dibintangi oleh Brad Pitt, Orlando Bloom dan  Keira sebagai Helena yang cantik jelita tiada tara).

 

“Kalau kita telusuri lebih mendalam, maka akar dari pengkhianatan adalah tahta, harta dan wanita.”

Pernyataan Paulus yang mengatakan bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang (1 Tim 6:10) memang benar. Kalau tidak ada perebutan harta, maka mana mungkin ada tikus-tikus yang selalu berebutan “kue”. Korupsi merajalela karena setiap orang menginginkan kekayaan – meskipun kadang tidak halal.

Korupsi yang mengambil akar katanya dari kata Bahasa Latin yakni  corruptio punya makna dasar sebagai pembusukan, kerusakan, kemerosotan dan penyuapan. Maka, seorang koruptor adalah orang yang busuk luar-dalam.  Novel fiksi karangan Langit Kresna Hariadi  berjudul Gajah Mada juga melukiskan sebuah pengkhianatan klasik yang luar biasa.

Gajah Mada yang adalah pengikut setia Raden Wijaya. Sang raden ini pasti tidak akan pernah habis pikir, mengapa orang yang pernah makan semeja dengan sang raja malah yang ingin membunuhnya dengan cara berkhianat. Di sini kita bisa kenal dengan  peribahasa yakni  “musuh dalam selimut” yang berarti musuh yang berada di dalam lingkungan sendiri. Sekilas terlihat seperti teman padahal berniat mencelakakan.

Politik uang

Dalam dunia politik, yang namanya tahta itu menjadi perebutan yang melibatkan intrik, konspirasi, money politics dan lain sebagainya. Pertumpahan darah terjadi karena adanya perebutan kedudukan. Pengkhiantan dilakukan karena banyak motif. Barangkali, dengan meninggalkan temannya sendiri ia bisa mendapatkan keuntungan yang lebih. Janji-janji yang dilontarkan pihak lawan lebih menggiurkan daripada yang saat ini  dialami. Tak heran kalau sang  pengkhianat lalu berani meninggalkan teman dekatnya demi mendapatkan status dan kedudukan yang lebih menguntungkan.

Benar apa yang dikatakan orang bahwa dalam dunia politik memang tidak ada kawan abadi yang ada hanyalah kepentingan abadi . Benarlah kalimat Latin yang merepresentasi kenyataan itu –katanya–  Hostia aut amicus non est in aeternum; commode sua sunt in aeternum.

Demi mencapai sebuah kepentingan, maka orang rela mengorbankan segala-galanya, termasuk mengkhianati kawan dekatnya.  Pengkhianatan dalam dunia partai sering terjadi dalam “berjualan program-program”. His speech touches on the treason. Artinya, pidatonya hampir-hampir  bersifat pengkhianatan.

Sebelumnya dia hidup dari partai tertentu. Tetapi setelah mengalami ketidakpuasan atau partai berikut lebih menjanjikan, maka  ia pindah ke partai lain yang lebih menjanjikan. Ia mulai menjelek-jelekkan partai yang pernah menghidupinya. Dalam dunia politik, yang namanya “kutu loncat”  itu hal biasa. Kini ia mulai berkhianat atau istilah yang tepat adalah membelot.

“Benar apa yang dikatakan orang bahwa dalam dunia politik memang tidak ada kawan abadi yang ada hanyalah kepentingan abadi . Benarlah kalimat Latin yang merepresentasi kenyataan itu –katanya–  Hostia aut amicus non est in aeternum; commode sua sunt in aeternum.”

Dalam dunia kemiliteran, kita mengenal istilah desertion (pengkhianatan dan pembelotan).  Hukuman bagi para prajurit yang meninggalkan tugas perang (desersi) tidaklah ringan. Biasanya mereka harus dihukum pancung atau dicambuk 50 kali atau diturunkan jabatannya. Itulah yang tergambar ketika seorang desertir dihukum berat seperti tampil dalam film The Legend of Cheng Ho, Three Kingdoms,  Qin Shi Huang  The First Emperor, Princess Ja Myung Go, Mulan, The Story of Han Dynasty dan Ming Dinasty Legend.

Orang juga pernah berujar: “Right and  wrong is my country”.  Dalam buku Ramayana tulisan C. Rajagopalachari ini bisa kita nilai sendiri bagaimana pengkhiantan yang dilakukan  Wibisana. Sebagai adik kandung Rahwana, Wibisana tegas menolak membantu kakaknya berperang melawan Rama. Alasan Wibisana jelas, karena di situ ada ada kebaikan.

Di sini Wibisana membela kebenaran,  bukan angkara murka Rahwana, si Raja tamak dari Kerajaan Alengka.  Ini beda dengan sikap Kumbakarna: ia menolak mengkhianati negaranya. Berbeda dengan adiknya Wibisana, dia membela mati-matian sampai titik darah penghabisan meskipun tahu, kakaknya itu super tamak dan berada di kutub moral yang salah.

Dunia binis

Tindakan jilat-menjilat dan pengkhianatan  di kalangan atasan-bawahan  sering menjiwai  dunia bisnis.  Dalam drama, film, sinetron atau opera sabun (karena setiap jedah film ada iklannya yakni sabun)  dan roman picisan, sering muncul kisah-kisah perebutan kekuasaan untuk mencapai posisi sebagai seorang top manager dengan menghalalkan  segala cara. Bahkan tidak jarang dalam kisah tersebut ada pengkhianatan satu terhadap yang lain.

Ujung dari segala tindakan tersebut ada pada pengkhianatan. Orang mengkhianati suaminya supaya sang menantu yang dikasihi bisa mendapatkan kedudukan dalam perusahaan. Anak berkhianat terhadap mertuanya supaya suaminya dapat segera menggantikan kedudukan mertuanya. Pengkhianatan tidak pandang bulu serta mengerikan.

Saya tidak tahu apa yang namanya pengkhianatan itu ada tingkatan-tingkatannya. Apakah ada perbedaan fundamental antara pengkhianatan berskala kecil seperti mengkhianati pembantunya atau pengkhianatan terhadap negara?  Tetapi yang jelas, bobok kerusakan efek dari  pengkhianatan sungguh memperburuk kualitas pribadi manusia.

Orang dikhianati akan sakit hati dan orang yang berkhianat juga akan merasa tidak aman serta merasa bersalah setiap saat. Pengkhianatan akan meninggalkan luka yang mendalam, sehingga sulit untuk disembuhkan. Saya heran, kenapa manusia masih saja suka melakukan hal yang nista ini.

Photo credit: Mathias Hariyadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here