Bahagia tak Akan Sirna

0
167 views
Ilustrasi: Hidup bahagia. (Ist)

SETIAP orang layak untuk berbahagia dan mengupayakan bahagianya sendiri. Takaran dan ukuran bahagia setiap orang tidak sama.

Mendapatkan pita rambut ungu semeter dua puluh rupiah saat kanak bisa membuat Reva memeluknya penuh bahagia dalam tidurnya. Menerima sepotong semangka merah yang sangat diinginkan di tengah panas terik membuat Reva tak bisa melupakan bahagia kanaknya itu.

Namun perjalanan hidup memang seperti air, mengalami pasang surut, melewati jalur sungai yang landai, namun kadang berkelok dengan harus terjun dalam pusaran yang bergelombang.

Hidup bahagia dengan keli ‘hanyut’, apalagi ngeli ‘menghanyutkan diri’ tentunya tak akan bisa abadi. Walaupun memang saat tertentu harus juga keli ‘hanyut’ karena tak punya kuasa untuk melawannya,  tetapi harus sadar dan cerdas agar tidak terhanyut dan hidup jadi mawut.

Reva harus menuntun Hera agar tidak kembali ke jalan yang salah dan berakibat bubrah.

***

Menatap Hera dalam tidurnya membuat Reva nggrantes. Mengapa Hera bisa menjadi duplikat ibunya. Pengampunan atas perlakuan ibunya saat akhir hidupnya yang tragis dengan tubuh terbakar, kelihatannya perlu dibongkar. Masa lalu ibunya harus diurai lagi.

Hal itu diketahui Reva dari Mbak Wied yang selama ini mendampingi Hera. Terungkap dari laporan psikiater yang menangani Hera yang mengatakan bahwa Hera pengidap hiperseks (hypersexual disorder) pada perempuan disebut nymphomania.

Beberapa kali saat Hera menginap memang ada hal yang sangat meresahkan Reva. Dalam tidurnya sering kali Hera bertingkah seperti orang berhubungan seks dengan tingkah dan lenguhan liar.

Atau beberapa kali tengah malam ia mandi dengan alasan kegerahan, bahkan beberapa kali dalam semalam. Ternyata cara itu yang dipakai Hera untuk mengendalikan dorongan seksualnya.

Apakah kerusakan vagina dan rektum Reva akibat aktivitas seksual karena kecanduannya, selain sebagai tempat penyelundupan narkoba?

Hal itu membuat Reva menjadi sedih.

Belum ada kajian penyebab dan cara penanganan hiperseks, sehingga Reva bingung mencari cara ”mengobati” Hera.

Langkah awal adalah mencari akar permasalahan dan masa lalu yang mungkin menyebabkan hal itu terjadi. Reva harus menemui Pak Amran untuk menanyakan keadaan ibunya dulu dan menjumpai dokter Ria  menangani ibunya di RSJ.

***

”Besok Kakek ke Surabaya, mau check up di dokter Sutomo,  sekalian ngecek apartemen,” pesan dari Pak Amran pagi ini menghampiri HP Reva.

“Baik Kek. Kita bertemu. Apakah Kakek mau nyekar juga?,” balas Reva.

“Bisa kamu menemaninya?,” tanya Pak Amran.

”Bisa, saya siapkan bunganya. Kakek mau bertemu dengan Hera?,” tanya Reva.

”Boleh, ajaklah besok,” jawab Pak Amran.

”Baiklah.  Sampai bertemu besok ya Kek,” Reva menutup pembicaraan.

Ia lebih suka berbicara langsung daripada lewat tulisan yang tidak bisa melihat dan menampilkan ekspresi malahan bisa menimbulkan salah paham.

Hera saat ini dengan ikut kejar paket C di sebuah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) agar bisa mengikuti ujian persamaan dan mendapatkan ijazah SMA.

Karena Reva tetap tinggal di susteran, hanya kadang-kadang saja Hera menginap. Sehari-hari Hera tinggal bersama Mbak Wied di biro psikologi sebagai tenaga serabutan.

Yang paling banyak dilakukan adalah mendampingi anak-anak dan melatih membuat miniatur berbagai barang dengan plastisin.

Selain itu juga menerima pesanan pembuatan suvenir pernikahan. Selain mendapatkan pendampingan psikologis, Hera juga dalam perlindungan polisi kalau sewaktu-waktu kelompok Birawa mencarinya.

Lewat Mbak Wied, Reva berpesan bahwa besok Hera diajak ke Surabaya, akan dijemput pukul 10.00. Hera memang tidak memegang HP, karena HP-nya disita Reva. Sejak ketahuan HP-nya berisi film porno yang berisi ratusan adegan seksual dengan berbagai posisi, pasangan, tempat, dan negara yang ditontonnya sepanjang ada waktu luang.

Cara mengurangi dorongan seks dan masturbasi adalah mengalihkan pikiran ke hal-hal yang positif dan mendapatkan pendampingan.

Untuk berkomunikasi memang harus lewat perantara. Cara ini ternyata berdampak positif terhadap perilaku Hera.

***

Pak Amran sangat kaget begitu bertemu dengan Hera. Matanya selalu menatap Hera sambil berkali-kali menarik napas panjang. Reva hanya menunggu penjelasan kakeknya. Tidak perlu dipaksa.

Mereka pergi bertiga ke makam. Reva harus menjelaskan bahwa itu makam ibunya dan adiknya. Bahwa ibunya sudah meninggal Hera sudah tahu.

Ini pertama kalinya ia mengunjungi makamnya. Namun keberadaan adiknya, Hera tidak tahu. Selesai nyekar, mereka menikmati makan siang di ayam bakar Primarasa, setelah itu mereka akan mengunjungi dokter Ria di RSJ Menur.

Dokter Ria juga terkejut waktu dari balik punggung Reva, Hera memperkenalkan diri.

”Ini adikmu yang kau cari? Sungguh duplikat Bu Suriantini. Apa kabar?,” tanya Dokter Ria penuh keramahan.

”Baik,” jawab Hera dengan pelan.

”Berkasnya sudah saya siapkan, silakan dibaca,” kata Dokter Ria sambil menyerahkan berkas data pasien, seperti yang diminta Reva beberapa waktu lalu.

Benar. Ibunya memang pengidap hiperseks. Ada yang mengganjal dalam benak Reva, apakah kelainan itu menurun kepada Hera.

Itu yang akan ditanyakan Reva kepada dokter Ria. Tetapi dokter Ria juga tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Bukan menurun, melainkan berkecenderungan apabila mereka hidup bersama.

Kenyataannya Hera belum pernah hidup bersama dengan ibunya. Dalam catatan dokter Ria ditemukan surat terpisah, tulisan tangan yang berbeda.

Ternyata itu surat Pak Amran yang menceritakan bahwa beberapa kali Ibu Suriantini  berusaha ”memperkosa”-nya, sehingga mengirimnya ke rumah sakit ini.

Menjadi jelas kagetnya Pak Amran ketika bertemu Hera tadi. Tidak perlu lagi meminta penjelasan.

Menunggu Hera yang sedang berkonsultasi dengan Dokter Ria. Pak Amran berada di pojok taman RSJ itu sambil mengenang ibunya yang pernah mendiami tempat itu.

Pak Amran bisa memahami betapa menderitanya Reva menghadapi adik yang berkelainan seperti ibunya. Pak Amran menggenggam kedua tangan Reva.

”Kau cucuku yang tabah dan kuat. Jangan menyerah. Kakek selalu mendoakanmu,” kata-kata Pak Amran menguatkan Reva dengan semakin mengeratkan genggamannya.

”Ada kesadaran bahwa ada yang salah dan mau berobat adalah setengah kesembuhan. Hera pasti sembuh,” tandas Pak Amran.

Lega rasanya tanpa banyak kata Reva mendapatkan penguatan.

”Kakek harus tetap sehat dan kuat juga, agar Reva bisa berlindung dan bernaung bila lemah dan goyah,” kata Reva.

“Hus, berlindung dan bernaung, berserah dan berpasrah itu hanya boleh kepada Allah,” kata Pak Amran.

***

Gambaran kondisi Hera yang sudah dikirim Reva lewat surel beberapa waktu lalu memudahkan Dokter  Ria menangani Hera. Konsultasi selama hampir dua jam membuat semua pihak lega.

Walau ada sisa air mata di wajah Hera, namun senyumnya menyejukkan hati Reva.

“Silakan kembali sebulan lagi ya. Ini surat untuk Bu Widiandini, M.Si. Psi. Dia yang akan melanjutkan pendampingan kepada Hera,” jelas Dokter Ria sambil mengulurkan amplop besar kepada Reva.

Reva berjanji akan menghadirkan bahagia dalam hidup Hera. Mereka diantar Pak Amran dengan sopirnya tentunya ke biro travel.

Reva dan Hera sudah memesan tiket travel untuk petang itu. Karena masih ada waktu, mereka mampir ke rawon nguling.

Pak Amran menyukai rawon ini karena empalnya yang empuk dan perkedelnya yang gurih. Melihat Hera dengan rakusnya menghabiskan dua porsi rawon dan tiga empal, Reva tersenyum.

”Nagamu kelaparan banget, ya?,” kelakar Reva.

”Iya, Mbak, habis enak banget. Maaf Kek, aku memang makannya banyak, apalagi kalau enak banget seperti ini,” jelas Hera sambil tersipu malu.

”Mau kubelikan sekalian penjualnya?m” jawab Pak Amran dengan gembira.

”Tidak Kek, cukup ini pengalaman pertamaku makan nasi rawon nguling, jadinya kalap. Kalaparan, alias memang njremba he… he…. he…,” jawab Hera.

”Syukurlah. Terima kasih Tuhan,” dalam hati Reva berdoa melihat mata cerah dan kegembiraan Hera.

Dalam mobil travel, mereka menonton film Korea yang digilai Hera dan Felia. Reva pun bisa menikmati film yang bertabur wajah cantik dan tampan.

Walaupun dalam pandangan Reva wajah mereka seragam, sebagai hasil oplas.

Dipeluknya Hera dan dibisikkannya doa singkat.

“Tuhan ajarlah Hera untuk selalu bersyukur atas karunia-Mu yang luhur. Baruilah hatinya agar bisa menerima cinta-Mu dan membagikannya kepada sesama. Amin”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here